Mengapa Banyak Mahasiswa dan Masyarakat di Kota Palangka Raya Lebih Memilih Pertalite Dibandingkan Pertamax untuk Perjalanan Jarak Jauh?

Ilustrasi

Mudik menjadi tradisi yang sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa dan warga Kota Palangka Raya. Namun, dalam mempersiapkan perjalanan jarak jauh, banyak pengendara di kota ini cenderung memilih bahan bakar jenis Pertalite dibandingkan Pertamax. Keputusan ini tidak hanya didasarkan pada harga, tetapi juga berbagai faktor lain yang mencerminkan kebutuhan, kebiasaan, dan kondisi ekonomi masyarakat.

Dari pengamatan di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Palangka Raya, terlihat antrean panjang kendaraan, terutama roda dua dan roda empat, di jalur pengisian Pertalite. Para pengguna yang mayoritas adalah mahasiswa dan keluarga muda ini mengungkapkan alasan mengapa mereka lebih memilih Pertalite, terutama selama musim mudik yang identik dengan perjalanan panjang.

Alasan utama yang paling sering dikemukakan oleh pengguna Pertalite adalah harganya yang lebih terjangkau dibandingkan Pertamax. Sebagai bahan bakar bersubsidi, Pertalite memiliki harga yang jauh lebih rendah, sehingga lebih ramah di kantong, terutama bagi mahasiswa yang memiliki anggaran terbatas.

“Kalau pakai Pertamax untuk perjalanan jauh, biayanya pasti lebih besar. Sebagai mahasiswa, kami harus mengatur pengeluaran agar lebih efisien, apalagi untuk mudik yang biayanya sudah cukup banyak,” ujar seorang mahasiswa yang sedang mengisi Pertalite di SPBU Jalan Yos Sudarso.

Dalam perjalanan jarak jauh, pengendara membutuhkan volume bahan bakar yang lebih besar, sehingga selisih harga antara Pertalite dan Pertamax menjadi signifikan. Misalnya, dengan harga selisih Rp 2.000–3.000 per liter, penggunaan Pertalite untuk jarak ratusan kilometer bisa menghemat hingga puluhan ribu rupiah.

Selain harga, ketersediaan Pertalite juga menjadi faktor penentu. Sebagian besar SPBU di jalur mudik menyediakan Pertalite dalam jumlah besar, sehingga pengendara tidak perlu khawatir kehabisan stok di tengah perjalanan.

“Kami lebih yakin pakai Pertalite karena hampir semua SPBU di jalur mudik menyediakannya. Kalau pakai Pertamax, kadang di daerah tertentu stoknya habis atau tidak tersedia, jadi lebih merepotkan,” ungkap seorang pengemudi roda empat yang akan mudik ke Banjarmasin.

Kemudahan akses ini menjadi pertimbangan utama bagi pengendara yang ingin memastikan perjalanan mereka berjalan lancar tanpa harus mencari SPBU yang khusus menyediakan Pertamax.

Sebagian besar kendaraan yang digunakan oleh mahasiswa dan masyarakat di Palangka Raya adalah kendaraan keluaran lama atau kelas menengah, yang mesinnya dirancang untuk bekerja optimal dengan bahan bakar oktan rendah hingga sedang, seperti Pertalite.

“Kendaraan saya keluaran lama, dan selama ini pakai Pertalite tidak pernah ada masalah. Kalau ganti ke Pertamax, takutnya malah tidak cocok dan boros,” ujar seorang pengendara sepeda motor.

Penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan menjadi pertimbangan penting untuk menghindari kerusakan atau performa mesin yang menurun selama perjalanan jauh.

Pilihan bahan bakar juga dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan Pertalite untuk aktivitas sehari-hari. Banyak pengendara merasa tidak perlu mengganti jenis bahan bakar hanya karena akan menempuh perjalanan jauh.

“Saya sudah biasa pakai Pertalite, jadi untuk mudik pun tetap pakai ini. Kalau ganti ke Pertamax, malah takut boros karena belum pernah coba,” ungkap seorang pengendara yang akan mudik ke Pangkalan Bun.

Pola konsumsi ini mencerminkan bahwa masyarakat cenderung memilih opsi yang sudah dikenal dan dipercaya, terutama dalam situasi yang memerlukan efisiensi waktu dan biaya.

Kondisi ekonomi masyarakat Palangka Raya, terutama mahasiswa dan keluarga dengan penghasilan menengah ke bawah, menjadi salah satu alasan utama memilih Pertalite. Meski Pertamax menawarkan kualitas yang lebih baik, banyak warga menganggap perbedaan harga yang cukup signifikan tidak sebanding dengan manfaat yang dirasakan, terutama untuk perjalanan jauh.

“Pengeluaran untuk mudik sudah besar, mulai dari makan, penginapan, sampai oleh-oleh. Jadi, lebih baik menghemat di bahan bakar dengan pakai Pertalite,” ujar seorang mahasiswa yang sedang bersiap mudik ke Sampit.

Bagi sebagian besar masyarakat, biaya bahan bakar menjadi salah satu komponen pengeluaran utama selama mudik, sehingga memilih opsi yang lebih murah dianggap sebagai langkah praktis untuk mengurangi beban finansial.

Pilihan masyarakat Palangka Raya, terutama mahasiswa dan keluarga muda, untuk menggunakan Pertalite saat mudik bukan hanya soal harga, tetapi juga soal kebiasaan, ketersediaan, dan kondisi kendaraan. Dalam situasi ekonomi yang masih menantang, efisiensi biaya menjadi prioritas utama, meskipun harus mengorbankan beberapa aspek seperti kualitas pembakaran atau dampak lingkungan.

Fenomena ini mencerminkan realitas bahwa kebijakan subsidi BBM masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Di sisi lain, edukasi tentang manfaat bahan bakar berkualitas tinggi perlu ditingkatkan agar masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih bijaksana dalam jangka panjang.

Komentar