Fenomena Sound “Jedag Jedug” dari TikTok Kian Digandrungi Mahasiswa dan Siswa di Kota Palangka Raya

Ilustrasi

Sound “Jedag Jedug” yang populer di aplikasi TikTok tengah menjadi fenomena baru di kalangan mahasiswa dan siswa di Kota Palangka Raya. Musik dengan irama beat cepat dan bass yang kuat ini banyak digunakan dalam video-video pendek yang menampilkan tarian, ekspresi diri, hingga konten humor. Kepopuleran sound ini bahkan merambah ke luar platform TikTok, sering didengarkan dalam kegiatan santai, kumpul-kumpul, hingga acara kampus dan sekolah, menjadikannya tren yang semakin digemari. Di kalangan mahasiswa, sound “Jedag Jedug” menjadi cara kreatif untuk berekspresi. Banyak mahasiswa yang menggunakannya dalam video challenge, parodi, hingga untuk menampilkan bakat tari mereka. Menurut Rina, seorang mahasiswa Universitas Palangka Raya, sound ini menawarkan nuansa yang berbeda dan menyenangkan. “Sound ‘Jedag Jedug’ bikin konten jadi lebih seru dan energik. Kami bisa berekspresi dengan bebas, terutama setelah jam kuliah selesai,” ungkapnya.

Tren ini juga merambah di kalangan siswa SMA dan SMP di Palangka Raya. Beberapa siswa mengaku sering menggunakan sound “Jedag Jedug” dalam video TikTok mereka untuk mengikuti tren yang sedang viral. Fani, seorang siswa SMA, mengungkapkan bahwa sound tersebut memberikan nuansa segar dan bisa membuat video lebih menarik. “Rasanya asyik kalau pakai sound ‘Jedag Jedug’. Kita bisa bikin video bareng teman-teman dan jadi bahan hiburan di sekolah,” ujarnya. Namun, fenomena ini juga menimbulkan kekhawatiran dari kalangan orang tua dan pendidik. Banyak dari mereka yang khawatir sound “Jedag Jedug” yang identik dengan beat musik elektronik keras dapat mempengaruhi konsentrasi dan produktivitas anak-anak di sekolah. Menurut Dr. Aminah, seorang psikolog pendidikan di Kota Palangka Raya, tren ini berpotensi mengalihkan perhatian siswa dari tugas akademik jika tidak dibatasi. “Sound yang memicu semangat berlebih seperti ini memang menyenangkan, tetapi bisa membuat siswa sulit untuk fokus pada belajar. Perlu ada pengaturan agar mereka tetap menggunakan media sosial secara sehat dan bijaksana,” jelas Dr. Aminah.

Di sisi lain, sekolah-sekolah di Palangka Raya juga mulai memberikan edukasi tentang literasi digital dan penggunaan media sosial yang positif. Pihak sekolah menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab akademik. "Kami tidak melarang siswa untuk mengikuti tren, tetapi mereka harus bisa memilah waktu untuk belajar dan hiburan. Dengan bimbingan yang tepat, mereka tetap bisa bersosialisasi tanpa mengabaikan tanggung jawabnya," ungkap seorang guru dari SMA Negeri 1 Palangka Raya. Fenomena sound “Jedag Jedug” ini juga menunjukkan bahwa TikTok kini memiliki pengaruh besar terhadap gaya hidup dan selera hiburan di kalangan remaja. Keberagaman konten di TikTok, yang mudah diakses dan diterima luas, membuat platform ini tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai media sosial yang menghubungkan remaja melalui tren-tren populer.

Di tengah antusiasme remaja Kota Palangka Raya terhadap sound “Jedag Jedug”, para orang tua dan guru diimbau untuk terus memantau dan membimbing aktivitas media sosial anak-anak mereka. Dengan pengawasan dan edukasi yang baik, fenomena ini bisa menjadi sarana positif bagi remaja untuk menyalurkan kreativitas tanpa mengabaikan pendidikan dan tanggung jawab mereka.

Komentar