Mahasiswa FEB Manajemen Angkatan 2023 Berhasil Pertahankan Nilai IP di Atas 3,80an: Begini Tips Manajemen Belajarnya

Ilustrasi

Keberhasilan akademik adalah dambaan setiap mahasiswa. Namun, mencapainya bukanlah hal yang mudah. Hal ini terbukti dari perjalanan salah satu mahasiswa Program Studi Manajemen Kelas D Angkatan 2023 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang berhasil menunjukkan performa luar biasa dalam akademiknya. Tidak pernah mendapatkan nilai C pada setiap tugas dan ujian, serta mempertahankan Indeks Prestasi (IP) di atas 3,80, mahasiswa ini menjadi inspirasi bagi rekan-rekan seangkatannya.

Keberhasilan ini tentu bukan hasil dari keberuntungan semata. Dengan strategi belajar yang terorganisasi, mahasiswa ini mampu memanfaatkan waktu dan sumber daya yang ada secara maksimal. Lantas, apa saja tips manajemen belajar yang diterapkan sehingga mampu meraih prestasi akademik yang gemilang? Berikut ulasan lengkapnya.

Salah satu kunci keberhasilan mahasiswa ini adalah disiplin dalam mengikuti jadwal belajar yang sudah disusun. Ia memanfaatkan kalender mingguan untuk mengatur waktu belajar, menyelesaikan tugas, dan mengulang materi kuliah. Jadwal ini dibuat fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan situasi yang tidak terduga, tetapi tetap terstruktur sehingga semua tugas dan materi dapat terselesaikan tepat waktu.

“Ketika membuat jadwal, penting untuk memprioritaskan tugas yang mendesak dan mempersiapkan materi yang akan diuji. Dengan cara ini, saya bisa menghindari belajar mendadak yang hanya akan membuat saya stres,” ujarnya saat berbagi pengalamannya.

Teknik Pomodoro menjadi salah satu metode belajar yang diterapkan. Metode ini melibatkan fokus belajar selama 25 menit diikuti dengan istirahat singkat selama 5 menit. Setelah empat sesi belajar, mahasiswa ini akan beristirahat lebih lama, sekitar 15-30 menit. Teknik ini terbukti membantu menjaga konsentrasi dan mencegah kejenuhan selama belajar.

Menurutnya, teknik ini sangat efektif, terutama ketika harus membaca literatur yang tebal atau menyelesaikan analisis kasus yang membutuhkan perhatian mendalam. Dengan membagi waktu belajar menjadi interval pendek, mahasiswa ini mampu menyelesaikan tugas tanpa merasa kewalahan.

Mahasiswa ini dikenal aktif dalam sesi diskusi kelas dan selalu berusaha untuk memahami materi secara mendalam. Aktivitas ini tidak hanya membantu dirinya memahami materi lebih baik tetapi juga memperkuat hubungan dengan dosen dan teman-teman sekelas. Melalui diskusi, ia bisa mendapatkan perspektif baru yang sering kali membantu menjawab soal-soal kompleks di tugas dan ujian.

Selain itu, ia juga terbiasa mencatat poin-poin penting dari setiap perkuliahan, baik secara manual maupun menggunakan aplikasi digital seperti OneNote atau Evernote. Dengan cara ini, catatan kuliahnya selalu rapi dan mudah diakses kapan saja.

Sumber belajar tidak hanya berasal dari buku teks atau materi yang diberikan dosen. Mahasiswa ini sering mencari referensi tambahan dari artikel jurnal, video pembelajaran di YouTube, hingga platform seperti Coursera atau EdX. Referensi tambahan ini memperluas wawasannya dan membantu dalam memahami konsep yang sulit.

“Kadang materi di kelas belum cukup menjelaskan secara mendalam, jadi saya cari tahu sendiri dari sumber lain. Saya juga sering bertanya kepada dosen atau teman yang lebih paham jika ada yang belum jelas,” tambahnya.

Kebiasaan menunda-nunda adalah musuh utama produktivitas. Mahasiswa ini berusaha menyelesaikan tugas sesegera mungkin setelah diterima. Ia percaya bahwa menyelesaikan tugas lebih awal memberikan waktu ekstra untuk merevisi atau memperbaiki kesalahan.

“Ketika tugas sudah selesai lebih awal, saya punya kesempatan untuk mengecek ulang apakah ada kesalahan. Kalau menunggu mendekati tenggat waktu, biasanya hasilnya kurang maksimal karena terburu-buru,” jelasnya.

Keseimbangan antara belajar dan istirahat juga menjadi prioritas. Ia menyadari bahwa tubuh dan pikiran yang lelah tidak akan mampu memberikan hasil maksimal. Oleh karena itu, ia memastikan untuk selalu tidur cukup, makan dengan gizi seimbang, dan menyempatkan waktu untuk berolahraga.

Selain itu, ia juga meluangkan waktu untuk hobi, seperti membaca buku non-akademik atau menonton film, sebagai cara untuk mengurangi stres dan menjaga keseimbangan emosional. Hal ini membantunya tetap fokus dan bersemangat ketika kembali ke aktivitas akademik.

Mahasiswa ini selalu menetapkan target yang spesifik untuk setiap semester. Target ini tidak hanya berupa IPK, tetapi juga mencakup aspek lain, seperti partisipasi dalam organisasi, menyelesaikan sertifikasi online, atau mengikuti kompetisi akademik. Dengan menetapkan target, ia memiliki motivasi yang jelas dan arah yang pasti dalam menjalani semester.

“Ketika punya tujuan yang jelas, saya jadi lebih semangat untuk mencapainya. Setiap kali saya merasa lelah, saya selalu ingat alasan mengapa saya memulai ini semua,” katanya.

Tidak semua tugas dan ujian berjalan sempurna. Namun, mahasiswa ini selalu berusaha untuk belajar dari kesalahan. Setiap akhir semester, ia melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dicapai dan apa yang masih perlu diperbaiki. Proses evaluasi ini membantu dirinya terus berkembang dan meningkatkan kualitas belajarnya di semester berikutnya.

“Saya selalu tanya ke diri sendiri, apa yang bisa saya lakukan lebih baik? Evaluasi ini penting agar saya tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan,” ujarnya

Di tengah tuntutan akademik yang tinggi, stres adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun, mahasiswa ini memiliki cara tersendiri untuk mengelola stres, seperti meditasi ringan, mendengarkan musik, atau berbincang dengan teman-temannya. Dengan cara ini, ia bisa menjaga pikiran tetap jernih dan fokus pada tugas-tugasnya.

Keberhasilan mahasiswa Program Studi Manajemen Kelas D Angkatan 2023 ini dalam mempertahankan nilai akademiknya bukanlah hasil instan. Ia membuktikan bahwa dengan konsistensi, disiplin, dan manajemen waktu yang baik, kesuksesan akademik dapat diraih. Tips-tips yang dibagikan tidak hanya relevan untuk mahasiswa FEB, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin meningkatkan performa akademik mereka.

Komentar