Ritual Tiwah Hindu Kaharingan di Palangka Raya: Hujan Sebagai Restu Alam
Tabuh kedua dalam Ritual Tiwah Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berlangsung di tengah hujan deras yang turun sejak pagi. Bagi masyarakat Dayak, hujan ini diyakini sebagai pertanda restu dari alam untuk proses pengantaran arwah leluhur menuju Lewu Tatau, tempat peristirahatan terakhir.
Meskipun hujan mengguyur, semangat peserta ritual tetap berkobar. Dengan payung tradisional dan pakaian khas Dayak yang berwarna-warni, umat Hindu Kaharingan khusyuk melantunkan doa dan mantra, mengiringi arwah menuju alam keabadian. Tabuhan gong, gendang, dan kenong yang menjadi ciri khas menggema di bawah guyuran hujan, menciptakan suasana mistis dan sakral yang terasa semakin mendalam. Bagi masyarakat Dayak, hujan juga melambangkan simbol penyucian dan pembaruan.
Menurut Ketua Majelis Besar Hindu Kaharingan, Drs. Wartel S Penyang, hujan saat upacara merupakan berkah. Ia mengungkapkan, "Seakan alam turut serta membersihkan jalan bagi arwah yang akan melanjutkan perjalanan ke tempat yang damai." Pada Kamis, 31 Oktober 2024, ia menjelaskan bahwa ritual Tiwah akan berlanjut hingga tabuh ketiga, di mana prosesi penempatan tulang-belulang leluhur ke dalam Sandung akan dilakukan.
Ritual Tiwah merupakan wujud nyata penghormatan dan pengabdian masyarakat Hindu Kaharingan kepada leluhur. Selain itu, ritual ini juga berfungsi sebagai pengingat bagi generasi muda untuk melestarikan adat dan tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang. “Tiwah adalah bentuk bakti kami kepada leluhur. Kami percaya bahwa melalui ritual ini, arwah akan menemukan ketenangan dan dapat menyatu dengan para leluhur lainnya di tempat yang mulia,” tambahnya.
Dengan penuh rasa hormat dan keyakinan, masyarakat Dayak terus melestarikan tradisi Tiwah sebagai simbol penghormatan abadi kepada leluhur dan kebanggaan atas warisan budaya yang berharga. Ritual ini bukan hanya sekadar seremoni, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga identitas dan melestarikan nilai-nilai budaya yang telah ada sejak lama. Melalui proses ini, diharapkan nilai-nilai luhur dalam masyarakat Dayak dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang (wmp/011124).



Komentar
Posting Komentar