Sakula Budaya Bangun Karakter Anak Lewat Kurikulum Inklusif dan Warisan Lokal

Palangka Raya — Nilai-nilai budaya dinilai menjadi aspek fundamental yang harus terus hidup dalam dunia pendidikan, baik formal maupun informal. Keberadaan elemen budaya dalam kurikulum tidak hanya menjaga kelestarian warisan leluhur, tetapi juga membentuk karakter generasi muda agar memiliki jati diri kuat, berakar, serta mampu menghadapi dinamika global tanpa kehilangan akar tradisional.
Salah satu inisiatif konkret pelestarian budaya lokal saat ini dijalankan Yayasan Sakula Budaya, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang berbasis di Kalimantan Tengah. Melalui program pembelajaran berbasis nilai-nilai tradisional, yayasan ini memperkenalkan budaya lokal sejak usia dini, terutama pada generasi muda yang kini hidup dalam lingkungan serba digital.
Koordinator Sakula Budaya, Destano Anugrahnu, S.H., M.H., menjelaskan bahwa upaya utama lembaganya adalah membangun kembali kesinambungan antar generasi dalam memahami dan mempraktikkan budaya lokal. Menurutnya, banyak pengetahuan kesukubangsaan yang sebelumnya eksis dalam masyarakat Dayak, namun kini hampir terputus akibat modernisasi dan perubahan pola hidup masyarakat urban.
“Sebenarnya ini tidak lain dan tidak bukan dari upaya transfer nilai kebudayaan yang dilakukan. Dalam upaya regenerasi dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya, bisa dilihat relevansi di zaman sekarang. Yang bisa kami lakukan dari sekolah budaya adalah bagaimana mengkontekstualkan nilai-nilai tersebut sesuai keadaan per hari ini,” ujar Destano Anugrahnu, S.H., M.H., saat menjadi narasumber dalam Dialog Interaktif “Kita Indonesia” di Pro 1 RRI Palangka Raya, Selasa (22/7/2025).
Ia menambahkan bahwa tidak semua aspek kebudayaan masa lalu bisa diterapkan hari ini. Namun, sebagian besar tetap memiliki nilai moral dan sosial yang relevan. Di sinilah, lanjutnya, peran Sakula Budaya menjadi penting, yakni menyaring, menyesuaikan, dan menyampaikan kembali nilai-nilai itu dalam bentuk pembelajaran yang adaptif serta inklusif bagi peserta didik lintas latar belakang.
“Cukup banyak pengetahuan kesukubangsaan Dayak yang eksis di masa lalu, tetapi tidak diketahui generasi hari ini. Artinya ada keterputusan antar generasi. Itu yang ingin kita bangun kembali di Sekolah Budaya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Sakula Budaya, Pebri Ayu Lestari, S.P., menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan lembaga ini tidak eksklusif pada budaya Dayak semata, tetapi juga membuka ruang bagi budaya lain yang hidup berdampingan di Kalimantan Tengah. Ia menyebutkan bahwa peserta didik Sakula Budaya berasal dari beragam latar belakang suku seperti Jawa, Aceh, dan Sumatera, mencerminkan keberagaman masyarakat setempat.
“Kegiatan Sakula Budaya ini memuat beberapa kurikulum wajib yang disusun untuk menjadi bagian tetap dari proses pembelajaran. Kurikulum tersebut akan disahkan dan menjadi acuan dalam pelatihan budaya untuk seluruh peserta,” jelas Pebri Ayu Lestari, S.P.
Sampai pertengahan 2025, Yayasan Sakula Budaya telah beroperasi aktif di dua wilayah, yakni Kabupaten Gunung Mas dan Kabupaten Pulang Pisau. Meskipun jangkauan geografisnya masih terbatas, semangat para pendidik dalam menyampaikan materi berbasis budaya tetap tinggi. Mereka menyelenggarakan pelatihan seni tari, bahasa daerah, musik tradisional, permainan rakyat, hingga diskusi lintas generasi.
Melalui pendekatan kontekstual dan berbasis komunitas, Sakula Budaya berhasil membangun ekosistem pendidikan alternatif yang menyatukan warisan budaya dan nilai-nilai kekinian. Para pengelola meyakini bahwa kebudayaan tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga berkembang jika dikelola secara adaptif dan menyentuh langsung kehidupan anak-anak hari ini.
Program ini pun menjadi contoh bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan melalui pendidikan berbasis akar lokal yang tidak kaku, terbuka pada dialog lintas budaya, dan mampu mengisi kekosongan yang seringkali tidak disentuh dalam sistem pendidikan nasional. Dalam jangka panjang, model Sakula Budaya diharapkan dapat direplikasi ke daerah lain di Kalimantan Tengah bahkan skala nasional.
(26/7/2025/adminwkp)


Komentar
Posting Komentar