Mengapa Pensil Mulai Jarang Digunakan di Perkuliahan dibandingkan masa SMA/SMK?

Ilustrasi

Di era digital yang semakin berkembang pesat, berbagai alat tulis tradisional seperti pensil mulai jarang digunakan, terutama di lingkungan perkuliahan. Dulu, pensil merupakan alat yang sangat penting bagi mahasiswa untuk mencatat, menggambar, dan bahkan mengerjakan ujian. Namun, belakangan ini pensil seakan semakin ditinggalkan oleh banyak mahasiswa, yang lebih memilih alat tulis lainnya seperti pulpen atau bahkan perangkat digital. Mengapa fenomena ini terjadi? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami berbicara dengan salah satu alumni Universitas Kristen Palangka Raya (UKPR), Kristian, yang memberikan pandangannya tentang peralihan ini.

Kristian, seorang alumni Fakultas FISIP di UKPR, mengungkapkan bahwa penggunaan pensil di perkuliahan semakin berkurang seiring dengan perkembangan teknologi dan kebiasaan baru di kalangan mahasiswa. Menurutnya, meskipun pensil masih digunakan dalam beberapa konteks, seperti untuk menggambar atau ujian yang membutuhkan penghapusan, alat tulis lainnya, seperti pulpen dan pena tinta, mulai lebih banyak dipilih oleh mahasiswa.

"Saya rasa, saat saya kuliah dulu, banyak teman-teman yang lebih sering menggunakan pulpen daripada pensil. Terutama untuk menulis catatan selama kuliah. Pensil memang masih digunakan, terutama untuk ujian atau gambar, tetapi kebanyakan orang sudah beralih ke pulpen karena lebih praktis dan lebih cepat," kata Kristian.

Salah satu alasan utama mengapa pensil semakin jarang digunakan di perkuliahan adalah kenyamanan dan kemudahan yang ditawarkan oleh pulpen. Pulpen memiliki keunggulan dalam hal kecepatan menulis dan kemudahan dalam membuat tulisan yang jelas dan permanen. Sementara itu, pensil memerlukan pengasahan secara berkala dan tulisan yang dibuat bisa hilang jika terhapus secara tidak sengaja.

"Pulpen lebih praktis karena kita tidak perlu repot-repot mengasahnya seperti pensil. Selain itu, banyak dosen juga lebih memilih mahasiswa untuk menulis dengan pulpen karena tulisan yang lebih jelas dan tidak mudah hilang. Pensil memang bagus untuk beberapa keperluan, tetapi kalau hanya untuk menulis catatan kuliah, pulpen lebih efisien," jelas Kristian.

Selain peralihan ke pulpen, ada faktor lain yang turut berperan dalam mengurangi penggunaan pensil di perkuliahan, yaitu kemajuan teknologi digital. Saat ini, banyak mahasiswa yang lebih memilih mencatat menggunakan perangkat elektronik seperti laptop, tablet, atau smartphone. Aplikasi pencatatan digital, seperti Microsoft OneNote, Evernote, dan Google Docs, memudahkan mahasiswa untuk menyusun catatan, membuat presentasi, dan bahkan berkolaborasi dengan teman-teman mereka dalam satu dokumen secara real-time.

"Pada masa saya kuliah, meskipun masih banyak yang menggunakan alat tulis manual, semakin banyak teman saya yang beralih menggunakan laptop atau tablet untuk mencatat. Dengan menggunakan perangkat digital, mereka bisa lebih cepat mengedit catatan mereka, menambahkan gambar atau grafik, bahkan langsung menyinkronkan catatan mereka ke cloud. Itu jauh lebih efisien," ujar Kristian.

Kristian menambahkan bahwa penggunaan perangkat digital tidak hanya mempermudah proses mencatat, tetapi juga mendukung kebutuhan mahasiswa yang semakin bergantung pada sumber daya digital, seperti e-book, jurnal online, dan presentasi berbasis multimedia. Dengan akses yang mudah ke berbagai referensi, mencatat menggunakan perangkat digital menjadi pilihan yang sangat praktis.

Meskipun pensil mulai jarang digunakan untuk mencatat, tidak dapat dipungkiri bahwa pensil masih memiliki tempatnya dalam kegiatan perkuliahan, terutama dalam hal ujian dan menggambar. Dalam ujian, khususnya ujian yang menggunakan sistem lembar jawab komputer (LJK), pensil masih diperlukan karena sifatnya yang dapat dihapus dan diperbaiki dengan mudah. Hal ini membuat pensil menjadi pilihan utama untuk ujian-ujian semacam ini.

"Saya masih menggunakan pensil untuk ujian, terutama yang berkaitan dengan LJK. Itu memang menjadi kewajiban, karena pensil lebih mudah dihapus jika ada kesalahan. Tapi di luar itu, saya jarang sekali menggunakan pensil untuk kegiatan perkuliahan sehari-hari," jelas Kristian.

Selain itu, bagi mahasiswa yang mengambil jurusan yang membutuhkan keterampilan menggambar atau desain, pensil masih sangat dibutuhkan. Dalam mata kuliah desain grafis, seni rupa, atau arsitektur, pensil tetap menjadi alat utama yang digunakan untuk sketsa dan perancangan awal.

"Bagi mahasiswa seni atau arsitektur, pensil masih sangat penting. Mereka harus menggambar sketsa dengan presisi tinggi dan sering kali harus mengoreksi gambar mereka, yang lebih mudah dilakukan dengan pensil. Tapi untuk yang tidak terlibat dalam bidang tersebut, pensil memang semakin jarang dipakai," tambah Kristian.

Di luar faktor teknologi dan alat tulis praktis, kebiasaan dan budaya kerja mahasiswa juga memainkan peran besar dalam peralihan dari pensil ke pulpen atau perangkat digital. Dalam lingkungan perkuliahan yang semakin kompetitif, mahasiswa cenderung mencari cara yang paling efisien untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan mereka. Mengingat banyaknya tugas yang memerlukan deadline ketat, menulis menggunakan pulpen atau perangkat digital memungkinkan mereka untuk bekerja dengan lebih cepat dan tidak terhambat oleh kebutuhan untuk mengasah pensil atau menghapus kesalahan tulisan.

"Budaya kerja di kampus juga mempengaruhi pilihan alat tulis. Banyak teman saya yang memilih pulpen karena mereka merasa lebih cepat dalam menulis catatan, apalagi dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Pensil, dengan semua kerumitan yang ada, sepertinya sudah mulai tertinggal," ujar Kristian.

Fenomena menurunnya penggunaan pensil di perkuliahan di Kota Palangka Raya, khususnya di Universitas Kristen Palangka Raya, mencerminkan perubahan zaman yang semakin digital dan praktis. Meskipun pensil masih digunakan dalam konteks tertentu seperti ujian dan gambar, dominasi penggunaan pensil mulai tergeser oleh pulpen dan perangkat digital yang menawarkan kemudahan, efisiensi, dan kepraktisan yang lebih tinggi.

Bagi banyak mahasiswa, terutama mereka yang terbiasa dengan teknologi, pensil mungkin dianggap sebagai alat tulis yang lebih lambat dan kurang efisien. Meskipun demikian, pensil tetap memiliki tempatnya dalam beberapa disiplin ilmu dan konteks perkuliahan. Dalam hal ini, meskipun tren penggunaan pensil menurun, alat tulis ini belum sepenuhnya hilang dari dunia perkuliahan.

Komentar