dr. Ivan Chandra, S.Ked., Sp.P., M.M.: Batuk Bukan Sekadar Gejala, Tapi Mekanisme Pertahanan Tubuh

 

PALANGKA RAYA — Edukasi kesehatan mengenai batuk kembali disampaikan secara komprehensif oleh dr. Ivan Chandra, S.Ked., Sp.P., M.M., seorang dokter spesialis paru yang aktif memberikan penyuluhan di wilayah Kalimantan Tengah. Dalam penjelasan terbarunya, beliau menegaskan bahwa batuk tidak selalu menandakan penyakit, tetapi justru merupakan mekanisme pertahanan alami tubuh terhadap zat asing yang masuk ke saluran pernapasan.

Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh pertama yang akan tubuh lakukan saat mendapatkan sesuatu yang asing, misalnya debu, partikel-partikel lain, atau asap,” terang dr. Ivan Chandra, S.Ked., Sp.P., M.M. saat ditemui seusai seminar kesehatan di Palangka Raya, Senin (29/7/2025). Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tubuh manusia memiliki sistem proteksi awal yang akan segera bereaksi ketika mendeteksi gangguan pada jalur pernapasan.

Menurutnya, dalam kondisi normal, batuk terjadi karena adanya stimulasi dari partikel-partikel kecil seperti debu atau zat kimia di udara yang mengiritasi saluran pernapasan. Refleks batuk pun terjadi secara otomatis untuk mengeluarkan zat tersebut agar tidak masuk lebih dalam ke paru-paru. "Batuk bukan gejala utama, tetapi lebih kepada refleks pertahanan terhadap gangguan eksternal," ujarnya menambahkan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa batuk yang berkepanjangan dan terjadi terus-menerus harus dicermati secara lebih serius. Jika jumlah partikel atau zat asing yang terhirup meningkat signifikan, maka frekuensi dan durasi batuk juga akan mengalami peningkatan. “Jadi, saat jumlah partikel itu makin banyak, maka makin lama batuknya,” kata dr. Ivan. Batuk dalam jangka waktu pendek masih dapat dianggap wajar, namun jika berlangsung lebih dari dua hingga tiga minggu, sudah masuk kategori batuk kronis yang perlu ditangani secara medis.

dr. Ivan Chandra, S.Ked., Sp.P., M.M. menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk tidak menyepelekan batuk yang menetap dalam jangka waktu panjang. Ia menjelaskan bahwa batuk yang tak kunjung reda bisa menjadi indikator dari kondisi medis yang lebih serius, seperti tuberkulosis (TBC), penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, bronkitis kronis, bahkan indikasi awal kanker paru. Dalam situasi tersebut, ia menganjurkan agar masyarakat segera melakukan pemeriksaan skrining atau konsultasi ke fasilitas layanan kesehatan.

Saat batuk berlangsung lama, kita harus mendiagnosis dengan melakukan skrining,” tegasnya. Langkah skrining ini melibatkan serangkaian tes medis seperti pemeriksaan dahak, rontgen paru, dan tes fungsi paru yang dapat membantu dokter menentukan penyebab pasti batuk. Diagnosis yang akurat sangat diperlukan agar pengobatan dapat dilakukan sesuai etiologi dan mencegah kerusakan paru yang lebih lanjut.

Selain itu, dr. Ivan turut mengajak masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya warga Palangka Raya, untuk lebih peduli terhadap kesehatan paru-paru, mengingat tingginya potensi paparan polusi udara dan kabut asap yang menjadi fenomena tahunan di wilayah ini. Ia menyebut bahwa paparan jangka panjang terhadap polutan seperti asap hutan atau pembakaran lahan dapat memperparah gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma.

Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2024, peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) selama musim kemarau tercatat mencapai 17.843 kasus, meningkat 11,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menguatkan urgensi edukasi masyarakat terkait pentingnya menjaga kesehatan pernapasan, termasuk pemahaman yang tepat mengenai batuk.

Sebagai penutup, dr. Ivan Chandra, S.Ked., Sp.P., M.M. menekankan bahwa pengetahuan dasar mengenai fungsi batuk sebagai mekanisme alami pertahanan tubuh perlu terus disosialisasikan, agar masyarakat tidak langsung panik namun tetap waspada terhadap batuk yang berkepanjangan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, menghindari paparan asap, dan melakukan pemeriksaan rutin bagi mereka yang tinggal di daerah rawan polusi.

(Minggu, 29 Juli 2025/adminwkp)

Komentar