Penjualan Pertalite dan Pertamax Mulai Berimbang di Palangka Raya, Ini Perbedaannya Menurut Pengamat Energi
PALANGKA RAYA – Fenomena berimbangnya penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di Kota Palangka Raya dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat terhadap bahan bakar kendaraan. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sejumlah titik mencatat bahwa distribusi Pertamax kini tidak lagi kalah jauh dari Pertalite, bahkan cenderung mendekati keseimbangan baik dari segi volume maupun frekuensi transaksi harian. Kondisi ini menandakan adanya peningkatan kesadaran konsumen akan kualitas BBM dan efisiensi pembakaran mesin kendaraan, serta adanya dampak psikologis dari penyesuaian harga BBM bersubsidi dan non-subsidi sejak awal tahun 2025.
Berdasarkan pantauan lapangan di SPBU Jalan Tjilik Riwut Km 4, Jalan Diponegoro, dan Jalan Mahir Mahar Palangka Raya, para petugas mengungkapkan bahwa jumlah pengguna Pertamax kini telah mencapai hampir 48% dari total konsumen harian. Sebelumnya, dominasi Pertalite berada di kisaran 80%–85% dari total transaksi, namun sejak Maret 2025 terjadi tren perubahan yang konsisten menuju keseimbangan. Meski harga Pertamax saat ini berada di kisaran Rp13.500 per liter, sedangkan Pertalite tetap di angka Rp10.000 per liter, sebagian besar pengguna kendaraan roda dua dan roda empat mulai beralih secara selektif berdasarkan kapasitas mesin dan efisiensi penggunaan bahan bakar.
Perbedaan utama antara Pertalite dan Pertamax terletak pada nilai oktan atau Research Octane Number (RON) yang memengaruhi performa pembakaran di ruang mesin. Pertalite memiliki RON 90, sedangkan Pertamax memiliki RON 92. Semakin tinggi angka RON, maka semakin baik performa bahan bakar terhadap tekanan kompresi mesin, sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna dan emisi gas buang yang lebih rendah. Kendaraan dengan teknologi mesin terbaru, terutama mobil keluaran di atas tahun 2020, umumnya direkomendasikan menggunakan BBM dengan RON minimal 92 untuk menghindari knocking (detonasi) dan menjaga keawetan mesin dalam jangka panjang.
Pertalite sebagai BBM yang masuk kategori subsidi terbatas memang menjadi pilihan utama masyarakat menengah ke bawah karena harga yang lebih terjangkau. Namun di sisi lain, Pertamax yang merupakan BBM non-subsidi memberikan efisiensi jangka panjang karena konsumsi bahan bakar lebih hemat serta mendukung kelestarian lingkungan. Selain itu, penggunaan Pertamax juga berkontribusi terhadap pengurangan beban subsidi energi yang selama ini menjadi beban besar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM dan Pertamina telah mendorong program edukasi penggunaan BBM ramah lingkungan dan tepat guna kepada masyarakat luas sejak tahun 2023.
Pergeseran konsumsi ini juga menunjukkan tumbuhnya pemahaman konsumen terhadap dampak jangka panjang pemilihan bahan bakar. Beberapa konsumen kendaraan pribadi menyebutkan bahwa meskipun harga Pertamax lebih tinggi, pengeluaran bulanan untuk bahan bakar justru menjadi lebih stabil karena efisiensi pemakaian. Selain itu, performa mesin menjadi lebih ringan, suhu mesin stabil, dan biaya perawatan berkala lebih terkontrol. Hal ini berdampak pada meningkatnya loyalitas pengguna terhadap produk BBM berkualitas tinggi, terutama di kalangan pengguna mobil keluarga, taksi daring, serta kendaraan dinas.
Secara teknis, Pertamax memiliki kandungan sulfur yang lebih rendah dari Pertalite, yakni hanya 500 ppm dibandingkan dengan Pertalite yang berada di kisaran 500 ppm. samanya kandungan sulfur ini sebenarnya berarti mesin lebih terlindungi dari kerak dan korosi, sehingga umur pakai mesin menjadi lebih panjang. Tetapi keunggulan Pertamax juga memiliki kemampuan membersihkan ruang bakar secara lebih optimal sehingga cocok digunakan dalam kendaraan yang memiliki sistem injeksi elektronik dan turbocharger. Sementara Pertalite, meski lebih ekonomis, cenderung meninggalkan residu dalam jangka panjang jika digunakan pada kendaraan dengan spesifikasi mesin premium.
Faktor cuaca dan iklim juga turut memengaruhi pemilihan jenis BBM oleh masyarakat Palangka Raya. Pada suhu lingkungan yang tinggi seperti di Kalimantan Tengah, penggunaan BBM dengan RON lebih tinggi mampu menjaga stabilitas suhu mesin dan mencegah overheating, terutama untuk kendaraan yang digunakan dalam durasi panjang. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi pengguna kendaraan antarprovinsi, transportasi logistik, maupun perjalanan luar kota yang memerlukan daya tahan mesin optimal di tengah medan geografis yang beragam.
Keseimbangan penjualan ini turut memberikan dampak positif bagi pengelolaan distribusi energi di daerah. SPBU kini dapat mengatur pasokan secara lebih merata, mengurangi potensi kelangkaan, serta meminimalkan antrean pada jam-jam sibuk. Selain itu, SPBU yang sebelumnya lebih mengandalkan penjualan Pertalite sebagai sumber utama pendapatan kini mulai mengalami peningkatan margin dari penjualan Pertamax, karena selisih harga jual yang lebih tinggi. Kondisi ini juga memberi sinyal positif bagi Pertamina dalam penyusunan strategi harga dan distribusi BBM berbasis wilayah pada semester kedua tahun 2025.
Kementerian ESDM juga terus memantau tren konsumsi BBM di daerah sebagai dasar pengambilan kebijakan ke depan, termasuk pengurangan bertahap subsidi Pertalite dan peningkatan insentif untuk penggunaan BBM ramah lingkungan. Kota Palangka Raya yang secara geografis strategis dan demografis heterogen menjadi salah satu kota uji coba kampanye energi bersih dan transisi penggunaan BBM tinggi RON. Edukasi melalui spanduk SPBU, media sosial, dan kerja sama antar-instansi menjadi instrumen utama dalam mendorong perubahan perilaku konsumsi energi masyarakat.
Dari sisi pengguna, peningkatan keseimbangan konsumsi Pertalite dan Pertamax juga mencerminkan meningkatnya kelas menengah di Palangka Raya yang semakin selektif dalam mengelola pengeluaran rumah tangga. Pertimbangan bukan hanya pada sisi harga, tetapi pada nilai jangka panjang yang ditawarkan dari kualitas produk. Di sektor transportasi publik, sejumlah operator angkutan kota dan taksi daring mulai melakukan penyesuaian penggunaan BBM berbasis efisiensi operasional agar mampu menekan ongkos bahan bakar dan meningkatkan kepuasan pelanggan melalui pengalaman perjalanan yang lebih nyaman.
Tren ini diprediksi akan terus meningkat, terutama apabila didukung oleh kebijakan fiskal dan insentif pemerintah dalam bentuk subsidi silang atau reward kepada konsumen BBM berkualitas. Di samping itu, kehadiran kendaraan berbasis energi listrik dan bioenergi ke depan juga akan memperkaya pilihan konsumsi energi masyarakat, mendorong efisiensi energi nasional, serta memperkuat komitmen Indonesia terhadap agenda transisi energi dan pengurangan emisi karbon.
Penjualan Pertalite dan Pertamax yang mulai seimbang bukan hanya mencerminkan perubahan pola konsumsi, tetapi juga mencerminkan kesadaran kolektif masyarakat Palangka Raya terhadap pentingnya efisiensi energi, kelestarian lingkungan, dan perawatan kendaraan secara bertanggung jawab. Ke depan, Kota Palangka Raya berpotensi menjadi model daerah yang berhasil membangun budaya konsumsi BBM yang cerdas dan berorientasi masa depan dalam mendukung ketahanan energi nasional.
(11 Juli 2025/adminwkp)



Komentar
Posting Komentar