Peningkatan Minat Penggunaan Bensin Pertamax di Palangka Raya, Ojol Sebut Ada Perubahan Signifikan
Palangka Raya — Minat masyarakat Kota Palangka Raya terhadap penggunaan bahan bakar jenis Pertamax menunjukkan tren peningkatan signifikan sepanjang triwulan kedua 2025. Berdasarkan pantauan di sejumlah SPBU utama seperti di Jalan Diponegoro, Jalan G. Obos, dan Jalan Tjilik Riwut KM 4, antrean kendaraan roda dua yang memilih Pertamax kian terlihat dominan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Data internal dari salah satu operator SPBU menyebutkan terjadi kenaikan konsumsi Pertamax hingga 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kecenderungan peningkatan ini menarik perhatian berbagai pihak, khususnya dari kalangan pengemudi ojek online (ojol) yang menjadi salah satu kelompok konsumen paling intens dalam penggunaan bahan bakar harian. Beberapa pengemudi ojol yang berhasil diwawancarai secara acak menyatakan bahwa mereka mulai beralih dari Pertalite ke Pertamax bukan hanya karena selisih harga yang semakin kecil, melainkan juga faktor efisiensi dan performa mesin kendaraan yang mereka gunakan.
Salah satu pengemudi ojol menyampaikan bahwa setelah rutin menggunakan Pertamax selama dua bulan terakhir, jarak tempuh motor per liter meningkat sekitar 10 hingga 15 persen dibandingkan saat masih menggunakan Pertalite. Hal ini tentu memberikan dampak langsung terhadap penghematan biaya operasional harian mereka yang rata-rata menempuh jarak lebih dari 80 kilometer per hari. Di samping itu, mereka juga mengaku mengalami penurunan frekuensi servis ringan seperti pembersihan busi dan penggantian oli.
Beberapa pengemudi lain menambahkan bahwa Pertamax memberikan sensasi berkendara yang lebih ringan serta tarikan gas yang lebih responsif. Efeknya, kendaraan tidak cepat panas dan performa mesin lebih stabil ketika digunakan dalam waktu lama. Meskipun harga Pertamax per 10 Juli 2025 masih berkisar Rp13.250 per liter atau lebih tinggi dibandingkan Pertalite yang berada di kisaran Rp10.000, sebagian besar pengemudi menganggap selisih harga tersebut sebanding dengan manfaat jangka panjang yang dirasakan.
Faktor lain yang turut memengaruhi preferensi ini ialah edukasi publik yang dilakukan melalui media sosial dan kanal informasi digital, terutama terkait dampak positif penggunaan bahan bakar berkualitas terhadap umur mesin kendaraan. Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga secara terbuka mendorong penggunaan bahan bakar beroktan tinggi sebagai bentuk kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dan peningkatan efisiensi energi nasional. Dukungan ini diperkuat oleh regulasi Euro 4 yang telah mulai diberlakukan secara bertahap di sektor transportasi umum dan kendaraan pribadi.
Tidak sedikit pula pengemudi ojol yang menyebut adanya efek psikologis terhadap konsumen mereka. Beberapa pelanggan yang memperhatikan kebersihan dan kualitas kendaraan ternyata lebih menyukai pengemudi yang menjaga performa kendaraan, salah satunya dengan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. “Pelanggan sekarang lebih perhatian, bahkan ada yang tanya langsung pakai bensin apa. Saya jadi mikir buat terus pakai Pertamax,” ungkap seorang pengemudi.
Meskipun tidak semua pengemudi ojol telah beralih sepenuhnya ke Pertamax, tren peningkatan ini mencerminkan adanya perubahan preferensi konsumsi yang tidak hanya didorong oleh faktor harga, tetapi juga kesadaran fungsional dan keberlanjutan. Pemerintah daerah dan pengelola SPBU di Kota Palangka Raya pun diharapkan dapat mengantisipasi lonjakan permintaan ini melalui penambahan kapasitas distribusi serta kampanye publik secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, peningkatan minat penggunaan Pertamax di kalangan pengemudi ojek online di Palangka Raya menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumsi bahan bakar menuju opsi yang lebih ekonomis dalam jangka panjang dan lebih ramah terhadap lingkungan. Fenomena ini juga memberi sinyal positif terhadap transisi energi yang lebih bersih dan efisien di tingkat daerah. (10 Juli 2025/adminwkp)



Komentar
Posting Komentar