Karhutla Mengancam di Tengah Kemarau, Palangka Raya Tetapkan Status Siaga Darurat
![]() |
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, S.Sos., M.A.P |
PALANGKA RAYA - Memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang, sejumlah wilayah di Kota Palangka Raya mulai menghadapi tantangan serius berupa kekeringan. Penurunan intensitas hujan selama beberapa pekan terakhir menyebabkan kondisi lahan menjadi semakin kering, meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan rawan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat bahwa dalam sepekan terakhir telah terjadi peningkatan signifikan pada kasus Karhutla, yakni 1 hingga 2 kejadian setiap harinya. Salah satu insiden terbaru terjadi di kawasan Jalan Mahir Mahar Km 8, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, pada Sabtu lalu. Api sempat membakar sebagian lahan semak belukar, namun berhasil ditangani secara cepat oleh petugas gabungan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, S.Sos., M.A.P., menegaskan bahwa pihaknya terus mengintensifkan patroli wilayah bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA). “Kejadian Karhutla di kawasan Mahir Mahar berhasil ditangani secara sigap oleh tim di lapangan. Api berhasil dipadamkan sebelum meluas ke wilayah permukiman,” ujar Heri, Minggu (27/7/2025).
Ia menambahkan, seluruh personel di posko-posko Karhutla yang tersebar di setiap kelurahan telah ditempatkan dalam kondisi siaga penuh. BPBD juga memperkuat sistem pelaporan cepat berbasis masyarakat guna mengantisipasi kemunculan titik api secara real time.
Sementara itu, Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Kelurahan Petuk Katimpun, Mulyadi, menyampaikan bahwa kesiapsiagaan komunitas lokal sangat penting dalam situasi darurat seperti sekarang. “Kami tetap siaga dengan peralatan yang tersedia. Saat ini lahan-lahan mulai mengering, cuaca panas, dan mudah sekali terjadi kebakaran,” ungkapnya. Ia mengapresiasi peran aktif masyarakat yang melaporkan potensi kebakaran secara cepat sehingga pemadaman dapat dilakukan sebelum api meluas.
Merespons potensi ancaman yang semakin meningkat, Pemerintah Kota Palangka Raya secara resmi menetapkan status Siaga Darurat Karhutla. Keputusan ini bertujuan mempercepat koordinasi lintas sektor dan memastikan kesiapan infrastruktur penanganan bencana di seluruh kecamatan. Pemerintah juga mengaktifkan struktur kewaspadaan dari tingkat RT, RW, kelurahan, hingga kecamatan untuk memantau lahan-lahan tidak produktif yang rentan terbakar.
“Setiap posko Karhutla diminta memastikan kesiapan personel, ketersediaan peralatan, serta kelayakan fungsi sumur bor dan embung air,” tegas Heri. Pemerintah berharap pendekatan kolaboratif ini dapat mengurangi risiko penyebaran api serta meningkatkan kecepatan tanggap darurat.
Selain tindakan lapangan, BPBD dan instansi terkait juga melakukan edukasi publik secara berkala mengenai bahaya membakar lahan secara sembarangan. Kampanye ini disampaikan melalui berbagai kanal informasi termasuk media sosial, radio komunitas, dan pertemuan warga setempat.
Kondisi cuaca ekstrem akibat kemarau panjang tidak hanya berimplikasi pada sektor lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat akibat meningkatnya polusi udara. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota juga mengimbau warga agar mengurangi aktivitas luar ruang jika terjadi kabut asap serta selalu menggunakan masker sebagai langkah perlindungan.
Di sisi lain, sejumlah sekolah dan instansi pendidikan mulai bersiap jika skenario pembelajaran jarak jauh harus kembali diterapkan apabila kualitas udara memburuk. Pemerintah Kota Palangka Raya telah menyusun langkah antisipatif dan skema intervensi lintas sektor untuk memastikan kegiatan sosial-ekonomi tetap berjalan meski dalam situasi siaga darurat.
Situasi Karhutla di Kalimantan Tengah, khususnya di Kota Palangka Raya, menjadi sorotan karena wilayah ini termasuk dalam peta rawan kebakaran berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG memperkirakan bahwa puncak musim kemarau akan terjadi pada awal hingga pertengahan Agustus, sehingga diperlukan kewaspadaan ekstra pada periode tersebut.
Pemerintah Kota berharap bahwa sinergi antara lembaga pemerintahan, relawan, dan masyarakat akan menjadi kunci utama dalam menekan jumlah kejadian Karhutla dan menghindari kerusakan lingkungan yang lebih luas. Dengan semangat gotong royong dan kesadaran bersama, Palangka Raya diharapkan mampu melalui musim kemarau ini tanpa harus menghadapi bencana kebakaran skala besar.
(Selasa, 29 Juli 2025/adminwkp)



Komentar
Posting Komentar