Mengenal Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional dari Bumi Tambun Bungai

 Berkas:Tjilik Riwut.jpg - Wikipedia

PALANGKA RAYA – Sosok Marsekal Pertama TNI (HOR) (Purn) Anakletus Tjilik Riwut merupakan figur monumental dalam sejarah perjuangan dan pembangunan Kalimantan Tengah. Lahir pada 2 Februari 1918 di Kasongan, Kabupaten Katingan, Tjilik Riwut tumbuh sebagai anak rimba yang mencintai alam serta memegang teguh nilai-nilai adat Dayak Ngaju. Ia menempuh pendidikan dasar di kampung halamannya, kemudian melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa, tepatnya di Sekolah Perawat Purwakarta dan Bandung. Jiwa petualang dan nasionalismenya tumbuh sejak muda, terbukti dari pengalamannya mengelilingi Pulau Kalimantan sebanyak tiga kali menggunakan perahu, rakit, serta berjalan kaki.

Tjilik Riwut dikenal luas bukan hanya sebagai tokoh Dayak, melainkan pejuang kemerdekaan yang turut berperan besar dalam mempertahankan Republik Indonesia. Ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian diangkat sebagai pemimpin pasukan MN 1001 yang melaksanakan operasi penerjunan pasukan payung pertama dalam sejarah TNI Angkatan Udara pada 17 Oktober 1947. Operasi tersebut menjadi tonggak sejarah terbentuknya Pasukan Khas TNI AU (Paskhas). Pada masa itu, pangkatnya adalah Mayor TNI sebelum akhirnya mencapai pangkat terakhir dengan dianugerahkan secara kehormatan sebagai Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU.

Perjuangan Tjilik Riwut melampaui batas etnis dan geografis. Ia menjadi penghubung antara rakyat Kalimantan dan Pemerintah Republik Indonesia yang kala itu masih berjuang mempertahankan kedaulatan. Dalam pertemuan adat bersejarah di Gedung Agung Yogyakarta pada 17 Desember 1946, ia mewakili 185.000 rakyat yang terdiri dari 142 suku Dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih, serta 2 tumenggung untuk menyatakan sumpah setia kepada Presiden Soekarno. Kesetiaan itu menjadi simbol bersatunya Kalimantan ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah masa perjuangan bersenjata berakhir, Tjilik Riwut beralih ke bidang pemerintahan dan pembangunan daerah. Ia sempat menjabat sebagai Wedana Sampit, kemudian Bupati Kotawaringin, sebelum dipercaya menjadi Gubernur Kalimantan Tengah kedua pada periode 1958–1967. Dalam masa kepemimpinannya, ia berperan penting dalam pembangunan Kota Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi yang menjadi simbol kemajuan Kalimantan Tengah. Ia juga ditunjuk sebagai Koordinator Masyarakat Suku-Suku Terasing se-Kalimantan serta sempat menjadi anggota DPR RI.

Selain dikenal sebagai pemimpin karismatik dan pejuang, Tjilik Riwut juga aktif menulis karya-karya ilmiah dan sastra mengenai kebudayaan Dayak serta pembangunan Kalimantan. Beberapa karyanya antara lain Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Kalimantan Memanggil (1958), Memperkenalkan Kalimantan Tengah dan Pembangunan Kota Palangka Raya (1962), Manaser Panatau Tatu Hiang (1965), dan Kalimantan Membangun (1979). Tulisan-tulisannya menjadi sumber penting bagi generasi muda untuk memahami identitas dan sejarah daerah.

Pada 17 Agustus 1987, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI, Tjilik Riwut wafat pada usia 69 tahun akibat penyakit liver. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya. Sebagai bentuk penghormatan, namanya diabadikan untuk Bandara Tjilik Riwut dan jalan utama di Palangka Raya. Atas jasa-jasanya, Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 108/TK/Tahun 1998 tanggal 6 November 1998. Warisan perjuangan dan keteladanan Tjilik Riwut akan senantiasa hidup dalam ingatan masyarakat Kalimantan Tengah sebagai simbol keberanian, kebijaksanaan, dan cinta tanah air.

(Rabu, 8 Oktober 2025/adminwkp)

Komentar