Pembangunan Ulang Gereja GKE Maranatha Dimulai: Simbol Kebangkitan dari Puing-Puing

PALANGKA RAYA - Setelah melewati serangkaian proses panjang yang penuh dinamika, Majelis Jemaat Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Maranatha di Palangka Raya akhirnya menggelar ibadah kebaktian syukur pada Kamis (31/7). Ibadah ini menandai secara resmi dimulainya pembangunan ulang gedung gereja mereka yang sebelumnya luluh lantak akibat kebakaran hebat yang terjadi pada tahun lalu. Momentum tersebut bukan hanya menjadi simbol keberlangsungan spiritual, namun juga penanda kebangkitan komunitas jemaat dari keterpurukan pascakebakaran.

Bangunan utama gereja yang selama ini menjadi tempat sentral ibadah dan kegiatan umat habis terbakar dalam peristiwa yang mengguncang pada 2023. Tragedi tersebut meninggalkan luka mendalam, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara emosional bagi seluruh jemaat. Namun, dalam peristiwa syukur ini, semangat membangun kembali tampak menggelora, memperlihatkan betapa kekuatan iman dan solidaritas dapat menjadi pondasi yang kokoh untuk memulai kembali dari awal.

Salah satu tokoh penting yang hadir dalam peristiwa tersebut adalah Dr. Agustin Teras Narang, S.H., M.H., Gubernur Kalimantan Tengah 2005–2015 yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Majelis Sinode GKE dan Penasehat Pelaksana Badan Usaha dan Aset Gereja Kalimantan Evangelis. Dalam sambutannya, Teras Narang menyatakan bahwa kebaktian syukur ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan baru GKE Maranatha, sekaligus menjadi momentum penyatuan kembali seluruh potensi umat untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan rumah ibadah mereka.

“Hari ini merupakan kebaktian syukur proses dimulainya pembangunan Gereja GKE Maranatha, jadi kita melaksanakan ibadah kebaktian bersama para jemaat,” ujar Dr. Agustin Teras Narang, S.H., M.H. saat diwawancarai usai ibadah, Kamis (31/7). Ia juga memastikan bahwa seluruh proses perizinan dan administrasi teknis telah rampung, membuka jalan bagi dimulainya pembangunan fisik tanpa hambatan berarti.

Ibadah kebaktian tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh gerejawi, pejabat daerah, dan perwakilan jemaat. Hadir di antaranya Pdt. Dr. Simpon F. Lion, S.Th., M.Th., Ketua IV Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang juga Ketua Umum Majelis Sinode GKE, Dr. Ir. Rawing Rambang, M.P., Ketua Panitia Pembangunan Gereja sekaligus Ketua Pelaksana Badan Usaha dan Aset Gereja Kalimantan Evangelis, serta Asdy Narang, S.H., MCL., Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah. Turut memberikan pelayanan Firman Tuhan, Pdt. Dr. Yuprinadie, S.Th., M.Th., Ketua Majelis Resort GKE Palangka Raya. Hadir pula Harry Araiyanto, S.E., Sekretaris Umum Kerukunan Warga Dayak (KWD) Dusun Maanyan Lawangan (Dusmala), Pnt. Rogas Usup, S.T., Ketua Komisi Pelayanan Bapak Sinode GKE, serta tokoh jemaat dan mantan Ketua Majelis Pertimbangan MJ GKE Langkai, Drs. Selmon K. Adji.

Dalam penyampaian pendapatnya, Dr. Ir. Rawing Rambang, M.P. menjelaskan bahwa pembangunan gereja ini dirancang tidak sekadar untuk menggantikan bangunan lama, melainkan juga sebagai transformasi fasilitas keagamaan yang lebih representatif, aman, dan ramah terhadap berbagai kegiatan pelayanan. “Kita berupaya menjadikan gereja ini sebagai pusat pelayanan umat yang lebih modern tanpa meninggalkan akar spiritualitasnya,” ujarnya.

Dr. Agustin Teras Narang, S.H., M.H. selaku Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Majelis Sinode GKE ketika menyampaikan sambutan

Pendanaan menjadi aspek krusial dalam keberhasilan proyek ini. Berdasarkan data terkini, hasil penggalangan dana dari swadaya internal jemaat GKE Maranatha telah mencapai Rp1,2 miliar. Dana ini kemudian diperkuat secara signifikan oleh dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui bantuan langsung senilai kurang lebih Rp20 miliar. Meski nominal tersebut sudah sangat membantu, Dr. Agustin Teras Narang, S.H., M.H. menegaskan bahwa estimasi total kebutuhan pembangunan masih bersifat dinamis. “Untuk kebutuhan total belum diketahui, sembari melihat proses pembangunan,” tuturnya, menandakan perlunya keluwesan dalam manajemen anggaran proyek ke depan.

Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada Gubernur Kalimantan Tengah saat ini, H. Agustiar Sabran, S.I.Kom., atas dukungan aktif yang telah diberikan. “Kita juga harus berterima kasih atas bantuan Pak Gubernur Kalteng karena telah berkenan membantu proses pembangunan,” tegas Dr. Agustin Teras Narang, S.H., M.H., yang menggarisbawahi peran vital pemerintah dalam menjaga dan mendukung eksistensi rumah-rumah ibadah sebagai simbol harmoni sosial dan budaya.

Disisi lain  Pdt. Dr. Simpon F. Lion, S.Th., M.Th., selaku Ketua IV PGI sekaligus Ketua Umum Majelis Sinode GKE, menyampaikan bahwa ibadah syukur ini bukan hanya seremoni, melainkan representasi iman jemaat yang terus hidup walau sempat dilanda musibah besar. “Titik awal pembangunan kembali ini harus dimaknai sebagai proses iman yang bertumbuh. Rumah ibadah boleh terbakar, tetapi semangat pelayanan dan kasih tidak boleh padam,” tegasnya. Ia juga mengajak seluruh jemaat menjadikan gereja sebagai pusat spiritual sekaligus wadah edukasi dan pemberdayaan sosial.

Dr. Ir. Rawing Rambang, M.P., selaku Ketua Panitia Pembangunan Gereja dan Ketua Pelaksana Badan Usaha dan Aset GKE, menekankan pentingnya transparansi, partisipasi, serta keberlanjutan dalam pembangunan ulang tersebut. “Proyek ini bukan hanya tentang membangun fisik gereja, tetapi juga membangun kembali kepercayaan jemaat dan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya,” ujarnya. Ia mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan menyatakan bahwa pembangunan akan dilaksanakan bertahap berdasarkan kemampuan dan dukungan yang tersedia.

Asdy Narang, S.H., MCL., Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, memaknai kehadirannya sebagai bentuk komitmen pribadi dan institusional terhadap keberlanjutan nilai-nilai keagamaan di Kalimantan Tengah. “Gereja adalah bagian penting dari peradaban masyarakat Dayak Kristen. Dukungan legislatif akan terus diberikan untuk memastikan gereja ini kembali berdiri, lebih kuat dari sebelumnya,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya peran gereja dalam menjaga kohesi sosial dan membentuk karakter generasi muda.

Pdt. Dr. Yuprinadie, S.Th., M.Th., Ketua Majelis Resort GKE Palangka Raya yang juga menyampaikan Firman Tuhan dalam ibadah tersebut, menyatakan bahwa kegiatan ini adalah bentuk aktualisasi iman dalam konteks nyata. “Firman Tuhan hari ini adalah tentang bangkit dari puing-puing. Gereja ini akan menjadi kesaksian bahwa dari kehancuran, Tuhan menumbuhkan kehidupan baru,” katanya dalam khotbahnya. Ia juga mengajak jemaat untuk tidak hanya hadir sebagai penerima, tetapi juga sebagai pelaku aktif pembangunan dan pelayanan.

Harry Araiyanto, S.E., Sekretaris Umum Kerukunan Warga Dayak (KWD) Dusun Maanyan Lawangan (Dusmala), memberikan apresiasi tinggi terhadap sinergi antarumat dan tokoh-tokoh lintas elemen. “Pembangunan gereja ini bukan sekadar urusan internal jemaat, melainkan juga simbol kesatuan dan toleransi. Kami dari KWD Dusmala mendukung penuh dan siap berkolaborasi,” ungkapnya. Ia juga menegaskan bahwa kekuatan budaya Dayak tidak terlepas dari spiritualitas yang harmonis.

Pnt. Rogas Usup, S.T., Ketua Komisi Pelayanan Bapak Sinode GKE, menyoroti pentingnya pelibatan semua unsur pelayanan, terutama kaum bapak, dalam mendukung pembangunan ulang gereja. “Peran kaum bapak bukan hanya dalam hal finansial, tetapi juga dalam membimbing keluarga-keluarga agar tetap setia dalam pelayanan, terutama dalam masa transisi pascabencana ini,” ucapnya. Ia berharap pembangunan gereja ini menjadi momentum untuk menyegarkan kembali semangat pelayanan kaum pria di lingkungan GKE.

Drs. Selmon K. Adji, yang pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan MJ GKE Langkai, hadir mewakili suara jemaat. Ia menyampaikan harapan agar pembangunan ini tidak hanya menekankan sisi material, tetapi juga memperkuat struktur pelayanan dan sistem kaderisasi. “Gereja harus menjadi ruang belajar iman bagi generasi muda. Momentum pembangunan ini adalah kesempatan untuk mereformasi pelayanan agar lebih kontekstual dan relevan,” ujarnya penuh harap.

Pembangunan ulang Gereja GKE Maranatha ditargetkan rampung pada pertengahan tahun 2026. Estimasi waktu ini memperhitungkan kebutuhan teknis, administratif, dan keuangan, sekaligus memberi ruang cukup bagi partisipasi lebih luas dari komunitas dan donatur eksternal. Selain digunakan sebagai tempat ibadah, gereja ini nantinya dirancang memiliki ruang serbaguna yang dapat digunakan untuk kegiatan sosial, pendidikan, serta pelayanan masyarakat lintas denominasi.

Dalam akhir kegiatan, suasana syukur dan haru terasa begitu kuat. Doa bersama dipanjatkan agar proses pembangunan berjalan lancar, aman, dan mencapai hasil maksimal. Tidak hanya struktur bangunan yang dibangun ulang, tetapi semangat pelayanan, keimanan, dan solidaritas juga diperbarui sebagai fondasi kuat menuju masa depan GKE Maranatha yang lebih kokoh dan memberkati banyak jiwa.

Kamis, 31 Juli 2025/adminwkp.


Komentar