DLH Palangka Raya Dorong Gerakan Gaya Hidup Sadar Sampah untuk Atasi Masalah Lingkungan Perkotaan

 Berlianto Ditunjuk sebagai Plh Inspektur Inspektorat Palangka Raya,  Pastikan Pemeriksaan BPK Tetap Berjalan - Kalteng.co - Selalu Update &  Menginspirasi

PALANGKA RAYA – Masalah persampahan terus menjadi tantangan besar, khususnya di kota-kota besar seperti Palangka Raya. Penanganan sampah tidak hanya menuntut ketersediaan anggaran besar, namun juga memerlukan dukungan armada angkut, sistem pengolahan, lokasi pembuangan sementara, tempat pembuangan akhir, serta kesiapan sumber daya manusia. Untuk menjawab tantangan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangka Raya mengajak masyarakat berpartisipasi aktif melalui penerapan gerakan gaya hidup sadar sampah.

Hal ini disampaikan langsung oleh Berlianto, S.E., M.E., selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya, pada Selasa (29/7/2025). Ia menekankan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam membentuk budaya baru yang lebih peduli terhadap pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. “Permasalahan sampah tidak bisa hanya ditangani oleh pemerintah. Keterlibatan aktif masyarakat sangat dibutuhkan agar sampah tidak menumpuk dan mencemari lingkungan,” tegas Berlianto.

Lebih lanjut, Berlianto menjelaskan lima gerakan utama dalam gaya hidup sadar sampah yang dapat diterapkan masyarakat sehari-hari. Gerakan pertama adalah cegah sampah, yaitu upaya menghindari penggunaan produk dan wadah sekali pakai seperti sedotan plastik, kantong belanja plastik, peralatan makan dan minum sekali pakai, serta memilih produk yang dapat digunakan ulang. Gerakan kedua yakni belanja tanpa kemasan, yaitu membawa wadah sendiri saat berbelanja atau membeli produk yang bisa diisi ulang, guna mengurangi kemasan sekali pakai.

Gerakan ketiga menekankan pentingnya memilah sampah dari rumah. Ketika sampah diklasifikasikan sejak awal, maka proses pengelolaannya akan lebih efisien dan dapat mengurangi beban volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Gerakan keempat adalah habiskan makanan, mengingat data nasional menunjukkan bahwa 50-60 persen sampah di Indonesia merupakan sampah organik, termasuk sisa makanan. Dengan membiasakan diri menghabiskan makanan, masyarakat turut menekan volume sampah organik yang terbuang.

Gerakan kelima adalah komposkan sisa makanan. Sisa-sisa organik seperti potongan sayuran dan kulit buah dapat dijadikan kompos alami yang mampu menyuburkan tanah dan memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat. Menurut Berlianto, gerakan ini sangat mungkin dilakukan skala rumah tangga, sekolah, hingga komunitas.

“Diperlukan kesadaran kolektif dari masyarakat untuk mengurangi volume sampah harian. Kami sudah memasang baliho dan menyebarkan brosur terkait gerakan ini di sejumlah titik strategis kota,” ungkap Berlianto. Ia juga mengimbau warga memperhatikan jam buang sampah yang telah ditetapkan, yakni antara pukul 16.00 WIB hingga 07.00 WIB keesokan paginya.

Ia menyesalkan masih banyak warga yang membuang sampah di luar jam yang ditentukan. “Ini menyebabkan tumpukan sampah di beberapa TPS terlihat menumpuk saat siang hari. Kesadaran waktu membuang sampah juga bagian dari edukasi dan kedisiplinan warga terhadap kebersihan kota,” tambahnya.

Melalui penerapan lima gerakan sadar sampah dan kepatuhan pada aturan pembuangan, DLH berharap dapat menekan angka timbunan sampah harian Kota Palangka Raya yang kini mencapai rata-rata 140 ton per hari. Dalam jangka panjang, DLH menargetkan terwujudnya sistem pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis masyarakat demi mewujudkan Palangka Raya sebagai kota bersih, sehat, dan berwawasan lingkungan.

(Selasa, 29 Juli 2025/adminwkp)

Komentar