Fenomena Musiman Picu Inflasi Juli 2025 di Kalteng, Cabai hingga Tomat Alami Kenaikan Harga

 Cara Mengatasi Inflasi bagi Masyarakat agar tetap bertahan hidup!

PALANGKA RAYA — Inflasi yang terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Juli 2025 tak lepas dari sejumlah fenomena musiman yang memengaruhi pasokan dan harga komoditas pangan strategis. Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, inflasi secara month-to-month (m-to-m) tercatat sebesar 0,38 persen, menempatkan provinsi ini pada posisi ke-22 inflasi tertinggi dari seluruh daerah di Indonesia.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, S.Si., M.Ec., saat rilis data resmi pada Jumat (1/8/2025), menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama inflasi Juli 2025 ialah kenaikan harga cabai rawit. Kenaikan ini terjadi akibat berkurangnya produksi dari petani lokal karena belum memasuki masa panen. Situasi ini diperparah oleh terbatasnya pasokan cabai dari luar daerah seperti Kalimantan Selatan, Sulawesi, dan Jawa.

“Selain itu, pasokan dari luar provinsi seperti Kalsel, Sulawesi, Jawa juga sedikit,” terang Agnes Widiastuti, S.Si., M.Ec., menyoroti lemahnya suplai dari sentra cabai nasional yang biasanya menopang kebutuhan Kalimantan Tengah saat produksi lokal menurun.

Tidak hanya cabai, harga daging ayam ras juga mengalami peningkatan yang cukup mencolok pada awal Juli. Hal ini dipicu oleh menurunnya pasokan ayam hidup yang siap potong di tingkat peternak. “Daging ayam ras juga sempat mengalami kenaikan di awal bulan Juli 2025 dikarenakan berkurangnya pasokan ayam yang siap potong,” jelasnya.

Komoditas tomat turut memberikan kontribusi terhadap inflasi akibat terjadinya gagal panen di beberapa daerah penghasil tomat lokal. Fenomena iklim dan ketidaksesuaian pola tanam menyebabkan produksi anjlok dan harga melonjak. “Tomat, gagal panen di beberapa daerah produksi tomat lokal, menyebabkan kenaikan harga tomat,” imbuhnya.

Secara year on year (y-on-y), inflasi di Kalimantan Tengah mencapai 2,13 persen, sementara secara tahun kalender atau year to date (y-to-d), tercatat sebesar 1,46 persen. Meskipun angka-angka tersebut masih dalam rentang yang moderat, BPS menekankan pentingnya perhatian terhadap dinamika pasokan pangan agar tidak memicu gejolak harga berkepanjangan.

Fenomena ini mencerminkan sensitivitas ekonomi daerah terhadap fluktuasi musiman dan pasokan antarwilayah. Diperlukan langkah strategis dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga, termasuk penguatan cadangan pangan dan peningkatan efisiensi distribusi antarprovinsi.

Sabtu, 2 Agustus 2025/adminwkp

Komentar