Orasi terkait Multikulturalisme dan Pluralisme Jadi Sorotan dalam Dies Natalis IAHN Tampung Penyang

Dr. Ni Nyoman Rahmawati, S.Ag., M.Si.

Palangka Raya — Multikulturalisme dan pluralisme menjadi tema sentral dalam orasi ilmiah yang disampaikan Dr. Ni Nyoman Rahmawati, S.Ag., M.Si. dari Program Studi Magister Hukum Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya pada peringatan Dies Natalis ke-24 perguruan tinggi tersebut, Senin (26/7/2025). Dalam pidato akademiknya, Dr. Ni Nyoman Rahmawati menegaskan bahwa kedua konsep tersebut bukan hanya fondasi teoritis, melainkan merupakan kunci strategis dalam membangun peradaban masyarakat Indonesia yang demokratis dan berkeadaban.

Ia menjelaskan bahwa multikulturalisme mengacu pada penghargaan terhadap keberagaman budaya dalam masyarakat, termasuk pengakuan terhadap nilai, tradisi, dan cara pandang unik dari masing-masing kelompok etnis. Multikulturalisme mendorong masyarakat untuk hidup berdampingan secara damai, menghindari penyeragaman budaya, serta mengakui bahwa tidak ada satu pun kebudayaan yang memiliki superioritas atas yang lain. Sementara itu, pluralisme dipahami sebagai pengakuan terhadap keberagaman dalam hal keyakinan, ideologi, dan pandangan hidup. Menurutnya, pluralisme memerlukan ruang dialog dan interaksi antar kelompok yang berbeda agar terjadi pengayaan pengalaman sosial dan penguatan solidaritas dalam kebhinekaan.

“Multikulturalisme dan pluralisme merupakan dua konsep yang memberikan wadah bagi adanya perbedaan dan keberagaman yang bisa hidup berdampingan secara damai, didasarkan atas persamaan dan persaudaraan untuk bersama-sama menjunjung tinggi dan saling menghormati perbedaan yang ada,” ujar Dr. Ni Nyoman Rahmawati dalam pidatonya. Ia juga menyampaikan bahwa praktik dari dua konsep tersebut merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai demokrasi substansial yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, keadilan, dan penghargaan terhadap kemanusiaan yang setara.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penerapan multikulturalisme dan pluralisme dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari pendidikan karakter yang harus dikembangkan sejak dini. Pendidikan multikultur, menurutnya, bukan hanya tentang pengajaran mengenai budaya yang berbeda, melainkan juga mendorong empati, toleransi, serta kemampuan menyelesaikan konflik melalui pendekatan dialogis. Ia menyebutkan bahwa generasi muda harus dibekali pemahaman lintas budaya agar mampu menjadi agen perdamaian yang aktif dan adaptif terhadap keragaman sosial-keagamaan di masyarakat.

Dies Natalis ke-24 IAHN Tampung Penyang juga diramaikan oleh penampilan seni budaya rohani Hindu yang dibawakan oleh para mahasiswa. Tarian dan lagu-lagu bertemakan spiritualitas Hindu menggambarkan kekayaan kearifan lokal yang menjadi bagian integral dari identitas institusi ini. Penampilan tersebut mempertegas bagaimana perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai ruang pelestarian budaya dan spiritualitas nusantara.

Acara tersebut turut dihadiri oleh unsur pimpinan IAHN Tampung Penyang, dosen, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan undangan dari berbagai perguruan tinggi keagamaan di Kalimantan Tengah. Semangat yang diusung dalam Dies Natalis kali ini mencerminkan pentingnya menjaga kohesi sosial di tengah kemajemukan serta peran strategis pendidikan tinggi agama dalam membangun masyarakat plural yang toleran dan inklusif.

Dalam penutup orasinya, Dr. Ni Nyoman Rahmawati mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat nilai-nilai keberagaman sebagai aset nasional yang harus dijaga secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa dalam iklim sosial-politik yang rentan terhadap polarisasi, memperkuat multikulturalisme dan pluralisme adalah bentuk nyata dari komitmen membangun peradaban yang berkeadilan, humanis, dan berorientasi pada perdamaian.

Selasa, 29 Juli 2025/adminwkp

Komentar