Waspada Karhutla, Tim Serbu Api Disiagakan 24 Jam di Sekitar Bandara Tjilik Riwut

Palangka Raya – Memasuki musim kemarau tahun 2025, kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus ditingkatkan di sejumlah wilayah rawan di Kota Palangka Raya. Salah satu titik fokus utama pengawasan berada di kawasan sekitar Bandara Tjilik Riwut yang dinilai sangat rentan terhadap potensi kebakaran dan kabut asap. Pemerintah kelurahan setempat telah menyiagakan tim serbu api selama 24 jam untuk mengantisipasi kejadian yang dapat mengganggu jalur penerbangan dan kesehatan masyarakat.
Lurah Panarung, Evi Kahayanti, S.E., NL.P., menyatakan bahwa kawasan bandara masuk dalam kategori wilayah siaga tinggi karhutla karena masih banyak ditumbuhi semak belukar yang mudah terbakar. Potensi kebakaran kerap muncul akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja membuka lahan melalui cara pembakaran. “Lokasi bandara Tjilik Riwut selama ini menjadi jalur strategis penerbangan dan akses utama bagi masyarakat. Sangat penting untuk memastikan wilayah ini bebas dari kabut asap yang bisa mengganggu aktivitas bandara dan membahayakan keselamatan penerbangan,” ujarnya, Kamis (17/7/2025).
Menurut Evi, seluruh personel tim serbu api Kelurahan Panarung telah ditempatkan di beberapa titik pengawasan dan secara bergiliran melakukan patroli selama 24 jam. Selain patroli darat, pemantauan udara juga dilakukan secara berkala melalui koordinasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pihak TNI-Polri. Ia mengajak masyarakat sekitar untuk tidak melakukan praktik pembakaran terbuka, baik untuk membuka lahan maupun membersihkan pekarangan. “Kami mohon kesadaran warga agar tidak sembarangan membakar. Risiko yang ditimbulkan bukan hanya lokal, tapi bisa mengganggu jadwal penerbangan dan menurunkan kualitas udara secara drastis,” tegasnya.
Sementara itu, upaya serupa juga diterapkan di wilayah Kelurahan Bukit Tunggal. Lurah Subhanoor, S.Hut., menuturkan bahwa tim serbu api kelurahan telah disiagakan penuh dan dibekali peralatan pemadaman serta alat komunikasi untuk mempercepat respons terhadap laporan dari warga. Menurutnya, sistem aduan masyarakat telah diaktifkan melalui kanal telepon dan grup pemantauan lingkungan di media sosial. “Kami sudah siap 24 jam. Begitu ada laporan warga, tim langsung bergerak ke lokasi untuk memastikan tidak terjadi penyebaran api,” jelas Subhanoor.
Ia menambahkan bahwa edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan. Melalui kerja sama RT dan RW, pihak kelurahan gencar menyosialisasikan larangan membakar lahan serta menjelaskan ancaman hukum bagi pelanggar. “Kami juga sudah menempelkan spanduk larangan karhutla di titik-titik strategis dan permukiman padat. Harapannya, masyarakat bisa lebih peka dan segera melapor jika melihat tanda-tanda kebakaran,” ucapnya.
Menurut data BPBD Kota Palangka Raya per 16 Juli 2025, sudah tercatat 12 titik panas (hotspot) di wilayah barat dan timur kota, sebagian besar berada di area semak dan lahan kosong. Meski belum berdampak luas, potensi karhutla diperkirakan akan meningkat hingga Agustus jika hujan tidak turun. Pemerintah kota juga telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla sejak awal Juli dan terus memantau perkembangan cuaca dari BMKG.
Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Yulian Japson, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama lintas sektor untuk mengantisipasi kebakaran, termasuk penguatan kapasitas tim serbu api kelurahan dan distribusi logistik kebencanaan. Ia mengimbau warga untuk segera menghubungi call center darurat jika melihat kepulan asap atau titik api di sekitar pemukiman. “Kesigapan warga sangat menentukan keberhasilan pencegahan karhutla,” ujarnya.
Upaya pengamanan kawasan Bandara Tjilik Riwut menjadi prioritas tersendiri mengingat lokasi tersebut merupakan fasilitas vital yang melayani puluhan penerbangan setiap harinya. Kabut asap yang tebal berpotensi menurunkan jarak pandang pesawat dan mengganggu jadwal penerbangan domestik maupun logistik strategis.
Pemerintah Kota Palangka Raya berharap seluruh lapisan masyarakat turut berpartisipasi aktif dalam menjaga wilayah dari bahaya kebakaran selama musim kemarau berlangsung. Edukasi, patroli, dan pelaporan dini dinilai menjadi tiga kunci utama dalam menekan angka kejadian karhutla secara signifikan.
(20 Juli 2025/adminwkp)


Komentar
Posting Komentar