Masyarakat Menengah ke Bawah dan Tantangan Harga Gas LPG 3 kg

Masyarakat menengah ke bawah merupakan pengguna umum gas LPG 3 kg, yang menjadi sumber energi vital bagi kehidupan sehari-hari mereka. Gas ini sering kali dipilih karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan dengan tabung gas yang lebih besar, seperti gas 12 kg. Namun, fakta ini tidak serta-merta menentukan apakah harga gas LPG 3 kg benar-benar terjangkau di pasaran. Kebutuhan pokok yang satu ini dapat mengalami lonjakan harga yang signifikan, bahkan sering kali dijual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Melansir dari berbagai sumber, ada beberapa faktor yang menyebabkan harga gas LPG 3 kg menjadi mahal dan tidak terjangkau bagi masyarakat kurang mampu.

PT. Pertamina (Persero) mengakui bahwa ada sejumlah tempat di mana harga gas LPG 3 kg atau Elpiji Subsidi melebihi tarif yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Fenomena ini tidak hanya terisolasi pada satu lokasi, melainkan terjadi di berbagai daerah, menunjukkan bahwa tantangan ini bersifat sistemik dan mempengaruhi banyak masyarakat di seluruh Indonesia. Apabila gas LPG 3 kg dipasarkan tanpa subsidi dari pemerintah, harganya dapat meroket jauh lebih tinggi. Dengan proyeksi bahwa nilai subsidi untuk LPG 3 kg akan mengalami pembengkakan dalam beberapa tahun mendatang, dampaknya terhadap masyarakat berpenghasilan rendah tentu menjadi semakin berat.

Pemerintah juga memprediksi adanya peningkatan konsumsi LPG di Indonesia pada tahun 2025. Namun, secara regulasi, berdasarkan Perpres nomor 104 tahun 2007, tidak terdapat pasal atau ketentuan yang melarang siapa pun untuk membeli gas LPG 3 kg bersubsidi. Dalam pasal 3 ayat 1 dijelaskan bahwa penyediaan dan pendistribusian LPG tabung 3 kg hanya diperuntukkan bagi rumah tangga dan usaha mikro. Dengan demikian, tidak jarang masyarakat yang memiliki kemampuan finansial lebih memilih untuk membeli gas 3 kg ini, karena secara ekonomi, mereka berupaya untuk mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah. Sesuai dengan prinsip ekonomi, individu atau masyarakat cenderung mencari barang yang harganya lebih rendah. Artinya, ketika ada beberapa produk yang serupa dengan harga yang berbeda, secara alami orang akan beralih kepada produk yang lebih terjangkau. Akibatnya, alih-alih memilih gas LPG yang lebih besar, seperti tabung 12 kg, banyak konsumen yang lebih memilih gas 3 kg.

Inilah salah satu penyebab mengapa harga gas LPG 3 kg menjadi mahal. Di tingkat pengecer, tingginya permintaan dari berbagai kalangan—tidak hanya masyarakat kurang mampu—menyebabkan barang ini dijual dengan harga yang sering kali melebihi HET. Kondisi ini menciptakan dilema bagi masyarakat menengah ke bawah yang sangat bergantung pada gas LPG untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Tanpa adanya solusi yang efektif untuk mengendalikan harga, masyarakat akan terus menghadapi kesulitan dalam mendapatkan akses yang layak terhadap sumber energi yang vital ini (wmp/23924).

Komentar