Masyarakat Kota Palangka Raya Mulai Beralih ke Transaksi Cashless: Tren, Alasan, dan Dampaknya

Ilustrasi

Dalam beberapa tahun terakhir, tren penggunaan transaksi non-tunai atau cashless semakin diminati oleh masyarakat Kota Palangka Raya. Dari warung kopi di pinggir jalan hingga pusat perbelanjaan besar, metode pembayaran menggunakan aplikasi dompet digital, kartu debit, hingga fitur QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kian menjadi pilihan utama. Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku dalam cara masyarakat mengelola keuangan mereka. Namun, apa yang sebenarnya mendorong masyarakat beralih dari uang tunai ke transaksi cashless?

Salah satu alasan utama masyarakat mulai meninggalkan uang tunai adalah kepraktisan yang ditawarkan oleh transaksi cashless. Dengan hanya menggunakan ponsel pintar atau kartu debit, masyarakat dapat membayar barang dan jasa tanpa perlu repot membawa uang tunai dalam jumlah besar.

"Sekarang semuanya lebih praktis, tinggal scan QR pakai aplikasi dompet digital. Tidak perlu ribet mencari kembalian," ujar Andi, seorang pedagang makanan ringan di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya.

Kepraktisan ini juga dirasakan oleh pembeli seperti Siti, seorang mahasiswa Universitas Palangka Raya. "Saya sering lupa membawa uang tunai, tapi selama ada saldo di dompet digital, saya tetap bisa membeli kebutuhan harian," katanya.

Pesatnya perkembangan teknologi digital di Palangka Raya juga menjadi pendorong utama meningkatnya minat terhadap transaksi non-tunai. Pemerintah dan lembaga keuangan secara aktif mendukung penggunaan QRIS yang memungkinkan transaksi lintas platform. Dengan QRIS, masyarakat hanya membutuhkan satu aplikasi dompet digital untuk bertransaksi di berbagai toko atau penyedia layanan.

Bank Indonesia bahkan mencatat peningkatan signifikan jumlah pengguna QRIS di Kalimantan Tengah, khususnya di Palangka Raya, dalam tiga tahun terakhir. Fasilitas ini juga didukung oleh penyedia layanan internet yang semakin terjangkau dan stabil di berbagai wilayah kota.

Transaksi cashless juga dinilai lebih aman dibandingkan membawa uang tunai. Dalam kasus kehilangan ponsel, saldo di dompet digital masih bisa diamankan dengan menggunakan kata sandi atau otentikasi dua faktor. Hal ini membuat masyarakat merasa lebih nyaman dan tidak khawatir menjadi sasaran pencurian.

"Saya tidak pernah lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar. Semua transaksi saya lakukan melalui aplikasi. Lebih aman dan terkontrol," ujar Rahman, seorang karyawan swasta di Palangka Raya.

Berbagai penyedia layanan dompet digital dan kartu debit sering menawarkan diskon atau cashback kepada pengguna. Promosi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk beralih ke metode pembayaran non-tunai.

Misalnya, beberapa kafe di Palangka Raya memberikan potongan harga hingga 50% bagi pelanggan yang membayar menggunakan QRIS. Selain itu, ada juga program loyalitas yang memungkinkan pengguna mendapatkan poin yang bisa ditukar dengan berbagai hadiah menarik.

Pandemi COVID-19 turut memengaruhi percepatan adopsi teknologi pembayaran cashless. Selama pandemi, masyarakat didorong untuk meminimalkan kontak fisik, termasuk dalam bertransaksi. Hal ini membuat penggunaan uang tunai menurun drastis.

Kini, meskipun pandemi telah mereda, kebiasaan yang terbentuk selama masa tersebut tetap bertahan. Penggunaan cashless bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup modern di Palangka Raya.

Pemerintah Kota Palangka Raya juga turut mendorong masyarakat untuk menggunakan transaksi non-tunai, terutama dalam pembayaran layanan publik. Beberapa instansi pemerintah mulai menyediakan opsi pembayaran dengan QRIS, seperti dalam pembayaran pajak daerah dan retribusi.

Selain itu, berbagai bank lokal dan nasional aktif mengedukasi masyarakat tentang manfaat transaksi cashless melalui seminar dan kampanye digital. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang lebih melek teknologi dan efisien dalam pengelolaan keuangan.

Namun, di balik popularitasnya, adopsi transaksi non-tunai di Palangka Raya masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan akses terhadap teknologi di wilayah pinggiran kota atau pedesaan. Beberapa masyarakat juga masih enggan beralih karena merasa lebih nyaman menggunakan uang tunai.

"Meskipun banyak yang sudah menggunakan QRIS, masih ada pelanggan yang lebih memilih bayar tunai, terutama yang sudah berusia lanjut," ungkap Maya, seorang pemilik toko kelontong.

Meningkatnya penggunaan transaksi cashless di Palangka Raya tidak hanya memberikan kemudahan bagi masyarakat, tetapi juga membawa dampak positif bagi perekonomian lokal. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin terdigitalisasi, sehingga dapat menjangkau pelanggan lebih luas. Selain itu, transparansi transaksi juga membantu pelaku usaha mengelola keuangan dengan lebih baik.

"Dulu saya tidak punya catatan yang rapi soal pendapatan harian, tapi sekarang semuanya tercatat otomatis di aplikasi," kata Joko, seorang pedagang makanan kaki lima.

Pergeseran dari uang tunai ke transaksi cashless di Kota Palangka Raya mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman. Dengan dukungan infrastruktur teknologi yang semakin baik, edukasi yang terus dilakukan, serta manfaat nyata yang dirasakan, tren ini diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang.

Namun, penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk memastikan inklusivitas teknologi ini agar semua lapisan masyarakat dapat menikmatinya, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil. Sebab, transformasi menuju masyarakat digital yang sepenuhnya hanya dapat terwujud jika tidak ada yang tertinggal.

 

Komentar