Masyarakat Masih Minati Gas LPG 3 Kg Dibanding 12 Kg, Ini Dampak, Harga, Guna, dan Manfaatnya Menurut Pengguna

Palangka Raya – Gas elpiji ukuran 3 kilogram, yang secara resmi ditujukan untuk kalangan rumah tangga tidak mampu dan usaha mikro, masih menjadi pilihan utama bagi mayoritas masyarakat Kota Palangka Raya. Di tengah tingginya kebutuhan energi untuk keperluan memasak dan operasional rumah tangga, elpiji 3 kg dinilai lebih ekonomis, mudah didapat, dan sesuai dengan kapasitas konsumsi harian keluarga. Meski pemerintah terus melakukan kampanye penyesuaian subsidi dan mendorong penggunaan gas non-subsidi 12 kg, sebagian besar pengguna tetap memilih elpiji bersubsidi karena faktor harga dan aksesibilitas.

Dari sisi harga, gas elpiji 3 kg memiliki selisih yang cukup besar dibandingkan tabung 12 kg. Rata-rata harga elpiji 3 kg di tingkat pengecer berkisar antara Rp22.000 hingga Rp25.000 per tabung, sementara harga gas 12 kg berada pada kisaran Rp180.000 hingga Rp195.000. Selisih yang cukup signifikan ini menjadikan elpiji 3 kg tetap diminati, terutama oleh masyarakat menengah ke bawah yang memiliki pendapatan terbatas dan tidak mampu membayar sekaligus untuk pembelian gas ukuran besar. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, efisiensi pengeluaran menjadi prioritas utama bagi keluarga, khususnya di wilayah perkotaan yang padat penduduk.

Selain alasan harga, daya guna elpiji 3 kg juga dianggap lebih fleksibel untuk keperluan rumah tangga. Tabung berukuran kecil tersebut lebih mudah diangkat, dipindahkan, serta cocok untuk kompor satu tungku yang lazim digunakan oleh rumah tangga sederhana. Ukurannya yang ringkas membuatnya dapat digunakan bahkan di dapur sempit atau usaha mikro yang berbasis rumahan seperti penjual gorengan, warung kopi, dan pedagang kaki lima. Kepraktisan ini menjadi salah satu daya tarik utama elpiji 3 kg dibandingkan versi non-subsidi yang dinilai lebih berat, mahal, dan kurang efisien untuk kebutuhan harian berskala kecil.

Meskipun penggunaannya tergolong luas, gas elpiji 3 kg juga menimbulkan sejumlah dampak struktural dalam konteks distribusi dan pengawasan subsidi energi. Banyak masyarakat yang seharusnya masuk dalam kategori mampu justru masih menggunakan tabung bersubsidi, menimbulkan ketimpangan alokasi subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi golongan rentan. Pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan pembatasan distribusi dan pelabelan pengguna melalui verifikasi data berbasis NIK untuk menekan penyimpangan. Namun, dalam praktiknya, implementasi kebijakan tersebut masih mengalami tantangan, baik dari sisi teknis distribusi maupun dari sisi kesadaran masyarakat itu sendiri.

Dari perspektif konsumen, elpiji 3 kg tetap memberikan manfaat nyata, terutama bagi rumah tangga kecil yang pengeluaran bulanan energinya harus ditekan serendah mungkin. Penggunaan tabung 3 kg dalam satu bulan rata-rata dapat mencukupi kebutuhan memasak selama 2 hingga 3 minggu tergantung intensitas pemakaian. Bagi keluarga kecil yang hanya memasak sekali atau dua kali sehari, satu tabung 3 kg sering kali cukup untuk kebutuhan sebulan. Sementara itu, penggunaan elpiji 12 kg dinilai lebih cocok untuk keluarga besar, pemilik usaha kuliner berskala menengah, atau rumah tangga mapan yang memiliki pola konsumsi energi lebih tinggi dan stabil.

Selain nilai ekonomi, penggunaan gas elpiji secara umum tetap lebih bersih dibandingkan bahan bakar alternatif seperti kayu bakar atau minyak tanah. Peralihan dari bahan bakar padat ke gas cair membawa dampak positif terhadap kualitas udara di lingkungan domestik, menurunkan risiko gangguan pernapasan, serta meningkatkan efisiensi waktu dalam proses memasak. Masyarakat yang menggunakan elpiji 3 kg secara rutin mengakui bahwa memasak menjadi lebih praktis, hemat tenaga, serta dapat mengurangi limbah dapur seperti abu sisa pembakaran kayu. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa elpiji, baik ukuran kecil maupun besar, tetap menjadi tulang punggung energi rumah tangga di wilayah perkotaan.

Namun demikian, masih terdapat tantangan terkait ketersediaan dan fluktuasi harga gas elpiji 3 kg di beberapa wilayah. Di sejumlah titik, terutama saat musim perayaan hari besar atau pada momen awal bulan, pasokan sering mengalami keterlambatan atau kenaikan harga akibat tingginya permintaan. Kondisi ini memaksa sebagian warga membeli di pengecer dengan harga lebih mahal dibanding harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan. Pemerintah daerah melalui dinas terkait terus melakukan pemantauan serta pengawasan distribusi, namun belum sepenuhnya dapat mencegah lonjakan harga di lapangan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk terus diberi edukasi mengenai penggunaan energi yang adil serta pengalihan bertahap ke energi non-subsidi bagi kelompok mampu.

Dalam konteks jangka panjang, penggunaan gas elpiji 3 kg diharapkan tetap berada pada koridor subsidi yang tepat sasaran. Upaya pemerintah dalam melakukan transformasi subsidi berbasis digital dan memperbaiki sistem distribusi harus disertai partisipasi aktif dari masyarakat dalam bentuk kejujuran, kesadaran sosial, dan pemahaman terhadap kebijakan energi nasional. Keseimbangan antara kebutuhan praktis dan kebijakan makro menjadi tantangan tersendiri yang harus dikelola bersama agar subsidi energi benar-benar menyentuh golongan yang membutuhkan.

Secara keseluruhan, gas elpiji 3 kg tetap menjadi pilihan logis bagi masyarakat menengah ke bawah karena dinilai ekonomis, praktis, dan cukup efisien untuk kebutuhan harian. Meskipun terdapat himbauan untuk beralih ke tabung 12 kg bagi masyarakat mampu, realitas sosial dan ekonomi yang dihadapi sebagian besar keluarga kecil membuat keputusan tersebut belum sepenuhnya dapat dilaksanakan secara masif. Dalam masa transisi kebijakan energi, pemahaman kolektif dan kepedulian terhadap penggunaan subsidi yang tepat sasaran menjadi kunci dalam mewujudkan sistem energi nasional yang adil dan berkelanjutan.

(11 Juli 2025/adminwkp)

 

Komentar