Penjualan Binder Clip di Palangka Raya Naik Drastis, Salah satu Toko di Palangka Raya Catat Lonjakan 150 Unit per Hari

 Promo Bantex Multiring Binder 26 Ring 25mm B5 Red #1326 09 - Kab. Bogor -  Bantex Indonesia | Tokopedia

Palangka Raya — Penjualan binder buku di Kota Palangka Raya mengalami lonjakan signifikan menjelang awal perkuliahan semester ganjil. Salah satu toko alat tulis di Jalan K.S. Tubun mencatat peningkatan transaksi harian dari semula 30–50 unit menjadi 100 hingga 150 unit per hari. Kenaikan tajam ini disinyalir berkaitan langsung dengan kebutuhan mahasiswa dalam menyusun catatan kuliah, materi presentasi, serta dokumen organisasi kampus.

Pemilik Toko ATK di jalan K. S Tubun menyatakan bahwa tren kenaikan mulai terasa sejak pekan ketiga Juli 2025 dan terus berlanjut hingga memasuki awal Agustus. Menurutnya, sebagian besar pembeli merupakan mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang sedang mempersiapkan materi perkuliahan, lembar kerja praktikum, serta portofolio akademik.

“Awalnya stok binder kami isi sekitar tiga kardus per minggu, tapi sekarang harus tambah sampai delapan kardus. Model yang paling laku itu binder A5 dan B5 isi refill, apalagi yang cover-nya motif marble, minimalis, atau transparan,” ungkap Ahmad saat ditemui pada Senin (4/8). Ia juga menambahkan bahwa konsumen kini cenderung memilih binder daripada buku tulis konvensional karena kemudahan dalam menyusun, menambah, atau mengurangi isi halaman tanpa merusak struktur dokumen.

Binder buku umumnya digunakan mahasiswa untuk menyimpan handout, catatan dosen, serta hasil cetakan tugas. Ukuran dan model yang beragam memungkinkan penyesuaian berdasarkan kebutuhan. Menurut Ahmad, jenis binder A5 lebih cocok untuk mahasiswa jurusan non-teknik yang lebih sering mencetak materi singkat seperti esai atau artikel. Sedangkan ukuran B5 dan A4 banyak dipilih oleh mahasiswa teknik atau keperawatan yang memerlukan lembar kerja panjang serta grafik praktikum.

“Yang model kancing magnet, karet silang, atau resleting juga laris karena selain tampak rapi, fungsional buat dibawa ke mana-mana. Harga berkisar antara Rp10.000 sampai Rp45.000 tergantung bahan dan merek. Favorit pembeli sekarang ini yang cover-nya dari bahan kulit sintetis atau polikarbonat tebal,” jelasnya.

Kondisi tersebut turut dibenarkan oleh beberapa mahasiswa Universitas Palangka Raya. Salah satunya, Putri—mahasiswa semester lima—mengaku lebih senang menggunakan binder karena memudahkan proses pembagian materi berdasarkan mata kuliah. “Kalau pakai binder bisa pisah-pisah isi sesuai mata kuliah, tinggal lepas dan isi ulang. Lebih praktis juga buat disusun rapi, dosen jadi lebih mudah koreksi,” katanya.

Fenomena ini juga menarik perhatian komunitas belajar mandiri dan organisasi kampus. Sejumlah kelompok belajar bahkan secara kolektif membeli binder dalam jumlah besar untuk keperluan seminar internal atau distribusi materi pelatihan. Binder juga dipilih sebagai media penyimpanan proposal kegiatan karena tampilannya yang dinilai lebih profesional dibanding map biasa.

Ahmad memberikan panduan sederhana dalam memilih binder yang sesuai kebutuhan perkuliahan. Untuk mahasiswa yang memiliki banyak mata kuliah dengan beban cetak ringan, disarankan menggunakan binder ukuran A5 isi 20–40 lembar agar tidak terlalu berat dibawa. Namun bagi mahasiswa yang intens mencetak laporan praktikum, ukuran B5 atau A4 isi 80–100 lembar menjadi pilihan ideal. “Kalau terlalu tebal nanti cepat rusak, apalagi kalau kualitas ring dalamnya dari besi biasa, bisa lepas,” ujarnya.

Ia juga menyarankan agar mahasiswa memperhatikan jenis kertas isi refill yang digunakan. Kertas bergramasi 70–80 gsm lebih ideal agar tidak mudah sobek saat dibuka-tutup. Selain itu, beberapa binder keluaran terbaru telah dilengkapi slot penyimpanan kartu, flashdisk, dan alat tulis kecil yang mempermudah mobilitas mahasiswa.

Tren penjualan ini turut memicu respon pasar dari distributor besar di wilayah Kalimantan Tengah. Ahmad menyebutkan bahwa pasokan binder dari distributor di Banjarmasin dan Surabaya mengalami keterlambatan akibat lonjakan permintaan di berbagai kota kampus. “Kami bahkan diminta pesan satu minggu lebih awal karena banyak toko di kota lain juga alami peningkatan permintaan. Barang-barang yang biasanya dikirim dua hari sekarang bisa sampai lima hari,” paparnya.

Di tengah geliat pembelian tersebut, beberapa toko mulai berinovasi dengan menjual paket bundling binder dan isi refill, termasuk penawaran diskon bagi pembelian dalam jumlah besar. Konsumen juga bisa memilih binder yang sudah disesuaikan berdasarkan fakultas atau program studi, seperti desain warna tertentu untuk mahasiswa kedokteran, teknik, maupun sosial-humaniora.

Melihat potensi pasar yang masih terbuka, Ahmad berencana memperluas kategori produk binder, termasuk memasarkan binder berbahan daur ulang sebagai alternatif ramah lingkungan. “Ke depan kami ingin sediakan produk yang lebih tahan lama dan bisa didaur ulang, karena mahasiswa sekarang juga sudah mulai pilih produk yang tidak sekali pakai,” katanya.

Lonjakan permintaan binder buku di Palangka Raya mencerminkan perubahan preferensi konsumen terhadap perlengkapan kuliah yang lebih fungsional dan estetik. Selain mendukung efektivitas belajar, binder juga menjadi simbol keteraturan dalam penyusunan dokumen akademik mahasiswa masa kini.

Selasa, 5 Agustus 2025/adminwkp

Komentar