Waspadai Dampak Diet Ekstrem, Dokter di Palangka Raya Sarankan Pola Diet Sehat Jangka Panjang

Palangka Raya – Tren diet cepat yang menjanjikan penurunan berat badan dalam waktu singkat semakin marak di kalangan masyarakat, terutama menjelang momen-momen penting seperti liburan, pernikahan, ataupun sesi pemotretan. Meski terlihat menggiurkan, pola diet instan ini menyimpan risiko kesehatan serius yang kerap tidak disadari oleh pelakunya. Banyak orang tergiur hasil instan tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang yang bisa berakibat buruk bagi metabolisme tubuh.
Diet ekstrem kerap dijalani tanpa pengawasan medis, hanya berdasarkan referensi media sosial atau anjuran dari sumber tidak resmi. Pola makan sangat ketat, asupan kalori sangat rendah, serta pengurangan kelompok nutrisi tertentu menjadi ciri utama dari jenis diet ini. Dampaknya pun bervariasi, mulai dari kelelahan, gangguan pencernaan, hingga kondisi yang lebih serius seperti kerusakan organ dalam. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari bahwa tubuh membutuhkan proses adaptasi dan waktu untuk menurunkan berat badan secara sehat dan stabil.
Dokter umum Klinik Prodia cabang Palangka Raya, dr. Riduan, mengungkapkan bahwa dirinya sering menangani pasien yang mengalami gangguan metabolik akibat diet ekstrem. Menurutnya, pola diet yang terlalu cepat justru dapat merusak keseimbangan fungsi tubuh. “Jika diet terlalu cepat ini akan berdampak pada metabolisme dalam tubuh, sehingga metabolisme dalam tubuh jadi melambat. Tidak menutup kemungkinan kita akan membalas makan makanan secara berlebihan saat berada di fase kelaparan,” jelasnya, Senin (21/7/2025).
dr. Riduan juga menyoroti bahwa perempuan menjadi kelompok paling rentan terdampak efek samping diet instan. Ia menyebut bahwa pembatasan nutrisi secara ekstrem bisa menyebabkan gangguan hormonal yang cukup serius. “Pada perempuan, diet ekstrem akan menyebabkan menstruasi terganggu, rambut menjadi rontok, kulit menjadi kering karena terbatasnya cairan yang masuk,” lanjutnya. Kekurangan nutrisi penting seperti zat besi, protein, dan vitamin esensial menjadi salah satu pemicu utama munculnya gangguan-gangguan tersebut.
Ia menegaskan bahwa dalam jangka panjang, diet instan tidak memberikan hasil yang berkelanjutan. Banyak kasus menunjukkan bahwa setelah berat badan turun secara drastis, tubuh akan mengalami efek yoyo, yaitu naik-turun berat badan secara cepat karena tidak adanya fondasi gaya hidup sehat yang kuat. Perubahan berat badan yang fluktuatif ini justru bisa memicu stres metabolik yang lebih parah dan berdampak buruk pada fungsi jantung, ginjal, hingga sistem imun.
Sebaliknya, dr. Riduan menekankan pentingnya mengadopsi pola diet sehat jangka panjang. Diet sehat bukan hanya sekadar membatasi kalori, tetapi fokus pada keseimbangan gizi yang mencakup karbohidrat kompleks, protein, lemak baik, vitamin, serta serat. Pola makan tersebut harus dibarengi dengan aktivitas fisik teratur, istirahat cukup, dan pengelolaan stres yang baik. “Kuncinya bukan pada kecepatan hasil, tetapi pada konsistensi dan keberlanjutan pola hidup,” ujarnya.
Ia juga menyarankan masyarakat untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli gizi atau tenaga kesehatan sebelum memulai program diet apa pun. Pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh penting dilakukan untuk mengetahui kondisi tubuh, termasuk kadar kolesterol, gula darah, serta indeks massa tubuh, guna menentukan strategi penurunan berat badan yang tepat dan aman. Pemerintah dan lembaga kesehatan juga diimbau untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya diet ekstrem dan pentingnya pola hidup sehat.
Fenomena diet cepat tidak hanya terjadi di kalangan remaja atau dewasa muda, tetapi mulai merambah berbagai usia, termasuk ibu rumah tangga dan pekerja kantoran. Keinginan untuk tampil ideal dalam waktu singkat kerap mengalahkan rasionalitas dalam memilih metode yang aman. Padahal, perubahan gaya hidup yang terencana jauh lebih efektif dan minim risiko.
Tren diet cepat memang menawarkan hasil instan, tetapi harus disadari bahwa tubuh manusia bukan mesin yang dapat diprogram ulang secara kilat. Penurunan berat badan yang ideal seharusnya berkisar antara 0,5 hingga 1 kilogram per minggu, dengan tetap menjaga asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Pola diet sehat jangka panjang terbukti lebih berkelanjutan, tidak menyebabkan efek samping berbahaya, dan menjadikan tubuh lebih bugar secara menyeluruh.
Kesimpulannya, masyarakat perlu lebih bijak dan kritis dalam memilih metode diet. Jangan tergoda janji hasil cepat tanpa memikirkan efek sampingnya. Sebab, kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa dicapai hanya melalui solusi instan. Diet sehat bukan hanya tentang penampilan, melainkan tentang kualitas hidup yang lebih baik dan seimbang.
(23 Juli 2025/adminwkp)


Komentar
Posting Komentar