Kelurahan Petuk Katimpun Bersiap Hadapi Ancaman Karhutla Musim Kemarau 202
| Ilustrasi |
PALANGKA RAYA – Kelurahan Petuk Katimpun kini berada dalam status siaga menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayahnya. Kelurahan ini tercatat sebagai salah satu daerah rawan kebakaran lahan di Kota Palangka Raya, terutama saat musim kemarau. Langkah antisipasi dilakukan secara terpadu bersama berbagai pihak guna meminimalkan risiko bencana.
Ketua Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana) Petuk Katimpun, Iyul, menyampaikan pihaknya telah menjalin koordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah melalui Pos Komando Pengendalian Operasi (Posdalop) di Jalan Garuda, Palangka Raya. “Kesiagaan terpadu telah disiapkan, melibatkan 101 personel regu dengan kekuatan berlapis untuk memastikan penanganan cepat apabila terjadi kebakaran,” ungkapnya, Kamis (8/8/2025).
Tidak hanya berfokus di wilayah Petuk Katimpun, patroli rutin juga dilakukan di Kelurahan Marang yang berbatasan langsung dan memiliki kondisi lahan serupa. Iyul menegaskan titik rawan kebakaran lahan di Petuk Katimpun tersebar di jalur utama Km 11, Km 12, Km 14, dan Km 16 Jalan Tjilik Riwut, Palangka Raya. Lokasi-lokasi tersebut memiliki vegetasi kering dan gambut dangkal yang mudah terbakar ketika suhu meningkat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, S.Sos., M.A.P., mengungkapkan bahwa terdapat enam kelurahan yang telah bergabung dalam koordinasi penanganan Karhutla di Pos BPBPK Provinsi. “Relawan BPBD Kota juga sudah diterjunkan untuk membantu penanganan di lapangan. Saat ini, kami sedang mempersiapkan posko terpadu agar respons penanggulangan bisa lebih cepat dan terarah,” ujarnya.
Data internal BPBD menunjukkan, pada tahun sebelumnya, wilayah Petuk Katimpun mengalami setidaknya 15 titik api yang terdeteksi satelit dalam rentang Juli–Agustus. Mayoritas kasus dipicu pembukaan lahan menggunakan metode bakar yang tidak terkendali. Mengacu pada pengalaman tersebut, pihak kelurahan bersama relawan telah meningkatkan patroli harian, menyiapkan alat pemadam portabel, dan membangun kanal sekat untuk mencegah api menjalar.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat memprediksi musim kemarau 2025 akan berlangsung sejak Mei, dengan puncaknya pada Juni hingga Agustus. Potensi Karhutla diperkirakan berada pada level tinggi di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Tengah. BMKG menekankan bahwa pola curah hujan rendah dan suhu udara tinggi pada periode tersebut akan memicu pengeringan vegetasi secara cepat, sehingga meningkatkan risiko kebakaran.
BMKG juga memproyeksikan bahwa dampak Karhutla tidak hanya terbatas pada aspek lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor energi dan pertanian. Asap hasil pembakaran lahan dapat mengganggu aktivitas pembangkit listrik tenaga surya serta menurunkan produktivitas tanaman pangan akibat berkurangnya intensitas cahaya matahari. Kondisi ini memerlukan langkah mitigasi lintas sektor yang terencana dan konsisten.
Menanggapi hal tersebut, Iyul menegaskan bahwa masyarakat di Petuk Katimpun telah dilibatkan dalam sosialisasi larangan membakar lahan serta diberikan pelatihan pemadaman api skala kecil. “Kami ingin memastikan bahwa setiap warga memahami risiko dan tahu langkah cepat ketika melihat tanda-tanda kebakaran,” tegasnya.
BPBD Kota Palangka Raya bersama BPBPK Provinsi juga telah menyiapkan skema komunikasi darurat berbasis radio dan aplikasi pesan singkat untuk mempercepat penyampaian laporan titik api dari masyarakat ke petugas lapangan. Sistem ini diharapkan mampu memangkas waktu respons dan mencegah api meluas.
Upaya kesiapsiagaan ini menjadi bagian dari komitmen bersama antara pemerintah daerah, relawan, dan warga dalam mengantisipasi bencana Karhutla. Dengan koordinasi yang solid, diharapkan Petuk Katimpun dapat melewati puncak musim kemarau 2025 tanpa insiden besar yang merugikan lingkungan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.
(adminwkp, Sabtu, 9 Agustus 2025)



Komentar
Posting Komentar