Disinyalir Tidak Ada Potensi Hujan, Cuaca Panas di Palangka Raya Picu Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan, BPBD Siaga Penuh
![]() |
| Ilustrasi Curah Hujan (Sumber Foto : Gramedia) |
Cuaca panas yang melanda Kota Palangka Raya sejak 12 September 2024 menyebabkan lahan-lahan di wilayah tersebut mengering, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini memicu kewaspadaan tinggi, terutama karena lahan yang kering sangat rentan terhadap kebakaran yang dapat dengan cepat menyebar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tjilik Riwut Palangka Raya sebelumnya telah mengeluarkan peringatan terkait cuaca sangat kering yang diperkirakan berlangsung dari tanggal 12 hingga 16 September 2024. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh Kota Cantik, sebutan untuk Palangka Raya, tetapi juga meluas ke wilayah Kalimantan Tengah.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Stasiun Tjilik Riwut, Anton Budiono, menyatakan bahwa meskipun tingkat kekeringan hanya mencapai satu hingga dua centimeter, risiko penyebaran api tetap tinggi. "Walaupun hanya satu sampai dua centimeter tapi sangat mudah penyebarannya. Kami prediksi selama seminggu ke depan sampai tanggal 16 September 2024, Kalimantan Tengah berpotensi cerah berawan, dan sebagian besar wilayah berwarna merah dalam peta peringatan kebakaran. Ini menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan cukup tinggi," jelas Anton.
Menanggapi kondisi cuaca yang rawan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Palangka Raya telah mengambil langkah antisipatif dengan mengerahkan seluruh personel dan relawan untuk melakukan pemantauan, pencegahan, serta penanganan karhutla. Plt Kepala Pelaksana BPBD Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi, A.P, M.A.P, menjelaskan bahwa sebagian besar kebakaran lahan di wilayah tersebut terjadi karena lahan yang dibersihkan tanpa pengawasan, sehingga api menjadi tidak terkendali dan menyebabkan kebakaran besar.
"Karhutla yang terjadi kebanyakan disebabkan oleh lahan yang sengaja dibersihkan kemudian tidak dalam pengawasan, sehingga api menjadi besar dan terjadilah kebakaran lahan. Rata-rata kebakaran di Palangka Raya terjadi di lahan masyarakat. Siapa pelaku pembakaran ini, apakah pemilik tanah atau orang lain, seringkali tidak diketahui," ujar Hendrikus. Ia juga menambahkan bahwa BPBD telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait bahaya membakar lahan tanpa pengawasan, mengingat besarnya risiko kebakaran yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat dan kerusakan lingkungan.
Meski kondisi saat ini masih terbilang sebagai kemarau basah, dengan hujan yang turun secara berkala di wilayah Kalimantan Tengah, bulan September cenderung didominasi oleh cuaca panas yang mempercepat pengeringan lahan. Menurut Hendrikus, hujan yang turun di beberapa kesempatan membuat lahan menjadi basah, sehingga mengurangi intensitas kebakaran hutan dan lahan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Namun, meskipun demikian, pihak BPBD tetap dalam kondisi siaga. "Kami terus bekerja sama dengan tim relawan dan pihak terkait untuk memastikan langkah pencegahan dan penanganan kebakaran lahan tetap berjalan maksimal," ungkap Hendrikus.
Dengan kondisi cuaca yang diperkirakan cerah dan berawan selama beberapa hari ke depan, BPBD Palangka Raya bersama dengan seluruh stakeholder terkait akan terus meningkatkan pengawasan dan patroli di area-area rawan kebakaran. Upaya ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kebakaran lahan yang meluas, serta untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Langkah-langkah preventif seperti ini diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi selama musim kemarau, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah yang terkenal dengan lahan gambutnya yang mudah terbakar. BPBD juga mengimbau masyarakat untuk melaporkan jika menemukan adanya aktivitas pembakaran lahan yang mencurigakan, sehingga tindakan cepat bisa diambil untuk mencegah kebakaran besar (wmp/16924).



Komentar
Posting Komentar