Tahapan Pembangunan Kembali Gereja GKE Maranatha Dimulai Awal 2025
Gereja Maranatha, yang tahun lalu mengalami musibah kebakaran, akan memulai tahap pembangunan ulang pada awal tahun 2025. Hal ini sejalan dengan target Majelis Sinode (MS) Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) yang mengharapkan bangunan gereja sudah berdiri sebelum Sinode Umum pada bulan Juli 2026.
Ketua Majelis Jemaat (MJ) GKE Langkai selaku Ketua Majelis Resort GKE Palangka Raya, Pdt. Dr. Yuprinadie, S.Th., M.Th., menyatakan kesiapan pihaknya untuk menerima bantuan dan masukan dari berbagai pihak yang ingin berkontribusi, baik dari pemerintah, lembaga, maupun perorangan.
“Kami terbuka terhadap segala bentuk dukungan, baik berupa dana, tenaga, maupun ide, agar proses pembangunan ulang gereja ini berjalan lancar. Saat ini, panitia telah menyelesaikan seleksi desain bangunan Gereja Maranatha melalui sayembara. Prosesnya sudah memasuki tahapan penentuan pemenang. Setelah desain final terpilih, kami siap memulai pembangunan di awal tahun 2025,” ujar Pdt. Dr. Yuprinadie beberapa waktu lalu.
Panitia Pembangunan Gereja Maranatha sebelumnya mengadakan sayembara desain untuk menentukan bentuk bangunan baru yang akan menggantikan gereja lama. Dari hasil seleksi awal, lima karya desain telah terpilih. Proses seleksi ini selanjutnya mengerucut menjadi tiga besar yang akan diumumkan pada 14 Januari 2025.
Ketua Pembangunan Gereja GKE Maranatha, Dr. Ir. Rawing Rambang, M.P., yang juga menjabat sebagai Pengurus Badan Pelaksana dan Aset Majelis Sinode GKE, menyatakan bahwa panitia terus melakukan evaluasi selama menunggu pengumuman tiga desain terbaik.
“Kami menerima sejumlah masukan dari tokoh-tokoh GKE mengenai desain gereja. Beberapa hal penting, seperti kebutuhan fungsional dan aspek estetika yang mencerminkan kekhasan gereja, harus menjadi perhatian utama,” jelas Dr. Rawing Rambang.
Pembangunan ulang Gereja Maranatha diproyeksikan menelan biaya antara 10 hingga 15 miliar rupiah. Estimasi ini didasarkan pada ukuran bangunan yang direncanakan sama seperti gereja sebelumnya, belum termasuk perlengkapan ibadah yang harus diganti total akibat kebakaran.
Tahap awal pembangunan akan difokuskan pada pondasi dan struktur utama. Panitia Pembangunan berharap dukungan dari seluruh jemaat dan masyarakat luas, baik secara material maupun spiritual, agar setiap tahap dapat terlaksana sesuai jadwal.
“Kami juga ingin memastikan pembangunan gereja ini tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga memenuhi standar kualitas yang diharapkan. Gereja ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol kebangkitan iman jemaat,” tambah Dr. Rawing.
Gereja Maranatha Palangka Raya memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat kegiatan rohani bagi jemaat GKE di wilayah tersebut. Kebakaran yang melanda tahun lalu menjadi momen menyakitkan, tetapi juga memunculkan solidaritas di antara jemaat dan masyarakat.
Pdt. Dr. Yuprinadie mengungkapkan optimismenya bahwa semangat gotong royong akan menjadi kekuatan utama dalam proses pembangunan ini.
“Semoga gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah yang megah, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kerja sama yang kuat di antara kita semua,” ujarnya.
Selain bantuan dari jemaat lokal, panitia juga berharap dukungan dari pemerintah daerah, lembaga keagamaan, dan para donatur. Dengan demikian, pembangunan Gereja Maranatha tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi melibatkan seluruh elemen masyarakat yang peduli.
Majelis Sinode GKE telah menetapkan target ambisius agar bangunan gereja selesai sebelum Sinode Umum pada Juli 2026. Ini berarti, proses pembangunan harus berjalan secara efisien dan terencana, tanpa mengorbankan kualitas maupun estetika bangunan.
“Penting bagi kami untuk menjaga transparansi dalam setiap tahapan pembangunan. Setiap donasi yang diterima akan kami pertanggungjawabkan secara terbuka kepada jemaat dan pihak-pihak yang mendukung,” kata Dr. Rawing.
Pembangunan ulang Gereja Maranatha diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi gereja sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol harapan baru bagi jemaat GKE di Palangka Raya. Dengan dimulainya tahap awal pada awal tahun 2025, seluruh pihak yang terlibat optimistis bahwa target waktu yang ditetapkan dapat tercapai.


Komentar
Posting Komentar