Perkebunan Sawit di Kalimantan Tengah Terus Berkembang, Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja dan Dongkrak Ekonomi Daerah

kelapa Sawit | Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat

PALANGKA RAYA – Provinsi Kalimantan Tengah dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki areal perkebunan kelapa sawit sangat luas dan terus berkembang secara signifikan. Kondisi geografis serta ketersediaan lahan yang memadai menjadi salah satu faktor pendorong ekspansi sektor perkebunan tersebut di hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota. Dinamika ekonomi yang timbul dari keberadaan sektor ini juga dinilai membawa dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dan struktur perekonomian daerah secara menyeluruh.

Hal tersebut ditegaskan oleh Dr. Ir. Rawing Rambang, M.P., selaku Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Tengah yang juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana Badan Usaha dan Aset Gereja Kalimantan Evangelis (GKE). Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa sektor kelapa sawit telah berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi regional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang menjadi sentra utama produksi sawit.

“Saat ini total luas areal perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah mencapai lebih dari 2,3 juta hektar dan tersebar hampir di seluruh kabupaten. Ini menjadikan sektor ini sebagai salah satu tulang punggung ekonomi provinsi,” kata Rawing Rambang, Senin (21/7/2025).

Dari total luasan tersebut, Kabupaten Kotawaringin Timur tercatat sebagai wilayah dengan areal perkebunan sawit terluas, yaitu lebih dari 450 ribu hektar. Diikuti oleh Kabupaten Seruyan yang mencapai 320 ribu hektar, serta Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Kapuas yang juga memiliki luas signifikan. Perkembangan tersebut bukan hanya berdampak pada angka produksi minyak sawit mentah (CPO), tetapi juga berdampak pada tingginya penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan data terbaru dari GAPKI Kalimantan Tengah, jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor perkebunan sawit di provinsi ini telah mencapai ratusan ribu orang. Angka ini mencakup pekerja tetap, pekerja musiman, serta tenaga operasional di unit pengolahan hasil sawit seperti pabrik kelapa sawit dan gudang penyimpanan.

“Ratusan ribu orang terserap dalam sektor ini, baik tenaga kerja lokal maupun dari luar daerah. Hal ini menunjukkan bahwa sektor sawit berperan penting dalam menciptakan peluang kerja dan secara langsung meningkatkan daya beli serta taraf hidup masyarakat di pedesaan,” tambah Rawing Rambang.

Menurutnya, sektor ini tidak hanya menghasilkan komoditas ekspor unggulan, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi lain seperti jasa transportasi, logistik, perdagangan lokal, serta industri pengolahan. Ia menilai bahwa kelapa sawit telah menciptakan rantai nilai ekonomi yang luas dan inklusif.

Namun demikian, ia juga mengakui bahwa masih terdapat tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sektor perkebunan sawit, terutama terkait tumpang tindih lahan masyarakat dan perusahaan. Konflik agraria semacam ini dinilai masih kerap terjadi di lapangan dan memerlukan penanganan sistematis agar tidak menimbulkan dampak sosial yang berkepanjangan.

“Permasalahan yang sering muncul ialah tumpang tindih lahan masyarakat dengan lahan konsesi perusahaan. Untuk itu, pemerintah daerah telah membentuk Tim Penanganan Konflik Agraria berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014. Tim ini berperan dalam menyelesaikan konflik secara bersama dan mengedepankan solusi terbaik bagi semua pihak,” jelasnya.

Menurut Rawing Rambang, pendekatan dialogis dan partisipatif menjadi kunci dalam mengelola konflik lahan. Kolaborasi antara perusahaan, masyarakat adat, pemerintah desa, dan unsur penegak hukum diperlukan agar setiap sengketa diselesaikan melalui musyawarah dan mekanisme kelembagaan yang telah disepakati bersama.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas petani kelapa sawit rakyat, terutama dalam aspek manajemen kebun, akses pembiayaan, dan kualitas produksi. Ia mendorong agar kemitraan antara perusahaan dan petani plasma terus diperkuat untuk memastikan adanya transfer teknologi dan nilai tambah dari hulu ke hilir.

Secara ekonomi makro, kontribusi sektor perkebunan kelapa sawit terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Tengah sangat besar. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 19,1 persen terhadap PDRB provinsi tahun 2024, di mana sub-sektor kelapa sawit mendominasi lebih dari 40 persen dari kontribusi tersebut.

Di sisi lain, keberadaan pabrik pengolahan kelapa sawit di sejumlah kabupaten juga dinilai memberikan efek ekonomi yang besar. Pabrik tersebut tidak hanya menyerap tenaga kerja tetapi juga menjadi pusat distribusi produk turunan kelapa sawit seperti minyak goreng, sabun, mentega, serta bahan dasar industri kosmetik dan farmasi. Produk-produk ini telah menembus pasar nasional dan bahkan sebagian telah diekspor ke luar negeri.

Dr. Ir. Rawing Rambang, M.P. menyebut bahwa penguatan hilirisasi industri kelapa sawit di Kalimantan Tengah akan menjadi fokus strategis ke depan. Ia menilai bahwa transformasi dari ekspor bahan mentah menuju produk olahan harus dipercepat agar provinsi ini dapat menikmati nilai tambah yang lebih besar dari sektor andalannya.

Untuk menunjang upaya tersebut, ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan insentif fiskal dan kemudahan regulasi bagi investor yang ingin membangun industri pengolahan di wilayah Kalimantan Tengah. Di samping itu, perluasan kawasan ekonomi khusus dan pelabuhan ekspor juga menjadi elemen pendukung penting bagi keberhasilan program hilirisasi ini.

“Saya berharap pemerintah terus mendukung langkah-langkah akseleratif dalam membangun kawasan industri berbasis sawit. Karena ini bukan hanya tentang produksi, tetapi juga soal distribusi nilai ekonomi yang merata sampai ke akar rumput,” ujarnya menutup pernyataan.

Melihat perkembangan yang ada, sektor perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah menunjukkan prospek yang cerah dan berkelanjutan. Potensi lahan yang masih luas, dukungan infrastruktur, serta komitmen dari para pelaku usaha dan pemerintah menjadi modal penting untuk menjadikan Kalimantan Tengah sebagai pusat produksi dan pengolahan sawit terintegrasi di wilayah Indonesia bagian tengah.

(23 Juli 2025/adminwkp)


Komentar