Maraknya Kecanduan Judi Online di Kalangan Siswa dan Mahasiswa Palangka Raya, Orang Tua dan Pemerhati Anak Khawatirkan Dampaknya

Ilustrasi

Fenomena kecanduan judi online kian mengkhawatirkan di kalangan siswa dan mahasiswa di Kota Palangka Raya. Akses yang mudah melalui perangkat ponsel dan godaan hadiah uang tunai membuat beberapa pelajar dan mahasiswa terjebak dalam permainan ini. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran yang serius dari para orang tua dan pemerhati anak, mengingat dampak negatif yang bisa ditimbulkan bagi perkembangan pendidikan, kesehatan mental, dan masa depan generasi muda. Menurut data yang dihimpun dari laporan beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Palangka Raya, terjadi peningkatan kasus siswa dan mahasiswa yang diketahui menghabiskan waktu dan uang untuk bermain judi online. Tak sedikit dari mereka yang rela mengorbankan uang saku, bahkan ada yang sampai meminjam dari teman, untuk melanjutkan permainan dengan harapan mendapatkan keuntungan. Namun, alih-alih mendapatkan keuntungan, banyak yang justru mengalami kerugian besar yang mempengaruhi kehidupan pribadi maupun akademis mereka.

Liane, seorang ibu dari siswa SMA di Palangka Raya, mengaku prihatin dengan situasi ini. Ia menyampaikan bahwa kemudahan akses internet di era digital ini perlu diiringi dengan pengawasan yang ketat dari orang tua dan pihak sekolah. "Saya khawatir anak-anak semakin mudah terpengaruh. Awalnya mungkin hanya coba-coba, tapi lama-lama bisa kecanduan. Orang tua harus lebih peka dan memperhatikan aktivitas anak-anak mereka di dunia maya," ujarnya. Dari sisi pendidikan, kepala salah satu sekolah di Palangka Raya menyampaikan bahwa judi online sudah berdampak pada prestasi akademik beberapa siswa. Para siswa yang kecanduan judi online cenderung kurang fokus pada pelajaran dan sering terlambat dalam mengumpulkan tugas. Hal ini tentunya berdampak negatif pada prestasi mereka. “Kami terus memberikan edukasi tentang bahaya judi online, tetapi tanpa dukungan penuh dari keluarga, upaya kami di sekolah tidak akan cukup,” ungkapnya.

Pemerhati anak dan remaja di Kota Palangka Raya, Taufik Ibraham, menyoroti bahaya psikologis dari kecanduan judi online pada usia remaja. Menurutnya, judi online dapat menyebabkan masalah kecemasan, stres, dan bahkan depresi jika tidak segera ditangani. “Anak-anak dan remaja belum memiliki kontrol emosional yang matang. Judi online menawarkan kesenangan instan, tetapi juga menghadirkan risiko besar berupa ketergantungan dan masalah emosional yang bisa mempengaruhi kehidupan mereka dalam jangka panjang,” jelas Taufiq.

Sebagai langkah penanggulangan, beberapa orang tua dan pemerhati anak di Palangka Raya mendesak agar pemerintah setempat segera mengambil tindakan tegas untuk mengatasi fenomena ini, seperti pengawasan yang lebih ketat terhadap akses situs judi online serta kampanye edukasi tentang bahaya judi. Pihak sekolah juga diharapkan dapat memberikan penyuluhan rutin dan menyediakan program konseling untuk siswa yang terindikasi mengalami masalah ini.

Selain itu diharapkan dapat melakukan sosialisasi dengan menggandeng pihak kepolisian dan lembaga terkait untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada siswa, mahasiswa, dan orang tua. Dengan adanya koordinasi dari berbagai pihak, diharapkan upaya pencegahan ini dapat melindungi generasi muda dari bahaya kecanduan judi online yang dapat merusak masa depan mereka.

Fenomena kecanduan judi online di kalangan pelajar ini menjadi peringatan bahwa perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan edukasi literasi digital dan kesadaran akan risiko yang mengintai. Upaya pencegahan yang terkoordinasi dari pemerintah, sekolah, dan keluarga sangat dibutuhkan agar generasi muda di Palangka Raya dapat tumbuh dengan sehat dan berfokus pada masa depan yang lebih cerah.

 

Komentar