Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Palangka Raya Kunjungi Toko Kerajinan Tangan Pak Wahyono di Pasar Besar untuk Studi Lapangan Mata Kuliah Manajemen Pemasaran

Mahasiswa Prodi Manajemen dari FEB Universitas Palangka Raya Lakukan Kunjungan dan Wawancara ke Toko Kerajinan Tangan Dayak bersama salah satu pemilik Toko

Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Pemasaran, mahasiswa dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Palangka Raya, melakukan kunjungan studi lapangan ke toko kerajinan tangan milik Pak Wahyono yang terletak di Jalan Batam, Pasar Besar Palangka Raya. Kunjungan ini diikuti oleh sembilan mahasiswa, yakni Anggi Riantika, Bayu Aji Pramudia, Choudias Rehuel, Christofer Eka A. Narang, Deprianson Saputra, Esa Malisa, Jessyca, Muhammad Afrizal, dan Yazid Noor Syabani. Rombongan mahasiswa tiba tepat pada pukul 12.30 WIB dan langsung disambut hangat oleh Pak Wahyono, pengelola sekaligus pemilik toko.

Pak Wahyono, seorang pengusaha lokal yang dikenal luas oleh masyarakat setempat, memiliki usaha kerajinan tangan khas Dayak yang berfokus pada produk anyaman. Toko ini menawarkan berbagai produk unik yang mengusung ciri khas budaya Dayak, mulai dari tikar, tas, topi, hingga aksesoris dekoratif lainnya. Semua produk ini dirancang dan dibuat secara manual oleh pengrajin lokal, dengan bahan-bahan alami seperti rotan, bambu, dan daun pandan yang diolah dengan teknik tradisional. Menurut Pak Wahyono, salah satu tujuan utamanya adalah mempertahankan nilai budaya suku Dayak sekaligus mempromosikan kearifan lokal kepada masyarakat luas.

Christofer Eka A. Narang ketika melakukan Sesi Wawancara bersama Wahyono, Salah Satu pemilik Usaha Kerajinan Tangan Khas Dayak Kalteng, belum lama ini

Kunjungan ini bukan hanya sebagai bagian dari tugas perkuliahan, tetapi juga sebagai kesempatan belajar yang memberikan pemahaman lebih mendalam tentang strategi pemasaran yang digunakan oleh para pengusaha mikro, khususnya dalam pemasaran produk-produk berbasis budaya lokal. Mahasiswa yang datang diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara langsung dengan Pak Wahyono, yang dengan antusias berbagi cerita mengenai perjalanan bisnisnya, tantangan yang dihadapinya, serta cara-cara yang ia lakukan dalam memasarkan produknya di tengah persaingan pasar modern.

Pak Wahyono menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam memasarkan produk kerajinan lokal adalah kurangnya pemahaman masyarakat akan nilai seni dan nilai budaya dari produk-produk tradisional ini. Selain itu, adanya persaingan dari produk modern dan murah juga menjadi hambatan tersendiri. Untuk mengatasi hal ini, ia mengadopsi strategi pemasaran yang cukup sederhana namun efektif, seperti memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produknya kepada pelanggan yang lebih luas serta bekerja sama dengan komunitas dan pemerintah setempat untuk ikut serta dalam pameran produk lokal.

“Melalui media sosial, saya bisa menjangkau pelanggan di luar Palangka Raya, bahkan beberapa kali ada pembeli dari luar pulau yang tertarik dengan kerajinan tangan khas Dayak ini,” ujar Pak Wahyono kepada mahasiswa yang hadir. Ia juga menyampaikan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk kampus, untuk memperkenalkan budaya Dayak lebih luas lagi.

Salah satu mahasiswa, Christofer Eka A. Narang, berdasarkan informasi kepada Warta Kota Palangka Raya menyampaikan bahwa kunjungan ini memberikan wawasan yang berharga mengenai tantangan yang dihadapi oleh usaha mikro dan kecil (UMKM) dalam memasarkan produk mereka. “Kami jadi lebih memahami bagaimana strategi pemasaran yang efektif dapat membantu memperkuat posisi produk lokal di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif. Belajar langsung dari pengusaha seperti Pak Wahyono memberikan kami perspektif nyata tentang ilmu yang kami pelajari di kelas,” ungkapnya.

Selain melakukan wawancara, para mahasiswa juga berkesempatan melihat langsung proses pembuatan kerajinan tangan di bengkel kerja yang berada di belakang toko. Mereka terkesima dengan ketelatenan dan keahlian para pengrajin yang bekerja dengan alat-alat sederhana namun mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi. Mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mencoba menganyam, meski dengan waktu yang terbatas, sebagai pengalaman langsung tentang betapa rumitnya pembuatan produk-produk tersebut  menambahkan bahwa pengalaman melihat langsung proses produksi menumbuhkan apresiasi yang lebih besar terhadap nilai seni dari kerajinan Dayak. “Kami melihat bahwa selain kualitas, ada nilai seni yang tinggi dan makna budaya yang dalam di setiap produk yang dihasilkan. Pengalaman ini menginspirasi kami untuk lebih mendalami strategi pemasaran yang dapat membantu pengrajin lokal agar tetap eksis dan dikenal luas,”

Kunjungan lapangan ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara mahasiswa, Pak Wahyono selaku pemilik usaha. Pak Wahyono menyampaikan harapannya agar generasi muda lebih banyak yang tertarik untuk mempelajari budaya dan seni kerajinan tradisional. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Universitas Palangka Raya yang telah mendukung usaha lokal melalui program-program akademik seperti ini.

Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilakukan di masa mendatang sebagai bentuk dukungan nyata terhadap usaha lokal serta sebagai upaya pelestarian budaya daerah. Para mahasiswa pun berharap agar pengalaman ini dapat menjadi bekal dalam karier mereka nanti, khususnya dalam bidang manajemen pemasaran yang memerlukan pemahaman tentang dinamika pasar dan strategi pemasaran yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

Komentar