BPBD Palangka Raya Catat 73 Kasus Karhutla, Jekan Raya Terluas Terdampak

 Di Palangka Raya, Karhutla Mayoritas Terjadi pada Lahan Kosong | Prokalteng

PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 73 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi hingga 4 Agustus 2025. Berdasarkan data resmi, total luasan lahan terbakar mencapai 21,79 hektare.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Palangka Raya, Heri Fauzi, S.Sos., M.A.P., mengungkapkan Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan kasus terluas. Disusul Kecamatan Sebangau di posisi kedua, Kecamatan Pahandut di urutan ketiga, serta Kecamatan Bukit Batu di posisi keempat. Sementara itu, Kecamatan Rakumpit tercatat belum mengalami kejadian karhutla.

“Dan yang terbesar di wilayah Kecamatan Jekan Raya, kemudian kedua itu di Kecamatan Sebangau, ketiga Kecamatan Pahandut dan yang keempat di Kecamatan Bukit Batu. Sedangkan untuk di Kecamatan Rakumpit belum ada laporan hingga saat ini,” jelas Heri saat menjadi narasumber Dialog Kentongan bertema Status Siaga Darurat Karhutla di Kotim dan Palangka Raya, Selasa (5/8/2025).

Ia menegaskan bahwa penanganan karhutla dilakukan melalui koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Bentuk kerja sama tersebut meliputi pembentukan posko terpadu yang melibatkan unsur pemerintah, aparat keamanan, hingga masyarakat.

“Kita di kota sudah ada 6 kelurahan yang bergabung secara langsung dengan posko di provinsi, poslab-poslabnya, dan sementara di kota pun kita merekrut teman-teman relawan untuk melakukan penanganan-penanganan sesuai dengan status kita. Saat ini posko sudah berproses, SK posko-nya sudah ada,” ujarnya.

Upaya perekrutan relawan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat barisan personel lapangan, terutama dalam kegiatan pemantauan titik api, pemadaman dini, hingga edukasi pencegahan karhutla kepada warga.

Menurut Heri, ancaman karhutla di Palangka Raya tahun ini cukup serius mengingat cuaca kering yang berpotensi diperparah oleh fenomena iklim global. Selain itu, sebagian wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut yang rentan menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.

BPBD juga mengintensifkan koordinasi dengan masyarakat di sekitar wilayah rawan melalui program patroli gabungan. Program ini mengandalkan sinergi antara relawan, tim pemadam, dan perangkat kelurahan. Heri menekankan pentingnya kesadaran kolektif agar warga tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat dampak karhutla dapat mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi, hingga pendidikan.

“Kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan. Karhutla bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. Pencegahan akan lebih efektif jika semua pihak memiliki komitmen yang sama,” tegasnya.

Pemerintah Kota Palangka Raya mengimbau warga segera melaporkan setiap indikasi kebakaran melalui kanal komunikasi resmi BPBD. Respon cepat diharapkan dapat meminimalkan dampak kerugian dan mencegah meluasnya titik api.

(Sabtu, 9/8/2025/adminwkp)

Komentar