Nenie Adriati Lambung Dorong Optimalisasi Budaya Lokal Jadi Kekuatan Ekonomi Baru

PALANGKA RAYA — Wakil Ketua II DPRD Kota Palangka Raya, Nenie Adriati Lambung, S.H., M.A.P. mendorong penguatan sektor pariwisata berbasis budaya lokal sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Palangka Raya merupakan aset strategis yang dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan Nenie pada Selasa (29/7/2025), saat memberikan tanggapan terhadap perlunya diversifikasi ekonomi daerah berbasis kearifan lokal. Ia menyampaikan bahwa berbagai bentuk tradisi, seni, dan ekspresi budaya masyarakat Dayak maupun kelompok etnis lainnya di Palangka Raya tidak hanya mengandung nilai sejarah dan identitas, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata unggulan, bahkan bertaraf internasional. “Budaya lokal adalah aset masa depan yang harus dijaga dan dikembangkan. Jika dikelola dengan baik, wisata budaya bisa menjadi daya tarik unggulan, bahkan skala internasional,” ujarnya.
Nenie menekankan bahwa pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya harus menjadi bagian integral dari perencanaan pembangunan daerah yang berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan budaya sebagai kekuatan ekonomi memerlukan sinergi lintas sektor, termasuk dalam pembangunan infrastruktur pendukung seperti akses transportasi, fasilitas pementasan, hingga ruang kreatif bagi seniman lokal. Ia juga menyoroti perlunya kampanye promosi destinasi budaya secara konsisten, baik melalui media lokal maupun platform digital yang menjangkau pasar nasional dan internasional.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keberadaan pelaku seni dan budaya lokal perlu diperkuat melalui program pemberdayaan dan pendampingan. Pemerintah, menurutnya, tidak cukup hanya memberi ruang, tetapi harus hadir dalam bentuk dukungan nyata yang terukur. “Pemerintah harus hadir memberikan dukungan nyata, mulai dari promosi yang konsisten hingga penyediaan fasilitas yang layak. Tapi masyarakat juga harus terlibat, agar semangat pelestarian budaya tidak hilang di tengah arus modernisasi,” tegasnya.
Dalam pandangannya, kolaborasi antara pelaku budaya, pelaku usaha, serta pemerintah daerah sangat penting untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan adaptif. Ia menyebutkan bahwa UMKM memiliki peran vital dalam mewujudkan nilai-nilai budaya ke dalam produk kreatif, mulai dari kerajinan tangan, kuliner tradisional, hingga pertunjukan seni berbasis komunitas. “Pelestarian nilai-nilai budaya bisa dikemas melalui produk-produk kreatif, pertunjukan seni, dan kegiatan wisata berbasis kearifan lokal. Ini bisa menjadi lapangan kerja baru, khususnya bagi generasi muda kita,” jelasnya.
Lebih jauh, Nenie menyampaikan harapannya agar pengembangan wisata budaya dapat masuk dalam prioritas pembangunan daerah, baik dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) maupun dalam strategi jangka panjang Kota Palangka Raya. Ia menilai bahwa pembangunan berbasis budaya tidak hanya akan menjaga warisan leluhur, tetapi juga menciptakan model ekonomi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. “Budaya lokal tidak hanya tentang masa lalu, tetapi bisa menjadi tumpuan masa depan. Kalau dikelola secara profesional, dampaknya akan sangat terasa bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Pernyataan ini mempertegas arah pembangunan Palangka Raya yang mulai membuka ruang lebih besar bagi pendekatan berbasis kearifan lokal dalam mendorong daya saing daerah, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat identitas budaya di tengah tantangan globalisasi.
Sabtu, 2 Agustus 2025/adminwkp


Komentar
Posting Komentar