Pertalite Jadi Bahan Bakar Favorit di Palangka Raya, Harga Mulai Rp 10.000/Liter: Keunggulan dan Dampaknya bagi Masyarakat
![]() |
| Ilustrasi |
Pertalite semakin menjadi pilihan utama masyarakat Kota Palangka Raya untuk kebutuhan bahan bakar sehari-hari. Dengan harga yang relatif terjangkau mulai dari Rp 10.000 per liter, Pertalite dinilai memberikan efisiensi yang baik bagi berbagai jenis kendaraan, terutama sepeda motor dan mobil pribadi yang umum digunakan oleh masyarakat. Di tengah tingginya mobilitas warga, khususnya para pekerja dan mahasiswa, pilihan bahan bakar ini menawarkan sejumlah keunggulan yang membuatnya menjadi favorit di berbagai SPBU.
Menurut salah satu petugas SPBU di Jalan Rajawali, penggunaan Pertalite yang semakin meningkat tidak lepas dari aspek efisiensi dan biaya. “Sebagian besar pelanggan kami lebih memilih Pertalite karena dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan bahan bakar jenis lain, mereka bisa mendapatkan performa yang cukup baik untuk kendaraan mereka. Ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat Palangka Raya yang mayoritas menggunakan kendaraan pribadi untuk mobilitas sehari-hari,” ujar petugas tersebut.
Salah satu keunggulan utama dari Pertalite adalah harga yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar beroktan lebih tinggi, seperti Pertamax. Dengan harga Rp 10.000 per liter, Pertalite menjadi opsi yang menarik untuk masyarakat kelas menengah yang menginginkan bahan bakar yang hemat biaya namun tetap memberikan performa yang baik pada kendaraan. Petugas SPBU tersebut menjelaskan bahwa banyak pelanggan yang menyebut Pertalite lebih ekonomis untuk perjalanan sehari-hari, terutama bagi mereka yang harus menempuh jarak jauh atau berkendara dalam frekuensi tinggi.
“Pertalite cocok untuk mereka yang mobilitasnya tinggi, seperti ojek online atau pekerja yang menggunakan sepeda motor. Dengan harga yang lebih murah, mereka bisa berhemat tanpa harus mengorbankan kinerja mesin. Pertalite sudah cukup baik untuk penggunaan harian,” katanya. Bahan bakar ini diketahui memiliki angka oktan 90, yang dinilai cukup untuk kendaraan umum dan memberi efisiensi bahan bakar yang baik di mesin kendaraan yang digunakan sehari-hari.
Pilihan masyarakat untuk menggunakan Pertalite juga berdampak secara ekonomis, terutama di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Bagi masyarakat Palangka Raya yang mengandalkan kendaraan pribadi, biaya bahan bakar menjadi salah satu pengeluaran yang signifikan. Dengan memilih Pertalite, mereka dapat mengurangi pengeluaran harian sehingga dapat mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan lain.
“Banyak masyarakat yang datang dan mengaku lebih nyaman menggunakan Pertalite karena harganya lebih bersahabat. Ini sangat membantu masyarakat berpenghasilan rendah yang memang harus bijak dalam mengatur pengeluaran, terutama untuk kebutuhan transportasi,” jelas petugas SPBU tersebut. Menurutnya, daya beli masyarakat terhadap Pertalite masih cukup stabil, meskipun harga bahan bakar mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.
Namun, meningkatnya penggunaan Pertalite juga membawa dampak lingkungan yang perlu diperhatikan. Karena kandungan oktannya lebih rendah dibandingkan Pertamax, Pertalite menghasilkan emisi gas buang yang lebih tinggi. Kendati lebih ekonomis, emisi gas buang ini berpotensi memperburuk kualitas udara dalam jangka panjang, terutama di kota-kota yang tingkat penggunaannya tinggi.
Petugas tersebut juga menyebutkan bahwa meskipun ada tantangan dalam hal emisi, mayoritas pelanggan lebih memilih faktor ekonomis daripada dampak lingkungan. “Saat ini, masyarakat lebih mengutamakan harga yang terjangkau. Namun, kami tetap mengingatkan untuk merawat kendaraan mereka secara rutin agar emisi tetap terkendali,” jelasnya. Menurutnya, edukasi tentang perawatan kendaraan yang baik penting agar masyarakat tetap bijak dalam menggunakan bahan bakar ini tanpa mengorbankan kualitas udara.
Dengan tingginya minat masyarakat terhadap Pertalite, beberapa warga berharap agar harga Pertalite dapat stabil dalam jangka panjang. Mereka khawatir bahwa kenaikan harga yang tiba-tiba dapat mengganggu keuangan keluarga yang bergantung pada pengeluaran transportasi. “Masyarakat tentu berharap agar Pertalite tetap terjangkau. Selama ini harga yang relatif stabil membuat Pertalite jadi pilihan utama,” tambah petugas tersebut.
Ia juga menyampaikan bahwa stabilisasi harga Pertalite dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus memastikan keberlanjutan ekonomi lokal. Petugas SPBU ini berharap agar pemerintah mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan dampak ekonomi jika terjadi perubahan harga yang signifikan pada Pertalite.
Pertalite saat ini menjadi bahan bakar favorit di Kota Palangka Raya karena harganya yang terjangkau dan performa yang cukup baik bagi kendaraan harian. Meskipun memiliki tantangan dari sisi lingkungan akibat emisi yang lebih tinggi, masyarakat tetap memilihnya karena kebutuhan ekonomis yang mendesak. Harapannya, harga Pertalite dapat terus stabil untuk mendukung daya beli masyarakat, terutama di masa-masa ketidakpastian ekonomi seperti sekarang. Di sisi lain, edukasi mengenai penggunaan dan perawatan kendaraan yang baik akan semakin penting agar masyarakat bisa tetap bijak dalam memanfaatkan Pertalite sebagai pilihan utama mereka.



Komentar
Posting Komentar