Mahasiswa di kota Palangka Raya soroti Isu Pewaris dan Perintis, Tantangan Nyata Generasi Muda dalam Membangun Bisnis

Perintis atau Pewaris, Mana yang Lebih Untung? | Muhammadiyah
Ilustrasi

PALANGKA RAYA — Isu mengenai peran generasi muda dalam dunia usaha, khususnya dikotomisasi antara "pewaris" dan "perintis", terus menjadi perbincangan hangat di kalangan akademisi dan praktisi. Di tengah gencarnya arus digitalisasi serta dinamika ekonomi global, salah satu mahasiswa dari Program Studi Manajemen, Kelas D, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Palangka Raya (UPR) menyampaikan pandangannya terhadap fenomena tersebut.

Mahasiswa tersebut menilai bahwa wacana pewaris dan perintis bukan sekadar narasi sosial, melainkan mencerminkan realitas struktural yang dihadapi oleh generasi muda saat ini. Ia menegaskan, menjadi pewaris bisnis tidak otomatis lebih mudah, sebagaimana menjadi perintis bukan pula selalu heroik. Keduanya memiliki tantangan berbeda, namun sama-sama membutuhkan strategi, ketahanan, serta inovasi yang berkelanjutan.

"Seorang pewaris kadang harus memikul beban ekspektasi besar dari keluarga dan masyarakat, terutama ketika usaha yang diwariskan telah mapan dan punya citra publik," ujarnya dalam sebuah diskusi terbuka kampus, Senin (5/8). Sebaliknya, menjadi perintis menuntut semangat membangun dari nol, merintis jaringan, membentuk pasar, hingga mencari modal yang tidak selalu tersedia.

Ia menjelaskan, mahasiswa generasi saat ini tidak bisa lagi mengandalkan narasi klise tentang kerja keras tanpa memahami realitas industri, tren pasar, dan aspek teknologi digital. Menurutnya, baik pewaris maupun perintis dituntut menguasai literasi manajerial, digitalisasi usaha, hingga etika bisnis yang progresif.

“Kalau kita bicara dari perspektif manajemen, isu ini menyentuh pada bagaimana seseorang mampu melakukan perencanaan strategis jangka panjang, manajemen risiko, serta adaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis,” paparnya lebih lanjut. Ia juga menyoroti bahwa banyak mahasiswa saat ini berada dalam persimpangan antara melanjutkan bisnis keluarga dan membangun usaha baru. Dilema tersebut, katanya, justru harus menjadi katalis untuk pengembangan kapasitas diri, bukan alasan untuk stagnasi.

Dalam konteks kampus, ia mendorong agar kurikulum pembelajaran tidak hanya bersifat teoretis tetapi juga memberi ruang untuk eksplorasi praktik bisnis secara langsung. Ia berharap kampus bisa membuka lebih banyak ruang bagi mahasiswa yang sedang membangun usaha sendiri, termasuk lewat inkubator bisnis dan kolaborasi antarprodi.

Mahasiswa tersebut juga menyatakan bahwa tren "start-up" yang menjamur saat ini bisa menjadi ruang baru bagi para perintis muda, namun perlu ekosistem pendukung yang sehat dan terstruktur. Ia mengingatkan bahwa glorifikasi terhadap keberhasilan perintis seringkali mengabaikan aspek kegagalan yang juga penting untuk dibahas. Sementara di sisi lain, banyak pewaris yang justru melakukan transformasi besar dalam model bisnis warisan mereka agar tetap relevan di pasar modern.

“Tidak semua pewaris pasif, dan tidak semua perintis visioner. Yang paling penting adalah bagaimana generasi muda mampu menciptakan nilai tambah yang konkret dalam setiap langkah usahanya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam membentuk orientasi kewirausahaan mahasiswa, melalui pendekatan multidisiplin yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan budaya. Menurutnya, Indonesia memerlukan lebih banyak anak muda yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisi bisnis keluarga dengan inovasi modern berbasis teknologi dan jejaring global.

Selasa, 5 Agustus 2025/adminwkp

Komentar