Maraknya Siswa Membawa Vape dan Rokok di Lingkungan Sekolah, Guru di Palangka Raya Sampaikan Kekhawatiran
![]() |
| Ilustrasi |
Fenomena siswa SMA yang membawa vape atau rokok ke lingkungan sekolah semakin marak di Palangka Raya. Hal ini menimbulkan keprihatinan di kalangan guru dan masyarakat yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap kesehatan dan perilaku para remaja tersebut.
Seorang guru di Palangka Raya, yang enggan disebutkan namanya, menuturkan bahwa tren membawa vape atau rokok di kalangan siswa menjadi permasalahan yang mengkhawatirkan. Ia mengungkapkan bahwa semakin banyak siswa yang diam-diam membawa vape atau rokok ke sekolah, meskipun penggunaan barang tersebut dilarang keras di lingkungan pendidikan. “Ini bukan hanya tentang pelanggaran aturan sekolah, tetapi juga tentang dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental mereka,” ungkapnya.
Menurut guru tersebut, penggunaan vape dan rokok di kalangan siswa seringkali disebabkan oleh pengaruh pergaulan dan media sosial yang membuat remaja semakin penasaran untuk mencoba hal-hal baru, termasuk produk tembakau elektronik. Ia menambahkan bahwa kebiasaan merokok atau menggunakan vape pada usia remaja dapat menimbulkan ketergantungan serta berpotensi merusak kesehatan mereka dalam jangka panjang.
Guru tersebut menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan mudahnya akses informasi di media sosial turut berperan dalam memengaruhi perilaku siswa. Berbagai konten di media sosial yang menggambarkan penggunaan vape atau rokok dengan cara menarik seringkali memicu rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba. "Banyak dari mereka terpengaruh oleh konten yang mereka lihat di media sosial. Mereka menganggap vape atau rokok sebagai sesuatu yang keren atau dewasa, padahal dampaknya sangat merugikan," jelasnya.
Selain itu, pergaulan di luar lingkungan sekolah sering kali mendorong para siswa untuk mencoba vape atau rokok. Tekanan dari teman sebaya untuk "menyesuaikan diri" dapat membuat siswa merasa terdorong untuk ikut-ikutan, bahkan jika mereka tahu bahaya di balik kebiasaan tersebut.
Guru tersebut juga mengungkapkan bahwa kebiasaan merokok atau menggunakan vape tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada prestasi dan disiplin siswa di sekolah. Ia menekankan bahwa siswa yang terbiasa merokok atau menggunakan vape cenderung mengalami penurunan konsentrasi dalam belajar dan menjadi kurang disiplin dalam menjalankan tugas-tugas sekolah. "Beberapa siswa yang kami temui sering mengabaikan pelajaran dan lebih banyak meluangkan waktu untuk mencari kesempatan menggunakan vape atau rokok di area yang tersembunyi," katanya.
Selain itu, perilaku ini juga dapat memengaruhi suasana sekolah secara keseluruhan. Guru tersebut menuturkan bahwa adanya siswa yang merokok atau menggunakan vape sering kali memicu siswa lain untuk ikut mencoba, sehingga menciptakan lingkungan yang kurang kondusif bagi pembelajaran.
Guru tersebut menekankan bahwa peran orang tua sangat penting dalam mencegah kebiasaan merokok atau menggunakan vape pada siswa. Ia berharap agar orang tua lebih memperhatikan perilaku anak-anak mereka di rumah dan memberikan edukasi mengenai bahaya merokok sejak dini. “Orang tua perlu melakukan pengawasan yang lebih ketat dan memberikan pemahaman tentang risiko kesehatan yang mereka hadapi jika mencoba rokok atau vape,” ujarnya.
Pihak sekolah juga dinilai perlu memperketat aturan terkait larangan membawa vape atau rokok ke lingkungan sekolah, dengan melakukan pemeriksaan rutin dan memberikan sanksi tegas kepada siswa yang melanggar. "Kami berharap sekolah dapat bekerja sama dengan pihak terkait untuk menerapkan aturan yang lebih tegas dan melakukan sosialisasi secara berkala mengenai bahaya rokok dan vape di kalangan siswa," tambahnya.
Dalam menghadapi masalah ini, diperlukan langkah-langkah edukasi yang komprehensif, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Program penyuluhan kesehatan yang melibatkan pihak sekolah, dinas kesehatan, serta organisasi masyarakat dapat menjadi solusi untuk menyampaikan informasi mengenai dampak negatif dari penggunaan vape dan rokok. Dengan memberikan pemahaman yang mendalam, diharapkan siswa lebih sadar akan bahaya yang mereka hadapi.
Guru tersebut menutup dengan harapan agar semua pihak dapat berperan aktif dalam mengatasi maraknya penggunaan vape dan rokok di kalangan siswa SMA di Palangka Raya. “Ini adalah tanggung jawab bersama, baik orang tua, guru, maupun masyarakat, untuk menciptakan generasi muda yang sehat dan bebas dari pengaruh negatif seperti vape dan rokok,” pungkasnya.


Komentar
Posting Komentar