Pentingnya Produktif serta Kurangnya Kemandirian Ekonomi Remaja di Palangka Raya Jadi Sorotan: Ini Penyebabnya
![]() |
| Ilustrasi |
PALANGKA RAYA — Kota Palangka Raya sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah tengah mengalami fenomena sosial yang memprihatinkan, khususnya dalam konteks produktivitas ekonomi remaja dan pemuda. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah generasi muda usia 15 hingga 30 tahun yang tidak terlibat aktif dalam kegiatan ekonomi produktif, baik dalam bentuk pekerjaan formal, wirausaha, maupun kegiatan freelance. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap masa depan daya saing ekonomi lokal serta stabilitas sosial masyarakat urban.
Kemandirian ekonomi remaja mengacu pada kemampuan individu muda untuk menghasilkan pendapatan secara mandiri dan berkontribusi terhadap perekonomian keluarga maupun masyarakat. Idealnya, kelompok usia ini memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung pembangunan karena berada pada fase puncak energi, kreativitas, dan kesiapan belajar. Namun, di Palangka Raya, realitas menunjukkan bahwa sebagian besar remaja justru tergolong tidak produktif secara ekonomi, dan hal ini bukan semata-mata karena minimnya lapangan kerja, melainkan karena sejumlah faktor struktural dan kultural yang saling berkaitan.
Pertama, tingginya ketergantungan terhadap keluarga menjadi penyebab utama rendahnya motivasi untuk mandiri secara ekonomi. Pola asuh yang terlalu permisif atau protektif mendorong remaja tidak terbiasa mengambil keputusan ekonomi sendiri, termasuk dalam hal mencari penghasilan tambahan. Banyak keluarga yang masih menganggap bahwa tugas utama remaja hanyalah belajar atau sekolah, sehingga aktivitas ekonomi dianggap sebagai distraksi yang harus dihindari. Akibatnya, remaja tumbuh tanpa keterampilan dasar dalam mengelola keuangan, berwirausaha, atau menjalin koneksi kerja.
Kedua, kurangnya akses terhadap pendidikan keterampilan non-formal menyebabkan minimnya kesiapan kerja di kalangan remaja. Meskipun angka partisipasi sekolah menengah cukup tinggi di Palangka Raya, namun materi pendidikan formal masih belum sepenuhnya membekali siswa dengan kemampuan praktis seperti manajemen usaha, teknologi digital, pemasaran online, atau literasi finansial. Banyak lulusan SMA atau SMK yang tidak siap langsung bekerja atau berwirausaha karena belum memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar lokal maupun digital.
Ketiga, pengaruh budaya konsumtif dan gaya hidup instan turut memperburuk kondisi produktivitas remaja. Kehadiran media sosial dan budaya populer mendorong gaya hidup glamor tanpa proses kerja keras yang memadai. Sebagian besar remaja lebih fokus mengejar citra digital daripada membangun keterampilan ekonomi riil. Kecenderungan untuk membelanjakan uang daripada menginvestasikan waktu untuk belajar atau bekerja secara mandiri menciptakan siklus ketergantungan ekonomi yang tidak produktif. Hal ini makin parah ketika remaja mulai mengasosiasikan kerja keras sebagai sesuatu yang kuno dan tidak menarik secara sosial.
Keempat, lemahnya ekosistem pendukung kewirausahaan muda di tingkat lokal menjadi penghambat utama bagi anak muda yang sebenarnya memiliki minat untuk mandiri. Kurangnya akses terhadap modal usaha, minimnya pelatihan gratis, serta belum adanya inkubator bisnis khusus untuk usia remaja membuat inisiatif ekonomi mandiri sulit berkembang. Sementara itu, birokrasi pengajuan bantuan UMKM seringkali mensyaratkan dokumen administratif dan usia minimal tertentu, yang secara tidak langsung menutup peluang bagi pemula berusia muda.
Kelima, belum tumbuhnya budaya kerja sejak dini menyebabkan rendahnya etos produktif di kalangan remaja. Di banyak negara berkembang, remaja sudah dilatih untuk bekerja paruh waktu sejak usia sekolah menengah sebagai bagian dari pembelajaran kemandirian. Namun di Palangka Raya, stigma negatif terhadap pekerjaan informal masih kuat. Aktivitas seperti berdagang kecil-kecilan, menjadi kurir, atau menawarkan jasa daring dianggap bukan pilihan prestisius bagi kalangan pelajar atau mahasiswa, sehingga tidak dijadikan alternatif pembelajaran ekonomi praktis.
Keenam, kurangnya contoh figur muda lokal yang sukses secara mandiri menjadi penghalang inspiratif bagi remaja lainnya. Meskipun terdapat beberapa pemuda kreatif dan pelaku UMKM dari generasi muda, namun profil mereka belum banyak diangkat oleh media lokal atau lembaga pendidikan sebagai role model yang relevan. Ketika remaja tidak memiliki sosok panutan nyata yang bisa diteladani, maka motivasi untuk bekerja atau berwirausaha juga menjadi tumpul dan minim aspirasi.
Ketujuh, faktor lingkungan sosial yang pasif dan kurang suportif turut berkontribusi dalam membentuk mentalitas remaja yang enggan mencoba tantangan ekonomi baru. Lingkungan pertemanan yang tidak mendorong produktivitas, ditambah minimnya ruang publik yang mendukung interaksi kreatif dan kolaboratif, menyebabkan potensi ekonomi remaja tidak tersalurkan. Banyak remaja yang akhirnya menghabiskan waktu luang hanya untuk aktivitas hiburan semata tanpa arah ekonomi yang jelas.
Kedelapan, ketimpangan akses digital antar wilayah dalam kota masih menjadi persoalan teknis yang membatasi peluang ekonomi daring. Meskipun Palangka Raya tergolong kota digital di tingkat provinsi, namun distribusi infrastruktur internet belum merata di seluruh kecamatan. Hal ini berdampak pada keterbatasan remaja untuk menjangkau peluang freelance online, belajar bisnis digital, atau mengakses pelatihan daring yang sebenarnya sangat strategis untuk pengembangan kemandirian ekonomi di era digital.
Kesembilan, tekanan ekonomi keluarga dalam kelompok masyarakat menengah ke bawah justru membuat sebagian remaja harus berhenti sekolah atau fokus membantu kebutuhan rumah tangga, tanpa sempat membangun kapasitas produktif jangka panjang. Beban ekonomi ini menyebabkan mereka bekerja seadanya tanpa orientasi masa depan yang berkelanjutan. Alih-alih menjadi mandiri, mereka justru terperangkap dalam lingkaran kerja informal tanpa pelatihan, pendampingan, atau kemajuan karier.
Kesepuluh, minimnya dukungan pemerintah dalam menyusun kebijakan khusus untuk pemberdayaan ekonomi remaja mengindikasikan bahwa segmen ini belum diprioritaskan dalam agenda pembangunan daerah. Meski terdapat program pelatihan keterampilan bagi pemuda dari dinas terkait, namun kegiatan tersebut cenderung bersifat seremonial, tidak berkelanjutan, serta belum menyentuh kebutuhan nyata remaja di tingkat akar rumput. Tanpa strategi yang spesifik dan berorientasi jangka panjang, upaya meningkatkan kemandirian ekonomi remaja akan tetap terbatas pada retorika.
Fenomena rendahnya produktivitas ekonomi remaja di Palangka Raya harus menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk keluarga, sekolah, pemerintah, dan komunitas lokal. Kemandirian ekonomi bukan semata soal penghasilan, melainkan juga menyangkut harga diri, kepercayaan diri, serta kesiapan mental untuk menghadapi masa depan. Jika tidak segera ditangani secara sistematis, maka potensi demografi muda yang besar di Palangka Raya akan berubah menjadi beban sosial yang mempersulit proses pembangunan berkelanjutan.
Rabu, 31 Juli 2025/adminwkp



Komentar
Posting Komentar