CFD dan CFN Hidupkan Kota Palangka Raya, DPRD; Dorong Ekonomi dan Ruang Sosial Warga
PALANGKA RAYA – Keramaian Kota Palangka Raya semakin terasa dalam beberapa bulan terakhir seiring rutinnya pelaksanaan Car Free Day (CFD) dan Car Free Night (CFN) yang digelar di kawasan Bundaran Besar Talawang. Kegiatan yang menjadi titik temu warga ini kini menjadi magnet baru setiap Malam Minggu dan Minggu pagi, menghidupkan denyut aktivitas sosial, budaya, hingga perekonomian lokal.
Tak sekadar menjadi area bebas kendaraan bermotor, pelaksanaan CFD dan CFN menghadirkan ragam hiburan terbuka, pertunjukan seni, hingga sajian kuliner dari pelaku UMKM Kota Palangka Raya. Atmosfer ramai penuh antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan menjadi bukti tingginya partisipasi warga terhadap kegiatan yang telah menjelma sebagai ruang publik alternatif.
Menanggapi fenomena positif tersebut, H. M. Khemal Nasery, Anggota DPRD Kota Palangka Raya, mengimbau pemerintah kota untuk lebih serius dalam memperhatikan aspek pendukung penyelenggaraan kegiatan, terutama sarana prasarana serta kebersihan lingkungan sekitar kawasan Bundaran Besar. Ia menilai keberlangsungan kegiatan ini harus diselaraskan dengan strategi peningkatan ekonomi masyarakat.
“Kegiatan ini harus menjadi perhatian pemerintah daerah agar bisa diselaraskan dengan upaya meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Khemal Nasery, Selasa (22/7/2025).
Menurutnya, dukungan terhadap pelaku UMKM, penyediaan tempat berjualan yang layak, serta pengaturan lalu lintas dan kebersihan adalah aspek mendasar yang perlu dijaga agar kegiatan tidak hanya berlangsung ramai sesaat, tetapi juga berkelanjutan.
Sementara itu, warga Kota Palangka Raya, Riduan, mengapresiasi pelaksanaan CFD dan CFN yang menurutnya membawa suasana baru dalam kehidupan kota. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberi ruang lebih luas bagi masyarakat untuk bersantai, bersosialisasi, serta menikmati seni dan budaya lokal secara langsung.
“Selain bisa menikmati malam dan berbagai kuliner, warga juga bisa mengenal seni dan budaya lokal. Ini sangat menghibur sekaligus berdampak positif bagi ekonomi masyarakat,” ujar Riduan saat ditemui di arena CFD.
Dampak positif kegiatan ini juga dirasakan langsung para pelaku usaha mikro. Banyak di antara mereka yang mengaku mengalami lonjakan penjualan saat CFD dan CFN berlangsung, khususnya pada produk makanan, minuman, serta kerajinan lokal. Beberapa stand UMKM bahkan mencatat peningkatan omzet hingga 50 persen dibandingkan hari biasa.
Selain itu, CFD dan CFN juga kerap dimanfaatkan oleh komunitas olahraga, komunitas kreatif, hingga kelompok seni sebagai ajang promosi dan unjuk karya. Kegiatan senam massal, pertunjukan musik akustik, hingga pameran hasil karya remaja turut menghiasi suasana di kawasan bundaran, menambah semarak dan nilai edukatif pada setiap pelaksanaan kegiatan.
Namun demikian, sejumlah warga berharap agar pelaksanaan CFD dan CFN dapat terus dievaluasi dari sisi penataan ruang dan pengelolaan sampah. Penumpukan sampah sisa makanan dan kemasan plastik kerap terlihat di sejumlah titik selepas kegiatan berlangsung. Oleh sebab itu, keterlibatan petugas kebersihan serta kesadaran kolektif pengunjung menjadi penting dalam menjaga kebersihan ruang publik.
Pemerintah Kota Palangka Raya pun didorong untuk segera merancang regulasi atau panduan teknis penyelenggaraan CFD dan CFN yang berpihak pada UMKM, seniman lokal, dan pelaku komunitas, namun tetap menjaga ketertiban umum. Pengaturan jam operasional, titik akses masuk, serta distribusi lokasi berjualan menjadi elemen penting dalam mendukung ketertiban tanpa mengurangi esensi ruang sosial yang dihadirkan.
Dengan tata kelola yang matang dan pelibatan semua unsur masyarakat, CFD dan CFN berpotensi besar menjadi agenda wisata kota unggulan Palangka Raya. Selain memperkuat citra kota sebagai ruang hidup yang inklusif, kegiatan ini juga mendukung geliat ekonomi kerakyatan serta memupuk kebersamaan warga dalam suasana yang sehat dan produktif.
(23 Juli 2025/adminwkp)


Komentar
Posting Komentar