Pertemuan Raya Anak I GKE dikemas dalam Kemah Ceria Alkitab Telah Usai, Namun Dampaknya Masih Terasa Bagi Anak-Anak GKE

Palangka Raya — Kegiatan Pertemuan Raya I Anak Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) bertajuk Kemah Ceria Alkitab yang telah sukses digelar di Bumi Perkemahan Nyaru Menteng, Palangka Raya, sejak tanggal 27 hingga 29 Juni 2025, meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta yang merupakan anak-anak GKE dari berbagai wilayah. Meskipun secara resmi acara telah berakhir, semangat dan sukacita rohani yang diperoleh para peserta masih terus dirasakan hingga kini. Antusiasme luar biasa mewarnai seluruh rangkaian kegiatan yang meliputi ibadah bersama, permainan edukatif, penguatan nilai-nilai Alkitabiah, dan pembinaan karakter dalam suasana alam terbuka.

Lebih dari 500 anak dari berbagai jemaat GKE turut serta dalam agenda akbar ini. Kehadiran peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah bahkan Kalimantan Selatan menunjukkan tingkat partisipasi dan komitmen yang tinggi terhadap pembinaan generasi muda gereja. Seluruh rangkaian kegiatan disusun secara sistematis untuk membangun kepekaan spiritual, memperkuat relasi antar anak-anak GKE, serta menumbuhkan karakter Kristiani yang kuat sejak dini. Suasana kemah dipenuhi kebahagiaan, semangat persaudaraan, dan ketulusan pelayanan yang terpancar dari para pendamping, panitia, dan peserta.

Acara pembukaan yang digelar pada tanggal 27 Juni 2025 sore diawali ibadah bersama yang dipimpin tim liturgi dari panitia, diiringi paduan suara anak dan lagu-lagu rohani yang menggema di antara pepohonan hutan konservasi Nyaru Menteng. Momentum ini menjadi titik awal bagi para peserta untuk memasuki rangkaian kegiatan spiritual dan edukatif yang dikemas dalam berbagai bentuk permainan rohani, diskusi kelompok, kuis Alkitab, pentas seni, dan renungan malam. Setiap sesi dirancang untuk memberikan pemahaman kontekstual tentang kasih Tuhan, persekutuan, serta tanggung jawab anak-anak sebagai bagian dari tubuh Kristus.

Pengurus Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GKE menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai bentuk implementasi pelayanan anak yang inklusif dan berkelanjutan. Menurut pengurus MPH Sinode GKE, kegiatan seperti Kemah Ceria Alkitab menjadi bagian penting dalam mendukung program strategis gereja terhadap pembinaan anak sebagai generasi penerus iman. Kehadiran dan peran aktif anak-anak GKE dalam kegiatan ini mencerminkan kekuatan pelayanan anak di tingkat sinodal yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Dalam refleksi pasca-acara, panitia pelaksana mengungkapkan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pelaksanaan teknis, namun juga mencerminkan semangat kolaborasi lintas aras pelayanan anak. Persiapan yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan melibatkan kerja sama berbagai pihak dari unsur sekolah minggu, pelayanan kategorial, pengurus jemaat, dan elemen masyarakat yang turut mendukung kelancaran logistik dan keamanan. Seluruh peserta juga dibekali buku panduan rohani, perlengkapan kemah, dan konsumsi yang cukup, agar dapat mengikuti kegiatan secara nyaman dan penuh makna.

Beberapa agenda yang mendapat antusiasme tinggi di antaranya adalah lomba yel-yel antar tenda, simulasi cerita Alkitab interaktif, serta penyalaan api unggun malam keakraban yang menyatukan seluruh peserta dalam momen reflektif dan spiritual. Anak-anak diberi ruang berekspresi melalui kesenian seperti puisi rohani, tarian tradisional bermuatan nilai-nilai Alkitab, hingga drama yang mengangkat tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Setiap karya yang ditampilkan menjadi bukti bahwa pembinaan iman tidak terbatas pada mimbar gereja, namun bisa dikemas melalui pendekatan kontekstual dan partisipatif.

Selain aspek spiritual dan edukatif, kegiatan ini turut memperkenalkan konsep ekoteologi secara sederhana kepada anak-anak. Berada di tengah kawasan konservasi orangutan Nyaru Menteng, peserta diajak menyadari pentingnya pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab iman. Kegiatan bersih-bersih area kemah, pelatihan daur ulang bahan bekas, dan penyuluhan tentang flora-fauna lokal menjadi bagian integral dalam rangkaian acara. Pendekatan ini dipandang sebagai upaya menanamkan kesadaran ekologis sejak usia dini, sejalan dengan mandat teologis untuk menjaga ciptaan Tuhan.

Panitia pelaksana menyebutkan bahwa seluruh kegiatan berlangsung tanpa insiden berarti. Koordinasi antar bidang, keterlibatan para pendamping rohani, serta dukungan medis dari unit kesehatan menjadi elemen krusial dalam menjamin keamanan dan kenyamanan peserta selama tiga hari. Komunikasi antar orang tua dan panitia juga dijalankan secara berkala melalui sistem laporan harian, termasuk dokumentasi visual yang dibagikan melalui media sosial resmi milik panitia. Kegiatan ini dinilai tidak hanya memberikan sukacita bagi anak-anak, namun juga menjadi sumber inspirasi bagi orang tua dalam mendampingi pertumbuhan iman anak di rumah.

Menurut catatan panitia, 93 persen peserta menyatakan ingin mengikuti kegiatan serupa di masa mendatang, sedangkan 89 persen menyebutkan bahwa mereka merasa lebih dekat kepada Tuhan setelah mengikuti Pertemuan Raya I ini. Data tersebut dihimpun melalui kuesioner evaluasi yang dibagikan pada sesi penutupan. Respon positif ini menunjukkan bahwa program pembinaan anak yang difasilitasi melalui kegiatan lapangan memiliki efektivitas tinggi dalam menyentuh aspek spiritual, emosional, dan sosial anak-anak.

Sebagai penutup, pengurus MPH Sinode GKE menekankan bahwa kegiatan seperti ini akan dijadikan agenda rutin sinode setiap beberapa tahun sekali, disesuaikan dengan kalender gerejawi dan kesiapan sumber daya masing-masing jemaat. Pihak sinode juga mendorong agar jemaat di daerah lain dapat meniru pendekatan ini sebagai model pembinaan yang holistik dan kontekstual. Harapan besar dititipkan agar semangat anak-anak dalam menghidupi nilai-nilai kekristenan tetap menyala meskipun kegiatan telah berakhir. Pertemuan Raya I Anak GKE bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi merupakan tonggak sejarah dalam perjalanan pembinaan anak GKE menuju masa depan gereja yang lebih kuat, lebih inklusif, dan lebih setia pada ajaran Kristus.

(11 Juli 2025/adminwkp)

 

Komentar