Korean Dream Webinar Series IV Ajak Pemuda Lintas Negara Bangun Perdamaian Lewat Aksi Lingkungan

 Shintya Rahmi Utami - General Manager at Global Peace Foundation | LinkedIn

JAKARTA — Global Peace Foundation (GPF) Indonesia kembali menyelenggarakan rangkaian Korean Dream Webinar Series edisi keempat yang mengusung tema “Youth for One Korea: Building Peace Through Environmental Action”. Forum daring ini mempertemukan pemuda-pemudi dari berbagai negara untuk menyuarakan dukungan terhadap perdamaian dan reunifikasi Korea melalui pendekatan aksi lingkungan yang inklusif. Sekitar 150 peserta mengikuti webinar ini, menjadikannya ajang lintas bangsa yang memadukan semangat konservasi, kemanusiaan, dan transformasi sosial.

Acara dibuka oleh Salsa Bila selaku Master of Ceremony, yang menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai agen perubahan dalam menciptakan dunia yang damai dan berkelanjutan. Sambutan pembuka kemudian disampaikan oleh Shintya Rahmi Utami, S.M.B., M.B.A. selaku General Manager GPF Indonesia. Dalam pidatonya, Shintya mengungkapkan apresiasi terhadap antusiasme peserta dan menyoroti peran isu lingkungan sebagai saluran efektif untuk membangun perdamaian di tengah kemandekan diplomasi formal.

“Ketika diplomasi politik mengalami kebuntuan, aksi lingkungan membuka ruang kolaborasi nyata. Lingkungan menjadi jembatan persatuan, termasuk dalam konteks Korea yang masih terpisah. Soft diplomacy berbasis konservasi ekologis dapat menjadi jalan damai yang baru,” ungkapnya.

Webinar ini menghadirkan tiga pembicara muda lintas negara yang membagikan perspektif dan pengalaman mereka: Jaya Setiawan Gulö, Global Peace Leadership Corps Fellow dari Indonesia; Enkhjin Bayartsogt, HBSc., M.Sc.SM. dari Mongolia, dan Rumit Walia dari India. Diskusi dipandu oleh Nur Fahmi Assidiq sebagai moderator yang membuka forum dengan refleksi pentingnya aktivisme lintas batas.

Pembicara pertama, Jaya Setiawan Gulö, memulai diskusi dengan mengangkat keterkaitan antara kerusakan lingkungan dan konflik sosial di kampung halamannya, Nias. Ia menceritakan bahwa pohon kelapa yang selama ini menjadi sumber pangan dan ekonomi masyarakat mulai mati akibat perubahan iklim. Saat masyarakat beralih mencari ikan, degradasi ekosistem laut justru menyulitkan aktivitas itu. Ia juga mengaitkan kisah bencana tsunami 2004 di Aceh dan Nias sebagai titik balik kolektif yang menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga hutan mangrove sebagai pelindung alami.

“Setelah tsunami, masyarakat mulai menanam pohon. Mereka melihat mangrove bukan hanya sebagai pelindung pantai, tapi simbol harapan dan pemersatu,” ujar Gulö. Ia menekankan bahwa restorasi lingkungan identik dengan restorasi sosial dan memperkenalkan pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, swasta, media, dan masyarakat sipil sebagai unsur strategis dalam pembangunan berkelanjutan.

Sebagai bentuk konkret, Gulö menginisiasi penanaman mangrove sebanyak 200 bibit pada 20 Juli 2025 dan akan melanjutkan penanaman 1.000 bibit pada Hari Mangrove Internasional, 26 Juli 2025 di Tangerang. Ia mengajak generasi muda untuk aktif menyuarakan hak dan turut serta dalam kegiatan lingkungan.

“Pemerintah punya dana dan wewenang, tapi kita punya suara dan semangat. Menanam pohon adalah bentuk nyata menanam perdamaian,” ucapnya.

Selanjutnya, Enkhjin Bayartsogt dari Mongolia menyapa peserta dengan pertanyaan reflektif: “Apa hubungan antara pohon dan perdamaian?” Ia menceritakan tentang komunitas ekologisnya, My Club Online Eco Community, yang telah menanam lebih dari 2,5 juta pohon di Ulaanbaatar dan menjadi bagian dari gerakan nasional “Billion Tree National Movement”.

Ia membagikan pengalaman unik saat menanam pohon bersama warga Korea Utara dan Korea Selatan di Mongolia, termasuk di halaman Kedutaan Besar Korea Utara. Momen tersebut membuka pandangannya tentang pentingnya interaksi lintas budaya.

“Asumsi saya tentang warga Korea Utara runtuh ketika kami menanam pohon bersama. Saya melihat manusia biasa di balik politik. Penanaman pohon menciptakan ruang netral untuk berdialog dan membangun hubungan,” ujar Enkhjin, HBSc., M.Sc.SM.. Ia percaya pemuda dapat mematahkan stigma negatif lewat aksi lingkungan yang inklusif dan damai.

Pembicara terakhir, Rumit Walia, menyoroti tiga pilar utama Global Peace Leadership Corps: pelayanan, kepemimpinan, dan pendidikan. Ia menjelaskan bahwa ketiga aspek ini terhubung dalam semangat konservasi lingkungan yang bersifat universal dan transnasional. Aksi lingkungan seperti penanaman pohon, pembersihan sampah, dan advokasi iklim dinilai sebagai bentuk pelayanan yang mampu menyatukan individu dari berbagai latar belakang.

“Perdamaian dapat dibangun melalui gerakan yang sederhana tapi bermakna, seperti membersihkan sungai atau menanam di lahan kritis. Tindakan-tindakan itu menunjukkan solidaritas ekologis dan komitmen global,” ucap Rumit.

Ia juga menekankan pentingnya integrasi pendidikan iklim ke dalam kurikulum sekolah di berbagai negara, sejalan dengan Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) dalam Paris Agreement. Menurutnya, pendidikan ini mengajarkan siswa cara menanam pohon, membaca data iklim, dan bahkan menganalisis dampak perubahan iklim terhadap pengungsi lingkungan (climate refugees).

“Banyak konflik sejarah berakar pada perebutan sumber daya alam seperti tanah dan air. Aksi pelestarian bisa menjadi solusi pencegahan konflik jangka panjang. Ini bukan hanya isu teknis, tapi kemanusiaan,” jelasnya.

Lebih jauh, Rumit mengangkat makna simbolik dari tindakan bersih-bersih lingkungan. Ketika seseorang membungkuk memungut sampah orang lain, hal itu mencerminkan sikap tanggung jawab sosial dan kesediaan untuk menyelesaikan kekacauan bersama. “Kita bisa memilih untuk menyalahkan, atau memilih untuk membersihkan. Perdamaian dimulai dari tindakan sederhana itu,” imbuhnya.

Sesi tanya jawab berlangsung aktif. Para peserta mengajukan pertanyaan seputar strategi meningkatkan kesadaran lingkungan, cara efektif melibatkan pemerintah, hingga potensi diplomasi lingkungan dalam mendukung reunifikasi Korea. Narasumber menanggapi dengan wawasan praktis dan reflektif, memperkuat keyakinan bahwa generasi muda memiliki kapasitas luar biasa untuk menjadi jembatan perdamaian melalui pendekatan ekologis.

Webinar ditutup dengan seruan bersama untuk terus menanam semangat Korean Dream dalam diri setiap pemuda lintas negara, menjaga bumi sebagai rumah bersama, dan menjadikan konservasi lingkungan sebagai platform untuk membangun perdamaian berkelanjutan.

(26/7/2025/adminwkp)

Komentar