BMKG: Kalimantan Tengah Masuki Musim Peralihan, Waspadai Karhutla dan Petir Lokal

 Jenis Cuaca di Indonesia, Berikut Pengertian dan Karakteristiknya

Palangka Raya – Cuaca di wilayah Kalimantan Tengah diperkirakan mulai mengalami peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau pada pertengahan Juli 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tjilik Riwut Palangka Raya memperingatkan adanya potensi perubahan cuaca yang dapat berdampak pada peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta hujan lokal disertai petir dan angin kencang.

Prakirawan BMKG Renianata menyampaikan bahwa dalam sepekan ke depan, curah hujan di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah cenderung menurun dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini membuka peluang cuaca cerah berawan mendominasi, terutama di Kota Palangka Raya dan sekitarnya. Kondisi ini dinilai rentan terhadap munculnya titik api pada area-area lahan kering dan semak belukar. “Cuaca cerah berawan mendominasi dalam sepekan, sehingga masyarakat perlu mewaspadai risiko karhutla, khususnya di kawasan yang selama ini dikenal rawan kebakaran,” ujarnya, Selasa (15/7/2025).

Namun demikian, Renianata menambahkan bahwa pada tanggal 15 Juli dan hari-hari berikutnya, terdapat peluang terjadinya hujan lokal. Intensitasnya diperkirakan tidak terlalu signifikan, namun cukup untuk menimbulkan perubahan atmosfer secara lokal. Ia menyarankan masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan sesaat yang dapat disertai petir, kilat, dan angin kencang. “Walaupun curah hujan menurun, potensi hujan lokal tetap ada, dan ini sering kali diikuti gejala cuaca ekstrem berskala mikro seperti sambaran petir atau angin mendadak,” katanya.

BMKG juga mencatat bahwa Kota Palangka Raya sudah mulai memasuki periode transisi atau masa peralihan antara musim hujan dan musim kemarau. Dalam periode seperti ini, cuaca cenderung tidak stabil dan bersifat dinamis. Hal tersebut menjelaskan mengapa hujan masih dapat terjadi, meskipun tren utamanya mengarah ke kondisi lebih kering. “Puncak musim kemarau kami prediksi akan terjadi pada bulan Agustus 2025. Namun, hujan tetap bisa terjadi, karena musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali, hanya intensitas dan frekuensinya yang menurun,” jelasnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam beraktivitas di luar ruangan, khususnya petani, pekerja lapangan, dan masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan dan lahan terbuka. Penurunan curah hujan perlu disikapi secara bijak untuk mencegah terjadinya kebakaran yang dapat menimbulkan kabut asap dan gangguan kesehatan. Selain itu, masyarakat juga diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan.

(20 Juli 2025/adminwkp)

Komentar