Kesenian Kalteng Masuki Babak Baru: Era Digital Buka Peluang dan Tantangan Budaya

 Ragam Kesenian Suku Dayak sebagai Kekayaan Budaya Indonesia | kumparan.com

Palangka Raya – Dunia kesenian Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah, tengah mengalami transisi signifikan seiring derasnya arus digitalisasi. Perubahan lanskap teknologi informasi telah membawa paradigma baru dalam proses penciptaan, distribusi, dan konsumsi karya seni, menjadikan kreativitas tak lagi terkungkung oleh batas geografis. Namun, kemajuan ini turut memunculkan kekhawatiran tentang potensi pergeseran nilai-nilai budaya tradisional yang selama ini menjadi ruh dari berbagai bentuk kesenian daerah.

Di berbagai kota besar hingga pelosok Kalimantan Tengah, kolaborasi antara seniman dan teknologi digital semakin berkembang. Pertunjukan seni seperti sinera tari kini dikolaborasikan secara apik bersama teknologi animasi dan pencahayaan digital, menciptakan pengalaman visual yang modern namun tetap sarat makna budaya. Pameran lukisan tidak lagi terbatas pada ruang galeri, karena kini masyarakat dapat menikmatinya dalam bentuk virtual reality menggunakan perangkat headset. Bahkan sejumlah seniman muda di Palangka Raya mulai mengeksplorasi platform seperti TikTok, Instagram, Twitter, hingga YouTube untuk menampilkan versi baru dari tarian tradisional Dayak, lengkap dengan penyesuaian musik dan visual yang disukai generasi milenial dan Gen Z.

Ketua Dewan Kesenian Kota Palangka Raya, Tris Sofia Wartina, S.T., M.Si., menyatakan bahwa digitalisasi menjadi momentum baru bagi regenerasi dunia kesenian daerah. Dalam wawancaranya pada Senin (21/7/2025), ia menegaskan bahwa media sosial menjadi alat strategis untuk menjangkau publik yang lebih luas, termasuk kalangan muda yang sebelumnya relatif kurang terlibat dalam pelestarian budaya lokal. “Sekarang, karya seni tidak hanya terbatas pada panggung atau galeri. Dengan media sosial dan platform digital, kita bisa memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia dalam cara yang lebih relevan dan menarik bagi generasi muda,” ujarnya.

Pemerintah Kota Palangka Raya pun menanggapi fenomena ini secara progresif. Melalui program-program pendanaan dan fasilitasi yang digulirkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, sejumlah pelatihan intensif digelar bagi seniman-seniman lokal untuk meningkatkan literasi digital. Program tersebut mencakup pelatihan penyuntingan video, penggunaan platform pemasaran digital, hingga pengenalan pada teknologi augmented reality dan artificial intelligence yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan karya seni. Tahun 2025 ini, tercatat ada lebih dari 72 proyek seni digital yang mendapatkan dukungan hibah dari pemerintah provinsi, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya mencatat 29 proyek.

Selain pelatihan dan dukungan pendanaan, kolaborasi antar lembaga juga semakin diperkuat. Dewan Kesenian Daerah menjalin kemitraan dengan sejumlah universitas serta komunitas kreatif seperti Studio Anak Rimba dan Kalteng Virtual Artist (KVA) dalam memproduksi konten seni digital berbasis kearifan lokal. Hasilnya, karya-karya seperti digital painting bertema legenda Dayak, musik remix tradisional, serta dokumenter mini tentang ritual adat mulai banyak diakses melalui kanal YouTube maupun situs pameran daring.

Namun, kemajuan ini juga menyisakan kekhawatiran terkait degradasi nilai-nilai autentik. Beberapa pengamat budaya menilai bahwa penggunaan format digital dapat memunculkan komodifikasi berlebihan terhadap simbol budaya, membuatnya kehilangan konteks spiritual dan filosofis yang mendalam. Tantangan ini diperparah oleh kecenderungan algoritma digital yang mengedepankan sensasi visual dibanding esensi kebudayaan.

Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Tris Sofia Wartina, S.T., M.Si. menekankan pentingnya membekali para pelaku seni bukan hanya pada aspek teknis, tetapi juga penguatan etika berkesenian dan pemahaman akar budaya. Ia menegaskan bahwa digitalisasi harus menjadi alat transformasi, bukan bentuk dekonstruksi budaya. “Inovasi harus hadir tanpa mengorbankan identitas. Inilah tugas utama kita ke depan,” ucapnya.

Masa depan kesenian Indonesia di era digital, khususnya di Kalimantan Tengah, kini berada pada titik keseimbangan yang kritis. Terdapat peluang luar biasa untuk memperluas eksistensi budaya lokal ke panggung dunia melalui teknologi, namun bersamaan itu pula muncul tantangan besar dalam mempertahankan kedalaman nilai-nilai tradisi. Menemukan titik temu antara inovasi dan pelestarian merupakan syarat mutlak agar kesenian tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tetap menjadi tuntunan dalam membentuk karakter bangsa.

(23 Juli 2025/adminwkp)

Komentar