Harga Bawang di Palangka Raya Tidak Stabil, Pasokan Tergantung Luar Daerah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1458196/original/070908000_1483457525-rubrik-pencernaan-sehat_Apakah-Bawang-Berpengaruh-Terhadap-Gastritis.jpg)
PALANGKA RAYA – Harga bawang di Kota Palangka Raya kembali menjadi sorotan publik akibat fluktuasi yang kerap terjadi. Kondisi ini dipicu pasokan yang tidak stabil, terutama karena ketergantungan suplai dari luar daerah.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palangka Raya, Amos Adam Residul, S.Si., M.A., menjelaskan bahwa produksi bawang di wilayah ini belum mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal. Budidaya bawang, menurutnya, belum dapat dilakukan secara optimal sehingga keuntungan bagi petani masih rendah.
“Budidaya bawang di Palangka Raya belum mampu dilakukan secara baik dan menguntungkan. Kondisi ini membuat pasokan bawang harus didatangkan dari luar daerah, sehingga harga menjadi tidak stabil,” ujar Amos saat ditemui pada Rabu (6/8/2025).
Ia menegaskan, ketergantungan pada pasokan luar wilayah membuat harga bawang rentan terhadap perubahan biaya distribusi dan ketersediaan barang di pasar nasional. Perubahan iklim dan gangguan logistik, seperti keterlambatan pengiriman, dapat langsung berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Kalimantan Tengah dari Universitas Palangka Raya, Dr. Fitria Husnatarina, S.E., M.Si., Ak., CA., CSRS., CSRA., ACPA., SCL., menilai terbatasnya pasokan merupakan pemicu utama kenaikan harga komoditas. Ia mencontohkan situasi saat pasokan berkurang di sentra produksi nasional, yang langsung memengaruhi ketersediaan bawang di Palangka Raya.
“Ketika suplai terbatas dan terjadi kelangkaan, otomatis harga barang akan naik, termasuk bawang yang merupakan kebutuhan penting masyarakat,” kata Fitria.
Menurutnya, selain pasokan yang terbatas, faktor cuaca juga menjadi penentu besar dalam stabilitas harga bawang. Hujan berkepanjangan atau musim kemarau ekstrem di daerah penghasil dapat mengganggu panen, sehingga volume pasokan menurun drastis.
Kendala distribusi seperti kerusakan infrastruktur jalan atau biaya transportasi yang meningkat memperburuk keadaan. Bahkan, di sejumlah wilayah, ketergantungan pada bawang impor menambah risiko harga melonjak tajam ketika terjadi hambatan di jalur perdagangan internasional.
Fitria menambahkan, kebutuhan bawang yang terus meningkat tidak sebanding dengan kapasitas produksi lokal. Hal ini menimbulkan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran, yang akhirnya mendorong harga bergerak liar di pasaran.
“Untuk jangka panjang, strategi peningkatan produksi lokal harus menjadi prioritas, termasuk pelatihan petani, penyediaan bibit unggul, dan infrastruktur pertanian yang memadai,” ucapnya.
Penguatan sektor pertanian bawang di Palangka Raya dinilai tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah, tetapi juga membantu menciptakan stabilitas harga, meningkatkan pendapatan petani, dan memperkuat ketahanan pangan kota.
Saat ini, konsumen di Palangka Raya harus menghadapi risiko perubahan harga bawang yang cepat, bahkan dalam hitungan minggu. Upaya bersama pemerintah daerah, petani, dan pelaku distribusi menjadi kunci dalam mencari solusi jangka panjang bagi masalah klasik ini.
(Sabtu, 9/8/2025/adminwkp)


Komentar
Posting Komentar