Optimisme Mengiringi Tahapan Desain Gereja GKE Maranatha, Pdt. Dr. Yuprinadie Targetkan Selesai Tepat Waktu
Palangka Raya – Setelah proses panjang seleksi dan penjurian sayembara desain bangunan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Maranatha, suasana optimisme menyelimuti jemaat dan panitia pembangunan. Ketua Majelis Jemaat GKE Langkai yang juga merangkap Ketua Majelis Resort GKE Palangka Raya, Pdt. Dr. Yuprinadie, S.Th., M.Th., menyatakan bahwa pihaknya sangat yakin pembangunan rumah ibadah tersebut akan berjalan sesuai dengan rencana dan dapat diselesaikan tepat waktu. Target penyelesaian pembangunan gereja ini ditetapkan satu tahun setelah bentuk bangunan diputuskan melalui hasil lomba desain yang telah diumumkan secara resmi.
Menurut Pdt. Dr. Yuprinadie, momentum penentuan desain ini merupakan tahap strategis sekaligus krusial yang akan menentukan arah pembangunan secara teknis dan estetika ke depan. Ia juga menjadi bagian dari tim penilai sayembara dan menyampaikan apresiasi tinggi atas kualitas karya para peserta. Menurutnya, seluruh rancangan yang dikirimkan menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap karakteristik gereja GKE, serta memadukan keunikan budaya lokal dalam konsep arsitekturnya.
“Semua desain sangat baik dan memenuhi kriteria yang sudah ditentukan panitia. Kami menilai tidak hanya dari aspek bentuk luar dan dalam, tetapi juga mempertimbangkan tata letak mimbar dan struktur altar sesuai dengan ciri khas Calvinis,” jelas Yuprinadie. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Calvinis, mimbar khotbah merupakan pusat liturgi yang harus ditempatkan di bagian tengah dan posisi yang tinggi di altar. Keunikan ini menjadi komponen penting dalam proses penilaian desain yang mencerminkan teologi dan tata ibadah GKE.
Dalam kesempatan yang sama, Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GKE menyatakan dukungannya atas keberhasilan proses sayembara desain gereja ini. Menurut MPH, inisiatif panitia dalam menggelar lomba terbuka menjadi contoh positif dalam partisipasi publik dan profesionalisme pembangunan rumah ibadah. Proses ini tidak hanya menunjukkan transparansi, tetapi juga menggugah kreativitas masyarakat arsitektur untuk berkontribusi dalam proyek pelayanan keagamaan.
Karya terbaik dalam lomba desain akhirnya diraih oleh Teguh Tri Nor Lianto, S.Ars., seorang arsitek yang menampilkan konsep bangunan gereja bernuansa etnik Dayak. Desain yang diajukan Teguh dianggap berhasil merepresentasikan identitas budaya lokal Kalimantan Tengah, sekaligus mengakomodasi kebutuhan fungsional dan spiritual jemaat. Bangunan dirancang megah namun tetap humanis, dengan sentuhan ornamen khas Dayak di bagian fasad dan interior yang menyatu harmonis dengan struktur ibadah Kristen Protestan.
Ketua Panitia Pembangunan Gereja GKE Maranatha sekaligus Ketua Badan Usaha dan Aset GKE, Dr. Ir. Rawing Rambang, M.P., menyampaikan bahwa seluruh karya finalis, khususnya tiga besar pemenang, kini menjadi aset milik gereja dan panitia pembangunan. Rawing menjelaskan bahwa pemanfaatan desain ini akan menjadi dasar bagi penyusunan dokumen teknis lanjutan serta pengurusan izin dan perencanaan struktur bangunan secara detail. Ia juga menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara profesional oleh tim juri yang terdiri dari panitia, perwakilan gereja, akademisi, serta praktisi arsitektur yang berpengalaman.
Rawing menguraikan bahwa aspek utama penilaian dalam lomba ini mencakup nilai arsitektural, kearifan lokal, efisiensi struktur, serta keterpaduan antara nilai budaya dan teologi gerejawi. "Kami ingin gereja ini menjadi ikon kota sekaligus simbol keberagaman dan spiritualitas yang membumi. Oleh sebab itu, desain yang terpilih harus mampu mencerminkan kedalaman filosofi dan nilai-nilai lokal," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa proses pembangunan akan dilakukan secara bertahap dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, jemaat, serta mitra-mitra strategis dari kalangan profesional dan swasta. Target penyelesaian proyek ditetapkan pada pertengahan Juli 2026, atau satu tahun setelah keputusan desain final ditetapkan. Untuk merealisasikan target ini, panitia telah menyiapkan jadwal kerja rinci, mulai dari penyusunan RAB, perencanaan struktur, pengadaan material, hingga pengawasan teknis lapangan.
Seperti diketahui, gereja GKE Maranatha yang terletak di Jalan Diponegoro, Kota Palangka Raya, mengalami musibah kebakaran hebat pada 24 September 2024, yang menyebabkan bangunan utama luluh lantak. Tragedi tersebut menimbulkan duka mendalam di kalangan jemaat dan menjadi perhatian publik luas. Namun, peristiwa tersebut juga membangkitkan semangat kebersamaan dan solidaritas warga serta pemerintah dalam mendukung proses pembangunan ulang.
Komitmen penuh juga datang dari Gubernur Kalimantan Tengah, H. Agustiar Sabran, S.I.Kom., yang sejak awal menyatakan dukungan atas proses rekonstruksi gereja. Bahkan pada 12 April 2025, Gubernur secara langsung melakukan peletakan batu pertama pembangunan sebagai tanda dimulainya tahap awal pembangunan fisik. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah turut mengalokasikan dukungan anggaran dalam rangka mempercepat proses pembangunan, sebagaimana dijanjikan pada masa pencalonannya pada tahun 2024.
Menurut Rawing, pembangunan gereja ini tidak hanya penting sebagai infrastruktur ibadah, tetapi juga sebagai simbol identitas komunitas Kristen Dayak yang berkembang kuat di Kalimantan Tengah. Ia menekankan bahwa gereja ini diharapkan menjadi pusat kegiatan spiritual, pendidikan iman, serta kegiatan sosial kemasyarakatan bagi masyarakat lintas usia dan latar belakang.
Panitia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta lomba yang telah berpartisipasi dan menunjukkan dedikasi tinggi dalam proses kreatif. Mereka berharap kerja sama yang telah dibangun antara arsitek, gereja, dan masyarakat dapat terus terjalin dalam proses pembangunan selanjutnya.
Gereja Maranatha ke depan diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah yang representatif, namun juga landmark baru bagi Kota Palangka Raya yang menampilkan kemegahan spiritualitas dalam balutan kearifan lokal. Optimisme dan semangat gotong royong menjadi modal utama dalam mewujudkan rumah ibadah yang modern, aman, dan inklusif bagi seluruh jemaat.
(12 Juli 2025/adminwkp)


Komentar
Posting Komentar