Tugu Soekarno: Penanda Sejarah dan Semangat Pembangunan Kota Palangka Raya

Tugu Sukarno, Tiang Pancang Pembangunan Kota Palangka Raya
Sumber (Detikcom)

PALANGKA RAYA — Monumen Tugu Soekarno yang berdiri megah di pusat Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, bukan sekadar objek wisata sejarah, melainkan juga simbol awal dimulainya pembangunan kota tersebut. Monumen ini didirikan langsung oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Dr. (H.C.) Ir. Soekarno, pada 17 Juli 1957, menandai babak baru dalam sejarah perencanaan kota modern di jantung Pulau Kalimantan. Hingga kini, keberadaan tugu tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas kultural dan historis masyarakat Kalimantan Tengah.

Sebagai bangunan monumental, Tugu Soekarno tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam. Angka 17 yang tercantum pada tugu mengacu pada tanggal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu 17 Agustus. Tugu yang berbentuk api menyimbolkan kobaran semangat kemerdekaan yang tak pernah padam, sedangkan 17 pilar yang mengelilinginya menggambarkan alat perjuangan bangsa. Desain segi lima dari tugu merepresentasikan nilai-nilai luhur Pancasila, dengan dasar keyakinan spiritual yang kuat, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tokoh masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, Hirwan, menyampaikan bahwa Tugu Soekarno memiliki makna mendalam bagi masyarakat lokal, terutama sebagai pengingat kolektif atas lahirnya Kota Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi. Ia menekankan pentingnya monumen tersebut dalam menjaga ingatan sejarah mengenai perjuangan pemisahan Kalimantan Tengah dari Kalimantan Selatan. “Kita diingatkan melalui Tugu Soekarno bagaimana Kota Palangka Raya terbentuk, serta bagaimana para pendahulu dan pahlawan kita membangun Provinsi Kalimantan Tengah dan memisahkannya dari Kalimantan Selatan,” ujarnya pada Jumat (1/8/2025).

Lebih lanjut, Karliansyah juga menilai bahwa keberadaan tugu tersebut tidak bisa dilepaskan dari visi besar Dr. (H.C.) Ir. Soekarno yang pernah memimpikan Palangka Raya sebagai model ideal ibu kota negara masa depan. Impian tersebut bukan semata retorika, melainkan bagian dari strategi pembangunan nasional yang berkeadilan secara geografis dan sosial. Letaknya yang berada di tengah Indonesia dan dekat dengan Sungai Kahayan memperkuat alasan strategis dipilihnya kawasan ini.

Sementara itu, suara generasi muda juga tak kalah penting dalam melihat peran simbolik Tugu Soekarno. Pebri, seorang mahasiswa dari salah satu universitas di Palangka Raya, menyatakan bahwa tugu tersebut menjadi pengingat penting bagi kalangan muda terhadap sejarah perjuangan para pendiri bangsa. “Selain menjadi tempat bersantai bagi kawula muda Kalimantan Tengah, Tugu Soekarno juga merupakan simbol sejarah yang mengingatkan kita akan pentingnya perjuangan dan semangat membangun daerah ini,” katanya.

Menurut Pebri, kesadaran historis melalui monumen seperti Tugu Soekarno harus terus dikembangkan dalam ruang-ruang publik, termasuk melalui pendidikan formal maupun kegiatan komunitas. Ia menilai, pelestarian nilai-nilai sejarah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga tugas kolektif seluruh warga kota, khususnya kaum muda yang akan melanjutkan estafet pembangunan Kalimantan Tengah.

Keberadaan Tugu Soekarno di pusat kota turut menjadi daya tarik wisata sejarah bagi pengunjung dari berbagai daerah. Monumen ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat refleksi sejarah, tetapi juga menjadi ruang sosial masyarakat untuk berinteraksi, menggelar kegiatan budaya, atau sekadar menikmati suasana tepian Sungai Kahayan. Dalam berbagai momentum peringatan nasional, Tugu Soekarno selalu menjadi salah satu titik sentral kegiatan seremonial yang menghidupkan kembali semangat patriotisme lokal.

Sebagai ikon kota, monumen ini telah menjadi bagian dari identitas visual Palangka Raya, bahkan muncul dalam berbagai representasi grafis, produk kreatif, hingga simbol institusi daerah. Perawatannya kini menjadi perhatian lintas sektor, baik pemerintah daerah, komunitas budaya, maupun akademisi, yang mengakui pentingnya menjaga situs sejarah tersebut sebagai warisan bangsa.

Tugu Soekarno bukan sekadar batu dan beton, tetapi narasi hidup tentang bagaimana sebuah kota dibangun atas dasar mimpi besar, semangat persatuan, dan idealisme kebangsaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks kekinian, monumen ini terus menjadi sumber inspirasi untuk menggerakkan pembangunan berkelanjutan, berkeadilan, dan berakar kuat pada sejarah lokal.

Sabtu, 2 Agustus 2025/adminwkp

Komentar